Friday, January 17, 2014

Mendadak Tarekat




Mimpi Alaska itu tiba – tiba buyar saat ponsel Wiro berdering, Wiro secara refleks mengangkat tanpa melihat siapa penelponya. 

“dimana cok” kata suara di seberang sana

“di Cilandak,”

“Ustadz Busyro mau ka Ciputat, beliau pengen ketemu, sebentar lagi sampai dari Bekasi,” sambungnya memberi informasi.

Kesadaran Wiro sontak langsung kembali penuh dan mengenali suara di ujung ponsel. Ya, itu Suara Zul ‘Ashfi, teman seangkatan di MTI Candung yang akrab disapa Munjid.

oke fi, langsung meluncur, kita ketemu dimana?,” tanyaku meminta kepastian tempat

“di Toko Ambo  yo,”

Telepon terputus. Wiro termenung beberapa sesaat. Ingatannya melayang ke sewindu silam. Bukan tanpa sebab, karena orang yang dikabarkan akan datang adalah sosok ustadz saat Wiro menimba ilmu di sebuah pesantren di Bukit Tinggi Sumbar. Lebih dari itu, kesan terhadap sosok bertambah dalam, lebih dari sekedar Ustadz, sebab selama di pesantren tersebut Wiro tinggal di rumah sang Ustadz.  Tidak hanya pelajaran kitab/agama yang diberikannya pada saat itu, ilmu kehidupan, ilmu mencari pangan, ilmu bermasyarakat, bahka tenaga dalam (meski tidak diterima akal Wiro), diajarkan oleh sang ustadz. Singkatnya, Sosok Ustadz bak orang tua angkat di masa remaja Wiro, bahkan Wiro memanggil istri Ustadz dengan sebutan “Ummi”.

Kain penutup kasur begitu berantakan. Dua buah bantal yang tersedia sebelum tidur, kini tinggal satu, mungkin diambil teman kamar sebelah, sebab bantalnya kemarin basah akibat atap kamar yang bocor. Berbagai pertanyaan di benak Wiro melayang. Seperti apa Ustadz sekarang. Ya, sejak meningalkan Candung pada bulan Juni tahun 2005 silam, Wiro tidak pernah lagi menguhubungi beliau untuk sekedar menanyakan kabar. Wiro merasa sebagai anak yang lupa terhadap orang tua angkatnya. Muncul rasa segan yang timbul ketika nanti bertemu. Berbagai pertanyaan menggerayangi pikiran Wiro,  Bagaimana Wiro akan bereaksi dan bertutur kata? Kalimat apa yang akan pertama diucapkan untuk menyambut sang Ustadz?, dan terlebih lagi, bagaiman reaksi ustadz saat bertemu nanti.

Keraguan muncul. Terpikir untuk memutuskan tidak jadi datang dengan menyebutkan alasan – alasan. Tapi, betapa berdosanya (secara etika) jika Wiro tidak menemui Ustadz yang telah melakukan perjalanan jauh, meski kedatangannya ke Jakarta untuk urusan – urusan lain. Tekad dibulatkan untuk berangkat Ciputat. Wiro beranjak dari kamar menuju kamar mandi. Mandi dengan kecepatan kilat dan berpakaian dengan secepatnya. Wiro akhirnya menuju Ciputat tanpa memanaskan terlebih dahulu sepeda motor yang ditunganginya.

Ciputat tampak sepi, maklum akhir pekan, dan juga karena suasana libur, tidak ada kaitan sepi Ciputat dengan peristiwa pengrebegan yang menewaskan 6 teroris. Toko Kitab Munjid juga sepi, si empunya toko tak terlihat. Wiro menelepon Munjid untukmemberi tahu kedatangaannya. Munjid menjawab singkat, dan menyuruh menunggu sebentar, ia akan segera datang.  Benar saja, belum habis sebatang Rokok yang dihisap Wiro, Munjid pun muncul. Menurutnya, Ustadz sedang berkunjung ke sebuah pondok pesantren milik pendiri FPI di daerah Kampung Utan. Nanti akan datang ke toko.

