Saturday, June 27, 2015

Liburan dalam Perspektif Mahasiswa


Memoar Pendaki Nyentrik Bernama Imam Syafi'i

Menjelang long weekend awal Mei lalu, Jumat tanggal merah Hari Buruh, saya teringat indahnya liburan masa kuliah yang durasinya bisa mencapai hampir dua bulan. Tentu sangat kontras dengan dunia kerja yang hanya dapat libur Sabtu-Minggu. Tanggal merah di hari Jumat atau Senin merupakan suatu anugerah, sebab hari libur menjadi tiga hari. Maka wahai mahasiswa yang berasal dari bangsa manusia, pergunakanlah jatah liburanmu yang panjang itu dengan seasyik-asyiknya sebelum direnggut dunia kerja. Nah, agar nuansa kampus kian terasa, tulisan ini saya beri judul 'Liburan dalam Perspektif Mahasiswa', agar seperti makalah-makalah mata kuliah.

Bulan Juli tahun 2009, kami mendapat keindahan ganda. Tidak hanya karena liburan kuliah, tapi juga saat itu beasiswa DIPA sebesar Rp.1.200.000 cair. Alhasil, saya, Imam Syafii dan Rochyat Cionk berencana berangkat ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mendaki Gunung Rinjani, dana dari beasiswa itu dirasa cukup untuk bekal perjalanan yang kami perkirakan akan mencapai sebulan. Selain kami, seorang adik kelas bernama Nelan Maroqi juga ikut dalam pendakian itu.

Menjelajahi pulau Jawa, Lombok, dan Bali ini, masing-masing kami mengeluarkan Rp.700.00 untuk segala macam biaya dan keperluan selama perjalanan. Uang itu dikumpulkan jadi satu sehingga totalnya Rp.2.100.00.

Pada hari yang disepakati, kami berkumpul di kosan Fei di Kampung Utan. Hari berangsur siang. Tapi mendadak Ciong membatalkan rencana karena tak dapat restu dari orangtua. Sebagai ungkapan rasa bersalahnya yang tak jadi ikut, dia membelikan tenda untuk perjalanan kami. 

"Sorry wak. Ni udah gua beli tenda, biar tidur lu di Rinjani nyaman, make  tenda baru" kata Cionk seraya tertawa kecil.

"Bukan soal tenda barunya, kan kita pengennya bisa bareng-bareng naik sesuai rencana," Ujar Fei. Cionk terdiam.

"Kalau cuma 3 atau 4 hari, dapat ijinnya sih gampang. Bapakku nggak ngijinin kalau sebulan Dham, Wak," Cionk terlihat lesu.

"Nggak bisa dilobi lagi orangtuamu, Onk?. Kasih alasan apa kek, ngomong ikut rombongan jamaah tabligh kek, dikasih ijin entar tuh," saya memberi saran sekenanya.

"Ah gila kau hahhaha. Nggak ah, udah, berangkat aja kalian, cepat cepat," ucap Cionk seperti 'mengusir' kami untuk segera pergi. Padahal itu kosannya Fei.

Matahari sudah melintasi titik pusatnya. Terik jatuh tepat di atas ubun-ubun. Mega tipis tak mampu menghalangi sinar surya agar sedikit lebih teduh. Awan mendung bersembunyi entah dimana. Kami berdiri melingkar, menggelar doa senyap yang tampak seperti mengheningkan cipta. Langkah pun dimulai.

*****

Riuh dan sibuk melanda Stasiun Kereta Api, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Deru mesin Ojeg, sepeda motor, bajaj, taksi, angkot, bus kota hingga mobil pribadi hilir mudik silih berganti. Sahut-menyahut laksana orchestra tanpa dirjen utama. Mengalun sesuka-hati sopir menarik pedal gas yang membuat mesin berirama. 

Kami baru saja turun dari Bus besar 76. Sebesar Rp.6000 kami keluarkan untuk biaya angkut dari Ciputat hingga ke Stasiun antar kota dan provinsi se-pulau Jawa itu. Manusia yang hendak berangkat dan baru tiba berjubel. Penuh sesak. Selaras dengan calo tiket yang bergentayangan mencari mangsa. Calo merupakan makhluk nyata namun susah ditebak keberadaannya hingga mereka bersedia menampakkan wujud dengan sendirinya. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat makhluk gaibnya. Meski tak tampak kasat mata, tapi dapat meraibkan dompet dan isi tas secara tiba-tiba. Geraknya sangat jarang tertebak. Tapi hukuman jalanan akan mendera makhluk itu bila aksinya tertangkap tangan. Dia adalah copet.

Loket pembelian karcis dibangun di depan pintu masuk utama. Kereta untuk jalur utara dan selatan dipisahkan. Namun panjangnya antrian yang tampak mengular itu seperti berloma adu banyak jumlah pengantri. Kami salah satunya. Baru lima menit kami masih ke garis antrian, namun puluhan manusia sudah berbaris di belakang kami. Berdesak untuk tujuan yang sama. Selembar kertas yang disebut karcis. 

Hidup tidak boleh licik. Tapi manusia dituntut untuk menggunakan kecerdasannya guna mengatasi permasalahan yang dihadapi. Maka, seperti orang yang tiba-tiba bisa berlari kencang dan memanjat pohon pagar karena sedang dikejar anjing, kami pun mendapat ide bagus. Yaitu bergantian masuk ke antrian. Fei dan Nelan istirahat saat saya sedang mengantri. Kemudian bergilir dan begitu seterusnya. Memang, pencerahan selalu datang ketika dalam kondisi terdesak. Layaknya cacing yang tak bisa berjalan kencang di atas tanah terbuka, namun bisa lincah saat berada di dalam tanah. maka, setelah hampir satu jam kami berperang melawan bau keringat, akhirnya kami berhasil mendapatkan kertas keramat yang memiliki stempel resmi PT KAI itu. Maaf calo, anda tak kebagian rejeki dari kami.

