Thursday, June 18, 2015

Ramadhan dan sekitarnya

Rabu (17/6/2015) siang. Tak ada hujan atau pun pelangi, tak ada dingin hanya panas menjadi-jadi. Keringat tetap keringat yang tak perlu didramatisir seolah kristal. Pedal gas sepeda motor yang tampak menyusut cukup sebagai penanda bahwa tangan telah pegal. Di sebuah pengkolan tanpa traffic light yang umum disebut lampu merah, kumpulan penongkrong berkerumun membincangkan berbagai hal tanpa butuh menilisik ujung pangkal. 

Hari ini, otak dan hati bekerja dengan tak biasa. Otak coba menerka, hati tak sabar menanti hasil sidang isbat untuk menetapkan apakah esok hari pertama puasa. Ramadhan yang hadir setiap 12 bulan sekali tak ayal disambut dengan beragam cara dan euforia kerinduan. Selain soal ziarah, recent update blackberry massager, laman facebook dan twitter juga berisi tulisan tentang tradisi penyambutan Ramadhan dari berbagai daerah. Seperti balimau basomo dari Sumatera Barat, balimau kasai dari Riau, Dugderan Jawa Tengah, atau berbagai istilah dari daerah-daerah lainnya yang kian menyulut romantisme perantau di Jakarta. Ya, Ramadhan tidak hanya menghadirkan kerinduan ibadah, tapi juga rindu akan pelaksanaan tradisi-tradisi, panganan, atau pun aktifitas-aktifitas pengisi lainnya yang ditanamkan sejak belia. 

Saya tak memikirkan apa hasil sidang isbat sore nanti. Karena biasanya, hasilnya tidak akan bergeser dari tanggal yang telah dituliskan sejak akhir tahun lalu dan tertera jelas di kalender atau almanak. Saya tidak tahu dasar apa yang dipakai penyusun kalender dalam menetapkan 1 Ramadhan. Mungkinkah hilal dapat dilihat 7 bulan sebelum Ramadhan?

Saya ingat tentang marpangir atau mandi pangir. Tradisi kaum muslim Sumatera Utara dalam menyambut bulan puasa, dilakukan sehari sebelum hari pertama, tepatnya selepas waktu shalat ashar atau menjelang maghrib. Tradisi marpangir ini juga dilakukan warga Bagan Batu, kota terujung Provinsi Riau yang terdapat di Kabupaten Rokan Hilir. Tentu itu dilakukan oleh masyarakat yang berasal dari Sumatera Utara. 

Marpangir bukan sekedar mandi beramai-ramai ke sungai. Tapi, tubuh diguyur oleh air hangat yang dilengkapi dengan berbagai ramuan seperti pandan, daun jeruk, jeruk nipis, dan bunga pinang. Di beberapa Kabupaten lain ditambahi dengan ramun seperti bunga mawar atau lainnya. 

Jadi, ramuan itu direbus menjadi satu, airnya harus air yang telah ditanak lalu digunakan kembali untuk merebus ramuan. Usai direbus, jadilah air itu berarama harum dan meninggalkan wangi khas di rambut yang membuat kita tak akan ingin menghilangkannya dengan bau shampo. Karenanya, pangir baru diguyur ke seluruh tubuh di penghujung tahapan mandi atau sebagai penutup.

Konon, mandi pangir ini menjadi simbol membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci. Bahkan dalam anekdot-anekdot masa kecil, mandi pangir seolah wajib jika ingin puasanya terasa lebih lengkap. Ia seperti niat yang mengisyaratkan bahwa kita telah siap menyambut dan melaksanakan puasa. Dan, tradisi pangir tak pelak membuat rindu kampung.

"Aku terakhir mandi pangir ya SD lah genk," kata seorang teman bernama Thamrin (28 lebih) dalam kombur (bincang-bincang) menunggu sahur di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Aku juga terakhir waktu SD," kata mahasiswa bernama Jamak seraya menyeruput kopi.

"Aku lupa bang, kalau abang?" ujar Indang, mahasiswa BSI, sambil membuka bungkus makanan ringan. 

"Pokoknya sudah lama lah," jawab saya.