Dua lelaki alumni MTI Candung angkatan 2005 ini terlibat pembicaraan singkat. Hanya pembicaraan ringan seputar kapan kedatangan ustadz. Ngantuk kembali menyerang Wiro, sebab semalam begadang hingga menjelang subuh. Munjid duduk di depan komputer, bermain game balapan mobil. Wiro berbaring di belakang rak buku yang terdapat ruangan kecil berbatasan dengan tembok. Sembari masih ngobrol ringan, Wiro kembali tertidur.

Mimpi Wiro kembali buyar. Kali ini bukan tentang Alasaka di benua Amerika. Tapi Mimpi pertemuan dengan sekitar delapan ustadz, pengajar di MTI Candung dahulu. Hanya dua orang yang wajahnya sangat jelas dikenali dalam mimpi itu, yaitu ustadz Busyro dan M Nur kepala Aliyah.

“Cok, Ustadz Busyro udah sampai,” ujar Munjid membangunkan Wiro sambil langsung berbalik ke ruangan depan.

Wiro mengusap – usap matanya, punggung terasa berat dan pegal. Ia bangkit sembari membenarkan Jaket motif tentara Jepang. Di depan, ustadz Busyro baru naik ke ruangan Toko, ia mengenakan baju Koko dan peci berwarna putih. Badannya jauh lebih gemuk dibanding 8 tahun lalu. Wiro menjulurkan tangan untuk menyalami ustadz. Ada rasa melow yang muncul. Tapi Wiro menutupinya karena banyak orang di Toko tersebut.

“Wiro ya?,” tanyanya singkat.

“iyo Ustadz,” jawab Wiro dengan lebih singkat.

Ada sekitar 8 orang duduk dengan posisi setengah melingkar di ruang tengah toko. Beberapa Alumni MTI Candung hadir. Pertemuan yang membentuk kelompok kecil terlibat berbagai tema pembicaraan. Tentang kitab – kitab kuning, kondisi Tarbiyah saat ini dan program plan tentang konsep dakwah Tarbiyah, dan cerita – cerita ustadz tentang perjuangan FPI yang kini digelutinya. Percakapan antara Wiro dan Ustadz Busyro berlangsung di sela – sela pertemuan.

“Ummi, apa kabar Ustadz?,” tanya Wiro.

“Alhamdulilah, Ummi sehat. Ummi baru aja manelpon, manyampaikan salam ka Wiro,” jawabnya sambil menyuruh seseorang membelikan rokok.

Pembicaraan kembali berlanjut. Ustadz memaparkan rencananya untuk membuat sebuah acara seminar yang membahas tentang bid’ah. Ia menanyakan kapan teman – teman yang ada di Ciputat dapat pulang ke Sumbar untuk merealisasikan rencana tersebut. Tapi tak ada jawaban pasti kapan. Menurut ustadz, hasil seminar tentang bid’ad itu nantinya akan dibukukan dan diterbitkan.

“Wiro udah masuk tarekat?,” tanya Ustadz

“belum Ustadz,”

Ustadz lalu menjelaskan beberapa aliran tarekat yang ada dan berkembang di Indonesia, terutama Di Sumbar. Menurutnya, ia memilih tarekat saman sebab telah banyak guru – guru yang mengembangkan tarekat naqsabandiyah.

“Tarekat itu penting untuk melembutkan hati dan merefresh pikiran,” ujarnya menjelaskan, “ambo perintahkan ke Wiro untuk masuk tarekat Saman, biar si Putra yang Bai’at, nanti dilanjutkan dengan dzikir – dzikir ringan saja dulu,”

Wiro menganguk ringan mendengar mandat tersebut. Berbagai pertanyaan kembali menggerayangi pikirannya. Kenapa setelah 8 tahun tak bertemu dan tak berkomunikasi, tiba – tiba ustadz memerintahkan untuk tarekat? Apa ini yang disebut bahwa beliau memiliki karomah, mampu mengetahui aktifitas ibadah Wiro setelah tidak lagi tinggal di rumah Ustadz. Wiro tidak mengerti dengan dunia tarekat, kuliahnya juga mengambil jurusan yang tidak berbau pelajaran agama islam.  Wiro bertanya dalam hati, apa maksud pesan ustadz yang terkesan mendadak ini.