Stasiun Senen terbagi menjadi dua bagian, selatan dan utara yang dipisahkan 5 lajur rel kereta. Ada lorong bawah yang diperuntukkan bagi penumpang untuk menghubungkan dua bagian stasiun yang dibangun pada era penjajajahan kolonial belanda itu. Hanya penumpang yang memiliki karcis saja yang dapat melintas. Penjagaan tampaknya ketat. Namun bukan rahasia lagi, selalu ada saja warga yang dilabeli secara sepihak sebagai 'orang yang tidak berkepentingan' bisa lolos. 

"PriiiIittt"

"Kasih jalan untuk yang turun duluan, kasih jalan untuk yang turuan duluan," kata petugas berulang-ulang saat kereta dalam kota baru tiba.

"Cepat, cepat, cepat!,"

"Priiiiiiit"

Sejurus kemudian kereta listrik itu melaju. Saya dan Fei duduk di bangku tunggu. Nelan bergerak membeli kopi dan minuman ringan. Yaitu minuman yang beratnya tak lebih dari 1/2 kilogram. Tujuan kami adalah Surabaya. Sebab tak ada kereta yang langsung ke Banyuwangi yang merupakan ujung Pulau Jawa untuk menyeberang ke Bali. Kereta ke Surabaya berangkat pukul 16.20 WIB. Setengah jam kemudian kereta kami tiba, dan melaju meninggalkan Jakarta yang selalu sibuk.

Indonesia sebagai salah satu negara yang meraih rangking penduduk terbanyak di dunia tampak jelas di dalam gerbong kereta ekonomi. Bordes antar gerbong dipenuhi manusia yang berdiri berhimpitan. Lorong jalan di setiap gerbong juga disesaki jubelan manusia. Belum lagi pedagang asongan, pengamen, pengemis yang tak henti-hentinya silih berganti kian mematahkan data statistik bahwa kemiskinan dalam negeri menurun. Kondisi memprihatinkan dapat dilihat saat malam mulai menjalar. Kolong kursi kereta dan toilet di setiap gerbong menjadi sasaran penumpang menjadi tempat tidur. Johan Galtung menyebutnya dengan kekerasan struktural, sosiolog mengatakan ketimpangan sosial. Pemerintah mengkategorikan mereka sebagai rakyat pra sejahtera. Kami pun tidur bergantian.

Tengah malam, kereta berhenti di Stasiun Tegal. Para pedagang asongan langsung menyerbu dan merangsek, sementara sebagain para penumpang juga ingin turun. Suasana semrawut tak terelakkan.

"15 menit 15 menit," kata para pedagang memberi tahun durasi istirahat.

Saya dan Fei turun dari kereta, untuk sekedar menghirup udara segar dan kopi hangat. Jarak kami dengan pintu gerbong sekitar 20 meter. Baru sekitar tiga kali kami menyeruput kopi, tiba-tiba kereta berangkat, menyalahi jadwal biasanya yang mencapai 15 menit. Tak pelak, para penumpang yang di luar saling berebut naik, sedangkan lebar pintu tak sampai 1.5 meter. 

Saya di deretan 'antrian' paling belakang, Fei dengan sigap langsung berhasil naik. Dia berdiri di pinggir pintu. Tinggal saya, laju kereta berangsur semakin kencang. Fei mengulurkan tangannya.

"Lompat wak lompat. Cepaaat!" Fei berteriak sok histeris.

"Susah wak," jawabku sambil memutar otak.

"Itu (di penyambung antara gerbong bagian luar) ada kabel besar tu, kaki kirimu pijakkan disitu,"

"Kuat nggak kau?," kataku setelah tangan kananku berhasil menyambar tangan Fei. Sementara tangan kiri bertumpu pada pegangan di dinding gerbong. Ku angkat kaki ke kabel besar yang menjuntai itu, Fei langsung menarik sekuat-sekuatnya ke dalam. Aku selamat, Rinjani masih jauh. Kereta terus melaju.

Tak terhitung berapa kali kami terbangun, tertidur, terbangun dan tertidur lagi sepanjang perjalanan malam. Saat matahari telah menyembul, pemandangan desa dan hamparan sawah tampak indah. Pukul 08.00 WIB kami tiba di stasiun Pasar Turi, Surabaya, Jawa Timur. Untuk menghemat pengeluaran, kami berjalan kaki menuju stasiun kota yang menyediakan kereta untuk tujuan Banyuwangi pada pukul 14.00 WIB siang nanti.

"Baterei kamera kayaknya kurang nih wak," kata ku ke Syafei saat kami telah tiba di Stasiun Kota. "Kita beli satu lagi yok," 

Nelan ditugasi menjaga barang. Saya dan Fei menyusuri kota Surabaya. Tapi semua pertokoan tutup. Kami baru sadar bahwa sekarang adalah hari minggu. Hanya mall yang tebuka, tapi saat kami menenanyakan harga Baterei di salah satu ruko ponsel di mall itu, harganya ternyata mencapai Rp.200.000. Terlalu mahal. Akhirnya urung dibeli.