Selain soal pangir, persiapan lainnya yang dilakukan sebelum memasuki bulan puasa adalah membuat meriam bambu. Bambu yang berukuran besar kemudian digergaji sehingga panjangnya tinggal sekitar 5 ruas. Pembatas antar ruas lalu  dijebol hingga menyisakan pembatas pangkal. Sedangkan di ruas pangkal dibolongi dengan ukuran satu inci, bentuknya segi empat. Kemudian, minyak tanah dimasukkan ke dalam lobang kecil itu.

Untuk memainkan meriam bambu, dibutuhkan sumbu kain yang diikatkan di ujung kayu yang berukuran sedang. Sumbu itu dinyalakan dengan api lalu ditaruh di permukaan lobang untuk memancing minyak tanah agar panas. Setelah panas, sumbu yang menyala api itu cukup dijalankan melewati lobang hingga menimbulkan suara yang keras, buuuum!!. 

Setiap sekali bunyi, lobang itu harus ditiup dahulu untuk mengeluarkan asap sisa letusan pertama. Setelah asap kosong, sumbu kemudian dijalankan kembali melewati permukaan lobang, buuum!, tak jarang alis mata sedikit terbakar jika kayu pemantik terlalu pendek. Meriam bambu ini biasa dimainkan menjelang sahur dan berbuka.

"Aku pernah terbakar alisku waktu main meriam bambu," tutur Thamrin.

"Aku sampai pecah meriam bambuku saking keras suaranya," Indang tak mau kalah.

Seiring perkembangan zaman dan bambu semakin sulit diperoleh, bahan dasar permainan ini berganti. Tidak lagi bambu, tapi terbuat dari susunan kaleng susu kemasan yang disusun dan direkatkan. Meriam bambu berubah nama menjadi meriam kaleng susu. Namun hasil bunyinya terdengar cempreng, lebih dominan suara trebel ketimbang suara ngebass seperti yang dihasilkan meriam bambu.

Obrolan terus berlanjut. Tidak ada suara jangkrik malam itu, hanya terdengar suara sepeda motor yang melintas. Terkadang terdengar santun, dan lebih sering knalpot meraung dengan brutal dan arogan. Perbincangan seperti kembali ke masa belasan atau puluhan tahun silam saat 1 USD masih Rp. 2.500, pahlawan layar kaca masih Unyil, Dragon Ball, Power Ranger dan Wiro Sableng. Sedangkan Naruto, Avatar, atau tokoh utama serial One Piece belum terlacak rimbanya dimana.

"Di kampungmu kalau malam 27 (Ramadhan) ramai nggak genk?," tanya Thamrin.

"Bah, semaraklah. Lilin berderet di halaman setiap rumah, ada yang ditaruh di bunga pagar, di dahan pohon jambu, di bunga. Obor-obor dinyalakan, pokoknya mantaplah!. Kalau kampungmu?," saya memaparkan cerita semarak.

"Ya ramai juga, tapi kenapa malam 27 ramainya ya?" Thamrin kembali bertanya.

"Ya sekalian nunggu laillatulqodar,"

"Lailatulqodar kan malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir," Thamrin kian penasaran.

"Ya konon lebih kuatnya di malam 27,"

"Kok bisa?," Thamrin memberondong pertanyaan seolah menginterogasi.

"Karena ada 9 jenis huruf yang dipakai (tiga huruf 'L' dihitung satu, dan tiga 'A' dihitung satu juga), terus pengucapannya 3 kali, lai latul qodar, jadi 3 x 9 kan 27," jawabku sekenanya.

"Hahahaha" seluruh jamaah penanti sahur tertawa.

"Suka-sukamu genk," ujar Thamrin dengan nada tak rela dikacangin.

Jamuan sahur berangsur terhidang. Tema kerinduan tradisi dan romantisme aktivitas Ramadhan pun terhenti. Seluruh kami pun menyantap sahur, memasuki Ramadhan tanpa marpangir dan meriam bambu. Semaraknya malam 27 seperti di kampung pun tak mungkin dirasakan, sebab akan disibukkan dengan persiapan mudik, yaitu musim kembalinya orang-orang udik ke udiknya masing-masing. Yang tak punya udik tidak akan pernah merasakan nikmatnya euforia mudik. Wallahu A'lam.










No comments:

Post a Comment