Wiro duduk terpaku, tatapan tetap mengarah ke Ustadz yang masih menjelaskan beberapa kaji agama. Pikiran dan hati Wiro bergemuruh. Meski memberi jawaban menganggguk, Wiro belum memutuskan apakah akan melaksanakan perintan sang Ustadz atau tidak. Biarlah beberapa hari atau minggu ke depan, Wiro baru memutuskan untuk menjawab titah sang Ustadz Rajo Alam.

Tidak ada pertemuan yang abadi. Ustadz pun akhirnya meminta ijin untuk  pergi. Jika ada waktu, ia akan kembali sebelum pulang ke bukit tinggi. Ustadz dan alumni mengabadaikan momen dengan ponsel genggam. Wiro meminta untuk poto berdua sebagai kenang – kenangan. Tak banyak kata yang Ustadz ucapkan. Beliau menghilang bersama mobil Avanza yang mengantarkan beliau ke tempat tujuannya.  Wiro termenung. Ia melihat poto yang baru dijepret. Avanza tak tampak lagi.

Kaos Mahameru (II)




Hujan lebat mengguyur Jakarta, Minggu, 12 - Januari – 2014. Berbagai wilayah ibukota terendam air. Begitu juga di warung pojok yang terletak di sebelah Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut. Genangan air mencapai setinggi mata kaki, dua pelanggan tergopoh mengejar sandal mereka yang hanyut. 

Siang itu, Reza tidak lagi mengenakan kaos Mahameru. Namun, style pendaki gunung masih tampak melalui gelang dan kalung dari tali carbiner yang melingkar di lengan dan lehernya. Wiro masih penasaran dengan kaos mahameru Reza, belum pernah ke Mahameru namun telah mengenakannya.

Fenomena kaos 'penanda perjalanan' ini tidak hanya menjangkit Reza saja. Di luar sana, banyak orang yang mengenakan berbagai kaos seperti  I Love London, Hongkong ataupun daerah dan negara lainnya untuk meraih predikat ‘pernah’. Wiro menyebut hal ini dengan penyakit sosial.

Reza akhirnya mau buka suara mengenai asal – usul kaos maharemu kesenangannya. Kaos berwarna hitam itu ia beli seharga Rp.50.000 di sebuah toko adventure yang terdapat di dekat kampus swasta di bilalangan Cempaka Putih. 

“Kenapa kau beli? Kan kau belum ke semeru?,” tanya Wiro

Reza tertawa kecil. Entah apa yang dipikirkanya sehingga ia memberi jeda waktu beberapa menit untuk menjawab. Penyuka musik scream emo ini menuang air ke dalam gelas lalu menenggaknya. Menurutnya, konsep perjalanan yang dianutnya adalah membeli kaos daerah atau tempat yang dituju terlebih dahulu sebelum berangkat.

“Biar semangat mau ke semeru bang, jadi, beli kaosnya dulu. Kalau aku begitu bang, beli kaosnya dulu, baru jalan,”  ujar pemuda yang memiliki panggilan masa kecil membot ini.

Wiro yang tengah asyik menyeruput kopi hitam, tidak langsung serta merta percaya dengan alasan yang dilontarkan Reza. Wiro menduga ada alasan lain di balik pembelian koas tersebut. Ya, penyakit sosial untuk meraih predikat ‘pernah’.

“Untuk keren – kerenan juga, biar dibilang udah pernah ke semeru,” kata Reza menjelaskan.

Raut muka Reza berubah. Ia tampak seperti mambayangkan perjalanan ke semeru. Ujian Akhir Semester akan selesai pada akhir bulan Januari ini. Namun, perencanaan pendakian bukan ke gunung semeru, berganti ke gunung merbabu di Magelang Jawa Tengah.

“Februari kami ke Merbabu bang,” ujar Reza tanpa ada yang bertanya.

loh, kenapa ke Merbabu? Kau kan belum punya kaosnya!,” Wiro bertanya seolah heran.

“kata kawanku orang Malang, Semeru tutup bang. Mungkin karena aku bohongin orang – orang, make kaos mahameru itu, jadinya gagal ke semeru. Besok – besok gak lagi lah,” ujarnya dengan suara yang semakin pelan dan terkesan serius.

Wiro menghargai kesimpulan yang diambil Reza. meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa peristiwa tersebut hanya kebetulan sahaja, sama sekali tidak berkaitan dengan ‘pembohongan publik’ yang dilakukannya. Sebab, gunung semeru memiliki jadwal penutupan untuk kegiatan pendakian.