Kami kembali merasakan sempitnya bordes atau penghubung antar gerbong yang disesaki manusia. Jika dari Jakarta ke Surabaya kami berdiri selama 14 jam, Surabaya-Banyuwangi hanya ditempuh sekitar 7 jam. Tapi berdesakan, keringat, dan berbagai macam bau aneh tak dapat dihindarkan. Masyarakat ekonomi bawah terpaksa merasakan ketidak-nyaman fasilitas pemerintah.

*****
Yang terlintas dalam benak saya ketika menginjakkan kaki di Stasiun Banyuwangi adalah cerita pembunuhan dan pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh melakukan praktik ilmu hitam, seperti santet dan tenung pada kurun bulan Februari hingga Agustus 1998 lalu, menyeramkan, mungkin masih menjadi teka-teki hingga kini. Tapi, sudahlah. Liburan dan sejarah kelam merupakan hal yang berbeda.

Satu dekade sudah peristiwa sadis itu berlalu. Kami tak ada rasa ketakutan atau kekhawatiran saat menjejakkan kaki di Stasiun Kereta Api Banyuwangi saat jam menunjukkan sekitar pukul 20.00 WIB lebih. Jubelan penumpang turun dengan cepat, tak lama stasiun pun menjadi sunyi dari penumpang dan senyap. Hanya menyisakan kami dan beberapa penumpang lain. Kami buta kota ini. Petualang lokal seperti kami juga tak terbiasa membawa peta-peta kemana-mana. Kemudian, tak ada yang bisa diharapkan dari ponsel genggam jadul yang masih dalam format pholiphonik. Tak bisa mengakses peta. Sejumlah tukang becak dan ojeg menyerbu menawarkan jasa angkutan ke Pelabuhan Ketapang.

"Lumayan jauh ke pelabuhan. Capek kalau jalan kaki, lama. Naik becak saja," ujar tukang becak dengan logat jawa timur nan kental.

Jangan terlalu polos dan cepat percaya kepada orang yang baru dikenal, apalagi di kota atau tempat yang baru dijajal. Kami memegang teguh pedoman yang kami pelajari seiring kian banyaknya perjalanan atau pendakian yang kami tempuh.

"Maaf pak, kami mau cari makan dulu, lapar," ujarku memberi alasan sambil mengelus-elus perut.

Tukang becak dan ojeg pun mundur. Kami berjalan meninggalkan loby stasiun yang berjarak sekitar 50 meter dari Jalan Raya. Ada seorang warga yang berdiri menunggu jemputan.

"Pak, kalau mau ke pelabuhan naik apa ya?," tanya Fei. Bapak itu sejenak menatap kami dalam dan lekat.

"Kok naik apa, jalan kaki aja mas, itu kelihatan," ujarnya sambil mengarahkan telunjuk.

Kami menolehkan pandangan. Pelabuhan Ketapang tampak jelas di penglihatan. Jaraknya ternyata sangat sangat dekat. Kami mengumpat pelan, takut terdengar kelompok tukang becak dan ojeg yang menawarkan jasanya tadi.

Seperti menjelang puasa dan sesaat lagi akan bedug maghrib, kami melangkah terburu dengan perasaan senang ke arah pelabuhan. Kami membayar Rp.5.600 setiap orang dan langsung naik ke kapal yang sebentar lagi akan berlayar. Laut malam Banyuwangi terlihat mempesona. Kerlip lampu deretan kapal di area itu membiaskan cahaya ke air hingga menjadi kailauan indah.

Kami mengelilingi setiap sudut kapal. Kemudian memasan kopi sat lelah sambil diterpa angin laut yang dingin. 25 menit berlalu, kami tiba di Pelabuhan Gili Manuk, Bali. Baru kali pertama ini kami menginjakkan Bali, meskipun baru sebatas pelabuhan. Girang tak dapat dibantah.

Pemeriksaan di Bali sangat ketet. Setiap orang yang baru tiba, diperiksa identitasnya sebelum memasuki wilayah Bali lebih jauh.  KTP bagi warga negara Indonesia dan paspor bagi turis. Pos pemeriksaan itu berada di antara pelabuhan dan terminal bus. Sehingga tak ada yang dapat lolos sebab hanya itu jalan untuk keluar dari area pelabuhan. 

*****

Bus yang kami tumpangi dari Terminal Gili Manuk melaju saat pagi masih menunjukkan pukul 04.30 WITA. Gelap dan dingin. Tidak sampai setengah jumlah kursi yang ada penumpangnya. Di depan, di area ruangan supir, terdapat kembang dan janur yang disatukan ke dalam wadah. Sepertinya sesajen. Bus itu sering berhenti di tempat-tempat tertentu. Kenek langsung membawa sesajen turun, ada yang ditaruh di persimpangan jalan, bangunan tempat peribadatan dan sebagainya. Ketaatan awak bus itu membuatku kagum dan takjub.

Kami tak singgah untuk melihat-lihat Bali. Tapi langsung menuju pelabuhan Padang Bai untuk menyeberang ke Lombok dengan ongkos penyeberangan sebesar Rp.35.000. Kapal yang penumpangnya sebagian besar merupakan turis ini berlayar, mengarungi laut yang airnya tampak biru. Bersih. Menakjubkan. 

Sedangkan para turis, kebanyakan dari mereka tampak asyik membaca buku. Di bagian atas kapal, di ruang penumpang maupun di sudut lainnya. Sementara kami yang asli Indonesia, hanya ngopi dan ngerokok sembari menikmati pemandangan laut yang panoramanya indah.

