Karung kumal itu dipanggul Sigi. Dua tangannya memegang ujung karung yang ditumpukan di bahu kanan. Tubuhnya membungkuk karena beban yang tak sebanding dengan tubuhnya yang kurus. Sigi dan karungnya sepintas memiliki kesamaan, sama-sama kumal dan kusam. Bahkan semula yang sama-sama putih kini terlihat kehitaman. Debu jalanan dan kerasnya kehidupan membuat hitam menjadi akrab dalam kesehariannya dan menghiasi penampilan fisiknya. Seperti aspal yang tak pernah berwarna putih, unsur putih di kulit Sigi pun lambat-laun berubah warna. Meski bertubuh ringkih, namun sorot matanya tajam, dan menandakan wataknya yang keras.
Sigi berjalan terseok melewati jalan yang sempit. Dari gang satu ke gang yang lain, pengkolan satu ke pengkolan yang lain. Dari hardikan empunya rumah hingga gonggongan anjing penjaga telah dirasakannya. Disangka maling jemuran hingga peminta makan merupakan hal yang lumrah baginya. Seperti siang itu di Kelurahan Mahoni, saat Sigi melewati gerbang salah satu rumah warga yang berwarna biru, ia disambut gonggongan anjing. Hampir saja karungnya terjatuh karena kaget. Ia membenarkan letak topinya yang miring ke kiri, topi itu selamat dari ancaman got yang kotor.
Anjing masih menyalak, makin keras. Sangar. Garang. Segarang petugas Satpol PP yang menangkapnya tiga bulan lalu tanpa perilaku simpatik dan iba. Memang anjing hanya untuk menunjukkan sikap setia terhadap majikannya, tapi lakunya terkadang berlebihan dan tak membedakan orang. Sembarang hardik. Kesetiaan dan kecintaan macam apa jika tamu majikan juga dihardik dan dibentak.
“Mungkin benar anjing bisa melihat makhluk halus, tapi anjing tak bisa membedakan mana manusia berhati kasar atau halus, baik atau buruk selain majikannya. Sial, kalau manusia pasti ku tantang berkelahi, dasar anjing!,” Sigi menggerutu.
“Gukk gukk” Anjing menyalak untuk ke sekian kalinya. Majikan keluar, menarik tali anjing dan memerintahkannya untuk diam. Namun anjing tetap menggonggong, tak ubahnya seperti anak kecil yang tak mau dilerai dari perkelahian.
“Maaf ya mas,” kata pria paruh baya yang memakai sarung tenun itu, mewakilakan permohonan maaf atas kelakukannya anjingnya ke Sigi. Sigi mengangguk.
“Bagaimana bisa seorang manusia mewakilkan maaf atas perbuatan seekor anjing,” kata Sigi dalam hati, “Apakah itu berarti dia telah jadi wakil anjing?,” Sigi menahan kepalanya agar tak menggeleng. Dari balik pagar, dia melihat anjing itu bertingkah manja di betis majikannya. Sigi tak peduli, lalu pergi.
Bukan kali ini saja hatinya dongkol pada anjing. Perselisihan Sigi dengan anjing telah berlangsung lama. Dia pernah mengalami luka parah saat sepeda motor yang ditumpanginya menabrak seekor anjing yang tiba-tiba melintas. Dia juga pernah nyaris diamuk warga desa Sonduk Sakti yang tengah naik pitam mengejar maling ayam. Pasalnya, dia digonggongi anjing warga saat buang air besar di balik semak belukar. Gonggongan anjing yang bertubi-tubi membuat warga menjadi yakin dan hampir main hakim sendiri. Satu bogem mentah telah mendarat di pipi Sigi karena anjing yang tidak bisa membedakan antara bau kotoran ayam dengan kotoran manusia.
“Siapa namamu?” Tanya Pak Lurah setelah Sigi diseret ke balai desa.
“Sigi Taol”
“Namamu aneh,” Lurah tersenyum sinis, warga lainnya tertawa.
“Jangan hina namaku!,” ucap Sigi dengan nada tinggi.
“Sigi itu artinya apa?” Lurah kembali bertanya.
“Itu singkatan dari sikat gigi,”
“Terdengar unik, kenapa ayahmu memberi nama itu?”
“Waktu aku lahir, dagangan sikat gigi ayah sedang berhasil. Tapi kemudian ayah hilang entah kemana saat usiaku 3 tahun,”
“Ooh, kalau Taol itu marga atau nama keluarga?”