Sementara, hujan belum reda, semakin deras mengguyur Jakarta. Perbincangan mengenai semeru pun usai, berganti dengan ‘tebak – tebakan’ berapa lama lagi hujan akan benar – benar reda.  






Friday, January 10, 2014

Kaos Mahameru


Reza duduk terpaku di bangku warung pojok. Jemarinya memilin – milin benang nilon. Pria berambut gondgrong ini merupakan mahasiswa salah satu Universitas swasta di Jakarta. Kumisnya tipis bak aktor film porno Amerika. Perawakannya tinggi meski tidak menyamai tiang listrik. Sesekali tersenyum, namun lebih banyak terbahak. 

Lelaki berusia 19 tahun ini mengaku sebagai penikmat alam. Entah alam mana yang ingin ia nikmati. Alam dunia, alam kubur atau  alam akhirat? Entah lah. Yang jelas ia mengaku pernah mendaki gunung Gede di Jawa Barat. Baru satu gunung itu yang telah didakinya.

Malam itu, 05 – Januari – 2014, dahan – dahan pohon bergoyang lambat, sesekali semakin kencang membuat poninya tersibak dan akhirnya memperlihatkan bentuk jidatnya ke setiap makhluk yang ada di warung pojok. Sebuah warung  yang terletak di sebelah Tempat Pemakaman Umum Jeruk Perut.

Reza terkesan telah mendaki puncak Mahameru. Hal itu terlihat dari koas hitam bermotif semeru dan mahameru yang ia kenakan. Beberapa kali kaos itu ditonjolkannya dengan berbagai cara, baik dengan membusungkan dada maupun memajukan dua bahunya, sehingga catatan di punggung kaos terlihat jelas.  Namun, kesan pernah ke Mahameru sontak sirna seiring pertanyaan yang dilontarkannya.

“Ongkos ke semeru berapa bang?,” tanyanya dengan tatapan fokus ke Wiro yang duduk tepat di depannya.

Wiro yang sedang memainkan gitar sontak tercengang sejenak, matanya mengarah ke Reza yang tengah menunggu jawaban. Wiro mengira ini adalah pertanyaan iseng dari seorang mahasiswa badung tapi cerdas. Tapi, setelah Reza mengulang pertanyaan yang sama, Wiro menaruh keyakinan bahwa Reza memang benar – benar ingin tahu.

Akhirnya, Wiro menjawab dengan cara bercanda. Keingintahuan Reza dijawab dengan mengoceh sambil diiringi petikan gitar tak beraturan. Dan langsung mendendangkan nada yang kebetulan jemari Wiro berada pada posisi kunci A Minor.

“Tergantung kau mau naik angkutan apa. Ada tiga angkutan pilihan. Paling mahal naik jeep, kalau mau lebih murah, naik pick up, ingin lebih murah lagi kau naik mobil gerobak yang mengangkut masyarakat setempat,” dendang Wiro.

Reza tersenyum, pandangannya mengarah ke atas. Bukan menatap langit, tapi atap seng yang telah berkarat dan sedikit bocor. 

“Ongkosnya berapa bang?,” Reza kembali meminta jawaban pasti.

“Ongkosnya tergantung cara komunikasimu, kalau kau pintar menawar, harga bisa turun. Tapi kalau kau diam saja, mampuslah kau kena tipu,” Wiro melanjutkan dendangnya.

Reza tertawa terbahak – bahak. Hampir 10 menit ia tertawa tanpa berhenti. Tawanya terhenti saat sehelai kumisnya jatuh dan menempel di bibir. Kumis terjatuh itu terlihat karena Reza mengumpat seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Entahlah.

Setelah itu, Reza terdiam. Matanya seperti orang tercengang. (mungkin) pikirannya menerawang atau mengingat – ingat jadwal kuliah yang kerap ia lupa. Namun, hingga gitar di tangan Wiro berpindah tangan, belum ada kalimat yang keluar dari Reza kapan ia benar – benar berangkat ke malang.

“Reza, lelaki itu harus berkelana. Tapi jangan lupa bercelana!,” Hardik wiro.

Reza menyalakan rokok, angin terus berhembus menunggu ayam jantan berkokok.