Setelah dua jam berlayar, Tuhan kembali menunjukkan hal yang indah kepada kami. Ada kawanan lumba-lumba berlompatan lalu masuk ke dasar laut lagi, lompat dan masuk lagi hingga berlangsung hampir 10 menit. Kami sangat menikmati penampilan lumba-lumba, lebih indah dan alami dari yang hanya melompati lingkaran yang dijulurkan pemandu di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol.

Pelabuhan Lembar Lombok seperti tertutup gugusan tanah daratan yang menjorok ke laut. Kami sudah hampir tiba, tapi pelabuhan belum tampak. Kapal lalu memutar satu punggungan pantai lagi hingga bisa bersandar.  Unik. 

*****

Jika jangkauan pikiran manusia terbatas, maka pertolongan Tuhan sungguh tak terbatas. Bermula dari iseng mengabari kakak kelas di Fakultas Psikologi UIN, kami mendapat bantuan yang tak terduga. Namanya Rani. Aku dan Fei mengenalnya saat ikut pelatihan LK Himpunan Mahasiswa Islam pada akhir semester satu lalu. 

"Kalian udah di Lembar," kata Rani melalui sambungan ponsel genggam.

"Udah," jawab Fei.

"Istirahat aja dulu di warung di pelabuhan, aku suruh bapakku jemput kalian ya," Rani bukan menawarkan bantuan, tapi memaksa kami untuk menerima bantuan. Sungguh ini merupakan keterpaksaan yang indah dan menyenangkan.

"Siap kakak Rani yang cantik," ujar Fei sedikit menggodanya.

"Masak cuma cantik doang!," Rani menimpali.

"Oke deh, Kakak Rani cantik yang lebih tua dari kami hehehe," ucapnya lagi mencandainya.

"Siaaaaaall," dia mengucapkannya sambil tertawa yang kami yakini pipinya merona.

Tak ada tampak angkutan umum berupa bis menuju Kota Mataram. Hanya mobil-mobil pribadi yang supirnya silih berganti menawarkan dan membujuk kami. Dengan menggendong caril besar seperti ini memang sangat mudah dideteksi bahwa kami merupakan orang jauh yang ingin mendaki Gunung Rinjani. Ongkos ke Kota Mataram Rp.30.000 per orang. Tapi dengan bangga kami memberi alasan, 'sedang menunggu jemputan'.

"Bapak kakak udah menuju Lembar, dek. Kalian tunggu aja ya," Rani menelpon.

"Wah, aku nggak tahu harus apa ngomong apa, Kak. Kalau ucapan terima kasih itu bisa berbentuk kebahagiaan, pasti akan ku bahagiakan kau, kak," kataku menjawab Rani.

"Alaaah, jadi pintar gombal kau sekarang ya dek, siapa yang yang mengajarimu hah!," 

"Kalau terima kasih ini bisa berbentuk rindu, akan ku rindukan kau, kak," aku lanjut menggodanya.

"Awas ya dek, kakak tarik hidungmu entar kalau udah di Jakarta,"

"Kalau terima kasih ini bisa berbentuk cinta..," Belum selesai kalimatku, Rani langsung memotongnya.

"Hahahaa gayamu banyak banget. Udahlah, hati-hati kalian ya," Rani menutup pembicaraannya. Begitulah Rani, kakak kelas yang selalu ceria dengan irama tawa yang harmoni. 

*****

Malam di Pulau Lombok terasa dingin. Padahal letaknya tak jauh dari pantai. Musim kemarau yang melanda justru membuat cuaca menjadi dingin. Keluarga Rani sunguh baik dan ramah. Kami dijamu dengan pelayanan yang membuat kami menjadi sungkan.

Esoknya, saat hendak berangkat menuju gunung Rinjani. Kami juga dibekali beras, kerupuk kulit siap saji, dan lauk dari bahan daging. Aku lupa namanya. Jadi, daging yang telah direbus, dipotong halus-halus lalu dicampur dengan parutan kelapa yang telah diongseng. Bahkan, kami juga diberi setengah lusin rokok untuk pendakian dan diantar pula ke terminal bus kota Mataram hingga kami bus ukuran sedang jenis L 300 yang kami naiki melaju.

Di sebuah perempatan yang aku lupa namanya, kami turun. Rute bus tak searah dengan desa terakhir di kaki Gunung Rinjani. Dari perempatan itu, kami mendapat petunjuk untuk menumpang mobil pick up yang mengangkut warga. Tentu ini tidak gratis. 

Jalanan selanjutnya yang kami lalui adalah jalur menanjak. Pemandangan alam khas pedesaan terhampar. Persawahan, kebun sayur mayur, aliran air, pepohonan kelapa, terus menanjak dan menanjak. Sesekali kami terpaksa menutup wajah. Debu di aspal yang rusak berhamburan. Hingga mobil berhenti di ujung tanjakan.

Turun dari mobil, kali langsung terpana. Sebab di depan kami merupakan daerah seperti lembah di antara tiga gunung. Dua gunung rendah di sebelah kanan, dan gunung Rinjani di sebelah kiri. Sedangkan di tengahnya merupakan desa Sembalun, desa terakhir untuk mendaki Rinjani. Kami sudah tak sabar untuk segera tiba di pos informasi dan pendaftaran kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Sopir kembali naik ke singsasanya, pick up pun meluncur.

Ada dua jalur pendakian gunung setinggi 3.726 Mdpl ini. Selain Sembalun, bisa juga ditempuh dari Senaru. Dua jalur ini nantinya bertemu di Danau Segara Anak. Begitu informasi yang kami terima dari petugas gunung keesokan paginya sebelum berangkat. 