“Bukan dua-duanya. Taol itu singkatan tanpa odol, ibu menambahkannya saat ayah menghilang. Ibu merasa hidupnya sudah hampa dan hambar sejak ditinggal ayah, seperti sikat gigi tanpa odol, hambar,” Sigi menjelaskan panjang lebar. “Aku bukan maling ayam, kalian periksa saja isi karungku,” ketus Sigi sambil menyodorkan karungnya dengan kesal.
“Oke, kami percaya, sekarang kau bebas, silakan pergi,” kata Pak Lurah seraya menyuruh seorang hansip mengantarkan Sigi ke ujung jalan.
Sigi menjadi pembenci anjing sejak peristiwa itu. Yang ada di benak dan perasaannya hanya kemarahan tatkala berpapasan dengan hewan yang dalam bahasa arab disebut ‘kalbun’ atau kilab tersebut. Berlaku sinis, melempar dengan batu, mengutuk dan sumpah serapah merupakan beberapa reaksi Sigi yang terus berlangsung hingga kini.
*****
Sigi tidak langsung beranjak usai menunaikan shalat zuhur di sebuah masjid kelurahan. Dia menyempatkan diri mengikuti pengajian majelis ta’lim dan mendengarkan ceramah dari ustadz. Lagi-lagi bahasannya berkaitan dengan anjing. Yaitu kisah 7 pemuda bernama Maxelmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus, Thamlika yang tergolong dalam kelompok Ashabul Kahfi atau ‘The Seven Sleepers’ beserta seeokor anjing bernama Qithmir yang dipercaya menjadi satu-satunya anjing yang masuk surga. Saat itu, mereka yang membantah keinginan dan kekejaman Raja Diqyanus akhirnya bersembunyi di sebuah goa, dan dengan kekuasaan Tuhan, mereka tertidur selama 300 tahun Masehi (hitungan matahari) atau 309 tahun dalam hitungan Hijriah (hitungan bulan). Sejumlah referensi menyebut goa itu bernama Washid atau Kherem, terletak di gunung Naglus yang berada dalam wilayah Syria.
Sigi tercengang dengan kisah kesetiaan anjing Ashabul Kahfi itu. Belum hilang keterkejutannya, penceramah lalu menceritakan kisah seorang lelaki yang dijanjikan masuk surge karena memberi air minum seekor anjing yang kehausan. Tidak tanggung-tanggung, lelaki itu menuangkan air minum ke anjing dengan sepatunya yang telah diisi air. Sigi menjadi tidak tenang, dia keluar dan meninggalkan masjid. Dadanya bergemuruh, otaknya berkecamuk. Cerita dari penceramah mengiang di benaknya.
Sigi berjalan ke arah Timur. Karung kumal masih setia menggantung di pundak kanannya, menyusuri perumahan warga. Dia tetap digonggong beberapa anjing warga. Dan Sigi marah dengan segala sumpah serapah. Hingga lelah, dia berteduh di bawah pohon mangga yang berdiri di pinggiran sungai kota yang airnya berwarna kuning kehitaman. 40 meter di sebelah kanannya, dia melihat seorang bocah berusia 6 tahun yang sedang asyik bermain balon, berjarak 30 meter dari ayahnya yang tengah memancing. Tiba-tiba, seeokor kucing datang dan berupaya merebut bola, dan anak itu menangis. Kucing tak menggubris dan berhasil merebut bola. Ayah si bocah sempat menoleh ke belakang, tapi kemudian kembali fokus ke kailnya karena mengira hanya seeokor kucing yang biasanya suka bercanda. Bocah terus menangis. Tiba-tiba, seekor anjing berlari dari arah barat dan menggong-gong keras yang membuat kucing berlari tunggang-langgang, lintang pukang. Bocah berhenti menangis, bolanya selamat dari jarahan kucing. Sementara anjing segera berlalu tanpa gerakan basa-basi atau ekpresi wajah yang sok manis ke arah bocah.
“Aku baru sadar, pada dasarnya setiap anjing itu murni mengikuti naluri, majikannya lah yang membuat dia jahat, baik, atau lucu,” gumamnya. “Kalau lirik lagu dangdut menyebut tidak semua laki-laki bersalah, begitu juga dengan ini, tidak semua anjing bersalah. Aaaah aku telah berbuat kesalahan, maafkan aku anjing,” pintanya lirih.
“Bagaimana bisa seorang manusia minta maaf kepada seekor anjing!,” seorang kakek yang entah dari mana datangnya tiba-tiba bercelutuk. Sigi menoleh ke belakang, kakek berjanggut putih mengulangi kalimatnya sekali lagi. Kemudian berbalik badan dan meninggalkan Sigi. Sekonyong-konyong.
No comments:
Post a Comment