Mimpi Alaska itu tiba – tiba buyar saat ponsel Wiro
berdering, Wiro secara refleks mengangkat tanpa melihat siapa penelponya.
“dimana cok” kata suara di seberang sana
“di Cilandak,”
“Ustadz Busyro mau ka Ciputat, beliau pengen ketemu, sebentar lagi sampai dari
Bekasi,” sambungnya memberi informasi.
Kesadaran Wiro sontak langsung kembali penuh dan
mengenali suara di ujung ponsel. Ya, itu Suara Zul ‘Ashfi, teman seangkatan di
MTI Candung yang akrab disapa Munjid.
“oke fi,
langsung meluncur, kita ketemu dimana?,” tanyaku meminta kepastian tempat
“di Toko Ambo yo,”
Telepon terputus. Wiro termenung beberapa sesaat.
Ingatannya melayang ke sewindu silam. Bukan tanpa sebab, karena orang yang
dikabarkan akan datang adalah sosok ustadz saat Wiro menimba ilmu di sebuah
pesantren di Bukit Tinggi Sumbar. Lebih dari itu, kesan terhadap sosok
bertambah dalam, lebih dari sekedar Ustadz, sebab selama di pesantren tersebut
Wiro tinggal di rumah sang Ustadz. Tidak
hanya pelajaran kitab/agama yang diberikannya pada saat itu, ilmu kehidupan,
ilmu mencari pangan, ilmu bermasyarakat, bahka tenaga dalam (meski tidak
diterima akal Wiro), diajarkan oleh sang ustadz. Singkatnya, Sosok Ustadz bak
orang tua angkat di masa remaja Wiro, bahkan Wiro memanggil istri Ustadz dengan
sebutan “Ummi”.
Kain penutup kasur begitu berantakan. Dua buah bantal
yang tersedia sebelum tidur, kini tinggal satu, mungkin diambil teman kamar
sebelah, sebab bantalnya kemarin basah akibat atap kamar yang bocor. Berbagai pertanyaan
di benak Wiro melayang. Seperti apa Ustadz sekarang. Ya, sejak meningalkan
Candung pada bulan Juni tahun 2005 silam, Wiro tidak pernah lagi menguhubungi
beliau untuk sekedar menanyakan kabar. Wiro merasa sebagai anak yang lupa
terhadap orang tua angkatnya. Muncul rasa segan yang timbul ketika nanti
bertemu. Berbagai pertanyaan menggerayangi pikiran Wiro, Bagaimana Wiro akan bereaksi dan bertutur
kata? Kalimat apa yang akan pertama diucapkan untuk menyambut sang Ustadz?, dan
terlebih lagi, bagaiman reaksi ustadz saat bertemu nanti.
Keraguan muncul. Terpikir untuk memutuskan tidak jadi
datang dengan menyebutkan alasan – alasan. Tapi, betapa berdosanya (secara
etika) jika Wiro tidak menemui Ustadz yang telah melakukan perjalanan jauh,
meski kedatangannya ke Jakarta untuk urusan – urusan lain. Tekad dibulatkan
untuk berangkat Ciputat. Wiro beranjak dari kamar menuju kamar mandi. Mandi
dengan kecepatan kilat dan berpakaian dengan secepatnya. Wiro akhirnya menuju
Ciputat tanpa memanaskan terlebih dahulu sepeda motor yang ditunganginya.
Ciputat tampak sepi, maklum akhir pekan, dan juga karena
suasana libur, tidak ada kaitan sepi Ciputat dengan peristiwa pengrebegan yang
menewaskan 6 teroris. Toko Kitab Munjid juga sepi, si empunya toko tak
terlihat. Wiro menelepon Munjid untukmemberi tahu kedatangaannya. Munjid
menjawab singkat, dan menyuruh menunggu sebentar, ia akan segera datang. Benar saja, belum habis sebatang Rokok yang
dihisap Wiro, Munjid pun muncul. Menurutnya, Ustadz sedang berkunjung ke sebuah
pondok pesantren milik pendiri FPI di daerah Kampung Utan. Nanti akan datang ke
toko.
Dua lelaki alumni MTI Candung angkatan 2005 ini terlibat
pembicaraan singkat. Hanya pembicaraan ringan seputar kapan kedatangan ustadz.
Ngantuk kembali menyerang Wiro, sebab semalam begadang hingga menjelang subuh.
Munjid duduk di depan komputer, bermain game balapan mobil. Wiro berbaring di
belakang rak buku yang terdapat ruangan kecil berbatasan dengan tembok. Sembari
masih ngobrol ringan, Wiro kembali tertidur.