Kami bergabung dengan dua pendaki lain asal Magelang. Mereka lebih ekstrem, yaitu berboncengan mengendarai sepeda motor Honda Astrea Grand. Motor dengan kode plat AA itu dititipkan di pos informasi. Sebelum Rinjani, mereka sebelumnya telah mendaki gunung Agung di Bali. 

Jalur pendakian gunung Rinjani punggungan-punggungan yang ditumbuhi rumpt savana nan luas terhampar. Karena itu treknya terasa panjang dan melelahkan. Selain soal kemegahan kontur dan keindahan alam, gunung ini tampak istimewa dengan adanya wc manual di setiap pos peristirahatan. 

Kami tiba di pos Palawangan sekitar pukul 17.00 WIB. Palawangan merupakan area peristirahatan terakhir sebelum puncak. Dari sini, jalur dan puncak Rinjani tampak dengan hamparan pasirnya. Sedangkan saat melihat ke bawah kanan, Danau Segara Anak terlihat tenang tanpa riak. Beberapa saat kemudian, gumpalan awan turun, menutupi seluruh permukaan air. Danau Segara Anak berubah menjadi Danau Awan.

Kawan, jika kau mendaki Gunung Rinjani, maka persiapkanlah gembok untuk menutup tenda. Sebab di pos Plawangan ini monyetnya sungguh banyak dan bisa membuka tenda jika tak ditambahi dengan gembok. 

Namun sayang, kami harus mengelus dada dan bersabar. Puncak Rinjani dan Danau tak boleh disambangi. Sebab anak gunung Rinjani yaitu gunung Barujari sedang dalam kondisi yang tidak normal. Tiga orang petugas, salah satunya adalah TNI AD, sigap menjaga dan melarang pendaki yang nekat. Sepasang pendaki bule sempat nekat 'bablas' naik ke atas, tapi kemudian langsung dikejar oleh petugas.

Paginya, sunrise di Rinjani teramat indah. Sinar mentari yang tertutup awan menghadirkan kemilau indah dengan cahaya kekuningan. Kami tak kecewa meski tak bisa ke puncak. Sebab puncak bukanlah segalanya. Kesuksesan mendaki bukan tergantung bisa atau tidak meraih puncak, tapi selamat kembali pulang ke rumah.

Dari Sembalun kami kembali ke Kota Mataram lalu berlanjut pantai Senggigi. Dengan carier yang masih 'nangkring' di punggung, kami susuri pantai dari kawasan perahu-perahu nelayan yang siap melaut di petang itu. Sementara di sebelah kanan kami, Gunung Agung, Bali tampak indah menjulang diterpa mentari senja.

"Jadi, tragedi Bom Bali I dulu, bomnya itu dibawa dari sini naik perahu ke Bali," kata seorang nelayan. Entahlah.

Menjelang malam, kami menitipkan barang ke pos penjaga pantai, lalu bergabung dengan penduduk lokal, anak pantai, membakar ubi di pinggir pantai,hingga tengah malam dan dibawah sinar purnama sambil sesekali menggodai turis bule yang berpakaian minim.

*****

Memang perjalanan itu masih panjang, wak. Belum semua ku tulis. Karena aku lagi malas menulis panjang tentang kau. Seperti waktu kita berpura-pura kagum dan akting wah saat diajak kembali oleh abangnya Rani melihat sunset pantai Senggigi, juga menari bersama warga pada perayaan pernikahan adat warga Lombok. Tentara di kapal Fery, preman sangar di Pelabuhan Padang Bay, lika-liku menuju Kute, Tragedi Banyuwangi, berbincang dengan 'adik Dewi Persik', keramahan Satpol PP Probolinggo dan lainnya. 

Monday, June 22, 2015

Sigi dan Riwayat Ashabul Kahfi

Karung kumal itu dipanggul Sigi. Dua tangannya memegang ujung karung yang ditumpukan di bahu kanan. Tubuhnya membungkuk karena beban yang tak sebanding dengan tubuhnya yang kurus. Sigi dan karungnya sepintas memiliki kesamaan, sama-sama kumal dan kusam. Bahkan semula yang sama-sama putih kini terlihat kehitaman. Debu jalanan dan kerasnya kehidupan membuat hitam menjadi akrab dalam kesehariannya dan menghiasi penampilan fisiknya. Seperti aspal yang tak pernah berwarna putih, unsur putih di kulit Sigi pun lambat-laun berubah warna. Meski bertubuh ringkih, namun sorot matanya tajam, dan menandakan wataknya yang keras.

Sigi berjalan terseok melewati jalan yang sempit. Dari gang satu ke gang yang lain, pengkolan satu ke pengkolan yang lain. Dari hardikan empunya rumah hingga gonggongan anjing penjaga telah dirasakannya. Disangka maling jemuran hingga peminta makan merupakan hal yang lumrah baginya. Seperti siang itu di Kelurahan Mahoni, saat Sigi melewati gerbang salah satu rumah warga yang berwarna biru, ia disambut gonggongan anjing. Hampir saja karungnya terjatuh karena kaget. Ia membenarkan letak topinya yang miring ke kiri, topi itu selamat dari ancaman got yang kotor.

Anjing masih menyalak, makin keras. Sangar. Garang. Segarang petugas Satpol PP yang menangkapnya tiga bulan lalu tanpa perilaku simpatik dan iba. Memang anjing hanya untuk menunjukkan sikap setia terhadap majikannya, tapi lakunya terkadang berlebihan dan tak membedakan orang. Sembarang hardik. Kesetiaan dan kecintaan macam apa jika tamu majikan juga dihardik dan dibentak.

“Mungkin benar anjing bisa melihat makhluk halus, tapi anjing tak bisa membedakan mana manusia berhati kasar atau halus, baik atau buruk selain majikannya. Sial, kalau manusia pasti ku tantang berkelahi, dasar anjing!,” Sigi menggerutu.

“Gukk gukk” Anjing menyalak untuk ke sekian kalinya. Majikan keluar, menarik tali anjing dan memerintahkannya untuk diam. Namun anjing tetap menggonggong, tak ubahnya seperti anak kecil yang tak mau dilerai dari perkelahian.

“Maaf ya mas,” kata pria paruh baya yang memakai sarung tenun itu, mewakilakan permohonan maaf atas kelakukannya anjingnya ke Sigi. Sigi mengangguk.

“Bagaimana bisa seorang manusia mewakilkan maaf atas perbuatan seekor anjing,” kata Sigi dalam hati, “Apakah itu berarti dia telah jadi wakil anjing?,” Sigi menahan kepalanya agar tak menggeleng. Dari balik pagar, dia melihat anjing itu bertingkah manja di betis majikannya. Sigi tak peduli, lalu pergi.

Bukan kali ini saja hatinya dongkol pada anjing. Perselisihan Sigi dengan anjing telah berlangsung lama. Dia pernah mengalami luka parah saat sepeda motor yang ditumpanginya menabrak seekor anjing yang tiba-tiba melintas. Dia juga pernah nyaris diamuk warga desa Sonduk Sakti yang tengah naik pitam mengejar maling ayam. Pasalnya, dia digonggongi anjing warga saat buang air besar di balik semak belukar. Gonggongan anjing yang bertubi-tubi membuat warga menjadi yakin dan hampir main hakim sendiri. Satu bogem mentah telah mendarat di pipi Sigi karena anjing yang tidak bisa membedakan antara bau kotoran ayam dengan kotoran manusia. 

“Siapa namamu?” Tanya Pak Lurah setelah Sigi diseret ke balai desa.

“Sigi Taol”

“Namamu aneh,” Lurah tersenyum sinis, warga lainnya tertawa.

“Jangan hina namaku!,” ucap Sigi dengan nada tinggi.

“Sigi itu artinya apa?” Lurah kembali bertanya.

“Itu singkatan dari sikat gigi,”

“Terdengar unik, kenapa ayahmu memberi nama itu?”

“Waktu aku lahir, dagangan sikat gigi ayah sedang berhasil. Tapi kemudian ayah hilang entah kemana saat usiaku 3 tahun,”

“Ooh, kalau Taol itu marga atau nama keluarga?”

“Bukan dua-duanya. Taol itu singkatan tanpa odol, ibu menambahkannya saat ayah menghilang. Ibu merasa hidupnya sudah hampa dan hambar sejak ditinggal ayah, seperti sikat gigi tanpa odol, hambar,” Sigi menjelaskan panjang lebar. “Aku bukan maling ayam, kalian periksa saja isi karungku,” ketus Sigi sambil menyodorkan karungnya dengan kesal.

“Oke, kami percaya, sekarang kau bebas, silakan pergi,” kata Pak Lurah seraya menyuruh seorang hansip mengantarkan Sigi ke ujung jalan.

Sigi menjadi pembenci anjing sejak peristiwa itu. Yang ada di benak dan perasaannya hanya kemarahan tatkala berpapasan dengan hewan yang dalam bahasa arab disebut ‘kalbun’ atau kilab tersebut. Berlaku sinis, melempar dengan batu, mengutuk dan sumpah serapah merupakan beberapa reaksi Sigi yang terus berlangsung hingga kini.

                                                 *****

Sigi tidak langsung beranjak usai menunaikan shalat zuhur di sebuah masjid kelurahan. Dia menyempatkan diri mengikuti pengajian majelis ta’lim dan mendengarkan ceramah dari ustadz. Lagi-lagi bahasannya berkaitan dengan anjing. Yaitu kisah 7 pemuda bernama Maxelmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus, Thamlika yang tergolong dalam kelompok Ashabul Kahfi atau ‘The Seven Sleepers’ beserta seeokor anjing bernama Qithmir yang dipercaya menjadi satu-satunya anjing yang masuk surga. Saat itu, mereka yang membantah keinginan dan kekejaman Raja Diqyanus akhirnya bersembunyi di sebuah goa, dan dengan kekuasaan Tuhan, mereka tertidur selama 300 tahun Masehi (hitungan matahari) atau 309 tahun dalam hitungan Hijriah (hitungan bulan).  Sejumlah referensi menyebut goa itu bernama Washid atau Kherem, terletak di gunung Naglus yang berada dalam wilayah Syria.

Sigi tercengang dengan kisah kesetiaan anjing Ashabul Kahfi itu. Belum hilang keterkejutannya, penceramah lalu menceritakan kisah seorang lelaki yang dijanjikan masuk surge karena memberi air minum seekor anjing yang kehausan. Tidak tanggung-tanggung, lelaki itu menuangkan air minum ke anjing dengan sepatunya yang telah diisi air. Sigi menjadi tidak tenang, dia keluar dan meninggalkan masjid. Dadanya bergemuruh, otaknya berkecamuk. Cerita dari penceramah mengiang di benaknya. 