Mimpi Wiro kembali buyar. Kali ini bukan tentang Alasaka
di benua Amerika. Tapi Mimpi pertemuan dengan sekitar delapan ustadz, pengajar
di MTI Candung dahulu. Hanya dua orang yang wajahnya sangat jelas dikenali
dalam mimpi itu, yaitu ustadz Busyro dan M Nur kepala Aliyah.
“Cok, Ustadz Busyro udah sampai,” ujar Munjid
membangunkan Wiro sambil langsung berbalik ke ruangan depan.
Wiro mengusap – usap matanya, punggung terasa berat dan
pegal. Ia bangkit sembari membenarkan Jaket motif tentara Jepang. Di depan,
ustadz Busyro baru naik ke ruangan Toko, ia mengenakan baju Koko dan peci
berwarna putih. Badannya jauh lebih gemuk dibanding 8 tahun lalu. Wiro
menjulurkan tangan untuk menyalami ustadz. Ada rasa melow yang muncul. Tapi
Wiro menutupinya karena banyak orang di Toko tersebut.
“Wiro ya?,” tanyanya singkat.
“iyo Ustadz,” jawab Wiro dengan lebih singkat.
Ada sekitar 8 orang duduk dengan posisi setengah
melingkar di ruang tengah toko. Beberapa Alumni MTI Candung hadir. Pertemuan
yang membentuk kelompok kecil terlibat berbagai tema pembicaraan. Tentang kitab
– kitab kuning, kondisi Tarbiyah saat ini dan program plan tentang konsep
dakwah Tarbiyah, dan cerita – cerita ustadz tentang perjuangan FPI yang kini
digelutinya. Percakapan antara Wiro dan Ustadz Busyro berlangsung di sela –
sela pertemuan.
“Ummi, apa kabar Ustadz?,” tanya Wiro.
“Alhamdulilah, Ummi sehat. Ummi baru aja manelpon,
manyampaikan salam ka Wiro,” jawabnya sambil menyuruh seseorang membelikan
rokok.
Pembicaraan kembali berlanjut. Ustadz memaparkan
rencananya untuk membuat sebuah acara seminar yang membahas tentang bid’ah. Ia
menanyakan kapan teman – teman yang ada di Ciputat dapat pulang ke Sumbar untuk
merealisasikan rencana tersebut. Tapi tak ada jawaban pasti kapan. Menurut
ustadz, hasil seminar tentang bid’ad itu nantinya akan dibukukan dan
diterbitkan.
“Wiro udah masuk tarekat?,” tanya Ustadz
“belum Ustadz,”
Ustadz lalu menjelaskan beberapa aliran tarekat yang ada
dan berkembang di Indonesia, terutama Di Sumbar. Menurutnya, ia memilih tarekat
saman sebab telah banyak guru – guru yang mengembangkan tarekat naqsabandiyah.
“Tarekat itu penting untuk melembutkan hati dan merefresh
pikiran,” ujarnya menjelaskan, “ambo perintahkan ke Wiro untuk masuk tarekat
Saman, biar si Putra yang Bai’at, nanti dilanjutkan dengan dzikir – dzikir
ringan saja dulu,”
Wiro menganguk ringan mendengar mandat tersebut. Berbagai
pertanyaan kembali menggerayangi pikirannya. Kenapa setelah 8 tahun tak bertemu
dan tak berkomunikasi, tiba – tiba ustadz memerintahkan untuk tarekat? Apa ini
yang disebut bahwa beliau memiliki karomah, mampu mengetahui aktifitas ibadah
Wiro setelah tidak lagi tinggal di rumah Ustadz. Wiro tidak mengerti dengan dunia
tarekat, kuliahnya juga mengambil jurusan yang tidak berbau pelajaran agama
islam. Wiro bertanya dalam hati, apa
maksud pesan ustadz yang terkesan mendadak ini.
Wiro duduk terpaku, tatapan tetap mengarah ke Ustadz yang
masih menjelaskan beberapa kaji agama. Pikiran dan hati Wiro bergemuruh. Meski
memberi jawaban menganggguk, Wiro belum memutuskan apakah akan melaksanakan
perintan sang Ustadz atau tidak. Biarlah beberapa hari atau minggu ke depan,
Wiro baru memutuskan untuk menjawab titah sang Ustadz Rajo Alam.
Tidak ada pertemuan yang abadi. Ustadz pun akhirnya
meminta ijin untuk pergi. Jika ada
waktu, ia akan kembali sebelum pulang ke bukit tinggi. Ustadz dan alumni mengabadaikan momen dengan ponsel genggam. Wiro meminta untuk poto berdua sebagai
kenang – kenangan. Tak banyak kata yang Ustadz ucapkan. Beliau menghilang
bersama mobil Avanza yang mengantarkan beliau ke tempat tujuannya. Wiro termenung. Ia melihat poto yang baru
dijepret. Avanza tak tampak lagi.