Sigi berjalan ke arah Timur. Karung kumal masih setia menggantung di pundak kanannya, menyusuri perumahan warga. Dia tetap digonggong beberapa anjing warga. Dan Sigi marah dengan segala sumpah serapah. Hingga lelah, dia berteduh di bawah pohon mangga yang berdiri di pinggiran sungai kota yang airnya berwarna kuning kehitaman. 40 meter di sebelah kanannya, dia melihat seorang bocah berusia 6 tahun yang sedang asyik bermain balon, berjarak 30 meter dari ayahnya yang tengah memancing. Tiba-tiba, seeokor kucing datang dan berupaya merebut bola, dan anak itu menangis. Kucing tak menggubris dan berhasil merebut bola. Ayah si bocah sempat menoleh ke belakang, tapi kemudian kembali fokus ke kailnya karena mengira hanya seeokor kucing yang biasanya suka bercanda. Bocah terus menangis. Tiba-tiba, seekor anjing berlari dari arah barat dan menggong-gong keras yang membuat kucing berlari tunggang-langgang, lintang pukang. Bocah berhenti menangis, bolanya selamat dari jarahan kucing. Sementara anjing segera berlalu tanpa gerakan basa-basi atau ekpresi wajah yang sok manis ke arah bocah.

“Aku baru sadar, pada dasarnya setiap anjing itu murni mengikuti naluri, majikannya lah yang membuat dia jahat, baik, atau lucu,” gumamnya. “Kalau lirik lagu dangdut menyebut tidak semua laki-laki bersalah, begitu juga dengan ini, tidak semua anjing bersalah. Aaaah aku telah berbuat kesalahan, maafkan aku anjing,” pintanya lirih.

“Bagaimana bisa seorang manusia minta maaf kepada seekor anjing!,” seorang kakek yang entah dari mana datangnya tiba-tiba bercelutuk. Sigi menoleh ke belakang, kakek berjanggut putih mengulangi kalimatnya sekali lagi. Kemudian berbalik badan dan meninggalkan Sigi. Sekonyong-konyong. 

Thursday, June 18, 2015

Ramadhan dan sekitarnya

Rabu (17/6/2015) siang. Tak ada hujan atau pun pelangi, tak ada dingin hanya panas menjadi-jadi. Keringat tetap keringat yang tak perlu didramatisir seolah kristal. Pedal gas sepeda motor yang tampak menyusut cukup sebagai penanda bahwa tangan telah pegal. Di sebuah pengkolan tanpa traffic light yang umum disebut lampu merah, kumpulan penongkrong berkerumun membincangkan berbagai hal tanpa butuh menilisik ujung pangkal. 

Hari ini, otak dan hati bekerja dengan tak biasa. Otak coba menerka, hati tak sabar menanti hasil sidang isbat untuk menetapkan apakah esok hari pertama puasa. Ramadhan yang hadir setiap 12 bulan sekali tak ayal disambut dengan beragam cara dan euforia kerinduan. Selain soal ziarah, recent update blackberry massager, laman facebook dan twitter juga berisi tulisan tentang tradisi penyambutan Ramadhan dari berbagai daerah. Seperti balimau basomo dari Sumatera Barat, balimau kasai dari Riau, Dugderan Jawa Tengah, atau berbagai istilah dari daerah-daerah lainnya yang kian menyulut romantisme perantau di Jakarta. Ya, Ramadhan tidak hanya menghadirkan kerinduan ibadah, tapi juga rindu akan pelaksanaan tradisi-tradisi, panganan, atau pun aktifitas-aktifitas pengisi lainnya yang ditanamkan sejak belia. 

Saya tak memikirkan apa hasil sidang isbat sore nanti. Karena biasanya, hasilnya tidak akan bergeser dari tanggal yang telah dituliskan sejak akhir tahun lalu dan tertera jelas di kalender atau almanak. Saya tidak tahu dasar apa yang dipakai penyusun kalender dalam menetapkan 1 Ramadhan. Mungkinkah hilal dapat dilihat 7 bulan sebelum Ramadhan?

Saya ingat tentang marpangir atau mandi pangir. Tradisi kaum muslim Sumatera Utara dalam menyambut bulan puasa, dilakukan sehari sebelum hari pertama, tepatnya selepas waktu shalat ashar atau menjelang maghrib. Tradisi marpangir ini juga dilakukan warga Bagan Batu, kota terujung Provinsi Riau yang terdapat di Kabupaten Rokan Hilir. Tentu itu dilakukan oleh masyarakat yang berasal dari Sumatera Utara. 

Marpangir bukan sekedar mandi beramai-ramai ke sungai. Tapi, tubuh diguyur oleh air hangat yang dilengkapi dengan berbagai ramuan seperti pandan, daun jeruk, jeruk nipis, dan bunga pinang. Di beberapa Kabupaten lain ditambahi dengan ramun seperti bunga mawar atau lainnya. 

Jadi, ramuan itu direbus menjadi satu, airnya harus air yang telah ditanak lalu digunakan kembali untuk merebus ramuan. Usai direbus, jadilah air itu berarama harum dan meninggalkan wangi khas di rambut yang membuat kita tak akan ingin menghilangkannya dengan bau shampo. Karenanya, pangir baru diguyur ke seluruh tubuh di penghujung tahapan mandi atau sebagai penutup.

Konon, mandi pangir ini menjadi simbol membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci. Bahkan dalam anekdot-anekdot masa kecil, mandi pangir seolah wajib jika ingin puasanya terasa lebih lengkap. Ia seperti niat yang mengisyaratkan bahwa kita telah siap menyambut dan melaksanakan puasa. Dan, tradisi pangir tak pelak membuat rindu kampung.

"Aku terakhir mandi pangir ya SD lah genk," kata seorang teman bernama Thamrin (28 lebih) dalam kombur (bincang-bincang) menunggu sahur di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Aku juga terakhir waktu SD," kata mahasiswa bernama Jamak seraya menyeruput kopi.

"Aku lupa bang, kalau abang?" ujar Indang, mahasiswa BSI, sambil membuka bungkus makanan ringan. 

"Pokoknya sudah lama lah," jawab saya.

Selain soal pangir, persiapan lainnya yang dilakukan sebelum memasuki bulan puasa adalah membuat meriam bambu. Bambu yang berukuran besar kemudian digergaji sehingga panjangnya tinggal sekitar 5 ruas. Pembatas antar ruas lalu  dijebol hingga menyisakan pembatas pangkal. Sedangkan di ruas pangkal dibolongi dengan ukuran satu inci, bentuknya segi empat. Kemudian, minyak tanah dimasukkan ke dalam lobang kecil itu.

Untuk memainkan meriam bambu, dibutuhkan sumbu kain yang diikatkan di ujung kayu yang berukuran sedang. Sumbu itu dinyalakan dengan api lalu ditaruh di permukaan lobang untuk memancing minyak tanah agar panas. Setelah panas, sumbu yang menyala api itu cukup dijalankan melewati lobang hingga menimbulkan suara yang keras, buuuum!!. 

Setiap sekali bunyi, lobang itu harus ditiup dahulu untuk mengeluarkan asap sisa letusan pertama. Setelah asap kosong, sumbu kemudian dijalankan kembali melewati permukaan lobang, buuum!, tak jarang alis mata sedikit terbakar jika kayu pemantik terlalu pendek. Meriam bambu ini biasa dimainkan menjelang sahur dan berbuka.

"Aku pernah terbakar alisku waktu main meriam bambu," tutur Thamrin.

"Aku sampai pecah meriam bambuku saking keras suaranya," Indang tak mau kalah.

Seiring perkembangan zaman dan bambu semakin sulit diperoleh, bahan dasar permainan ini berganti. Tidak lagi bambu, tapi terbuat dari susunan kaleng susu kemasan yang disusun dan direkatkan. Meriam bambu berubah nama menjadi meriam kaleng susu. Namun hasil bunyinya terdengar cempreng, lebih dominan suara trebel ketimbang suara ngebass seperti yang dihasilkan meriam bambu.

Obrolan terus berlanjut. Tidak ada suara jangkrik malam itu, hanya terdengar suara sepeda motor yang melintas. Terkadang terdengar santun, dan lebih sering knalpot meraung dengan brutal dan arogan. Perbincangan seperti kembali ke masa belasan atau puluhan tahun silam saat 1 USD masih Rp. 2.500, pahlawan layar kaca masih Unyil, Dragon Ball, Power Ranger dan Wiro Sableng. Sedangkan Naruto, Avatar, atau tokoh utama serial One Piece belum terlacak rimbanya dimana.

"Di kampungmu kalau malam 27 (Ramadhan) ramai nggak genk?," tanya Thamrin.

"Bah, semaraklah. Lilin berderet di halaman setiap rumah, ada yang ditaruh di bunga pagar, di dahan pohon jambu, di bunga. Obor-obor dinyalakan, pokoknya mantaplah!. Kalau kampungmu?," saya memaparkan cerita semarak.

"Ya ramai juga, tapi kenapa malam 27 ramainya ya?" Thamrin kembali bertanya.

"Ya sekalian nunggu laillatulqodar,"

"Lailatulqodar kan malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir," Thamrin kian penasaran.

"Ya konon lebih kuatnya di malam 27,"

"Kok bisa?," Thamrin memberondong pertanyaan seolah menginterogasi.

"Karena ada 9 jenis huruf yang dipakai (tiga huruf 'L' dihitung satu, dan tiga 'A' dihitung satu juga), terus pengucapannya 3 kali, lai latul qodar, jadi 3 x 9 kan 27," jawabku sekenanya.

"Hahahaha" seluruh jamaah penanti sahur tertawa.

"Suka-sukamu genk," ujar Thamrin dengan nada tak rela dikacangin.

Jamuan sahur berangsur terhidang. Tema kerinduan tradisi dan romantisme aktivitas Ramadhan pun terhenti. Seluruh kami pun menyantap sahur, memasuki Ramadhan tanpa marpangir dan meriam bambu. Semaraknya malam 27 seperti di kampung pun tak mungkin dirasakan, sebab akan disibukkan dengan persiapan mudik, yaitu musim kembalinya orang-orang udik ke udiknya masing-masing. Yang tak punya udik tidak akan pernah merasakan nikmatnya euforia mudik. Wallahu A'lam.










Tuesday, June 16, 2015

Petuah Hang Tuah (Sekira Pantun)

Hang Tuah mendatangi rumahku
Renta namun terlihat wibawa
Jubah dan keris saktinya terpaku
‎Bertanya kabar pewaris bangsa

Putra perkasa dari rimba sejarah
Menjelma tanpa poster dinding
Melayang menawarkan tuah
Lalu lenyap di suara bising

Kisahmu yang agung
Membias ditelan zaman
Sempat singgah di wajah murung
Layar gagahmu tinggal kenangan

Kemudian kau ajarkan nilai
Padaku yang terbaring di kasur
Entah dari mana ku memulai 
Hanya terdiam dan tafakur

Hang Tuah tetaplah disini
Bimbing beri aku petuah
Dengarkan kata hati nurani 
Itu kunci pejuang sejarah