![]() |
| Poto: Idham Siregar |
Matahari masih terik meski hari menunjukkan pukul 15:00 WIB. Di rumah kontrakan di belakang Kuin Mart kompleks dosen UIN Jakarta, ruangan utamanya seperti kapal pecah. Puntung rokok berserakan, bekas bungkus biscuit laksana ukiran di pinggir bingkai kaligrafi, tidak tertata, serta sejumlah perlengkapan pendakin gunung seperti Tenda, matras, 2 buah career, jaket-jaket tebal, kompor, nesting dan beberapa keperluan lainnya.
Fei si empunya kosan dan Adi sedang belanja di Pasar Ciputat. Sementara, Sukro belum juga sampai dari Bekasi. Ahmed balik lagi ke kosannya, mengambil barang yang tertinggal. Sedangkan rombongan Pamulang – Angon dan Noel- belum juga kelihatan batang hidungnya. Aku duduk bersandar di dinding, ku ambil rokok Djarum super, ku hisap dengan penuh pemaknaan. Belum habis satu batang, tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu dengan sangat urakan.
”Woy woy packing yok packing” ujar sumber suara dengan penuh semangat. Ternyata Adi pelakunya, anggota tertua di tim pendakian. Seorang pria yang pada awal perkuliahan mengaku bersuku Betawi. Telisik punya telisik, ternyata ia ketururan Tegal.
“Yang lain mana, Dham? Sukro belum nyampe juga?” Tanya Adi dengan mata sedikit melotot
“Belum ada satu orang-pun yang datang, mungkin bentar lagi juga nyampe” ujarku.
“Ahh gimana sih ini bocah-bocah, nggak ada yang disiplin!” Fei menambahkan.
Aku melihat debu yang menempel di wajah mereka meleleh karena cucuran keringat, wajar kalau mereka agak kesal. Sebab setelah lelah berbelanja sedangkan teman-teman yang lain belum juga tiba.
“Assalamualaikum!” Sukro dan Ahmet memberi salam.
“Wa’alaikumsalam, lama banget lu pada?” Adi langsung melayangkan pertanyaan.
“Gua harus main kucing-kucingan dulu ma bokap gua om” kata Sukro,
“Kenapa emang, Kro?” tanyaku.
“Bokap gua juga lagi mau naek gunung, gua lariin aja semua barangnya!” ujarnya lagi. Kami tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban yang sedikit tengil.
“Wah parah lu, Kro!” Sambung Fei,
“Ya bocah, udah tua bukannya di rumah aja ngurusin anak ma bini, malah belagu mau naek gunung” kami pun tersenyum sembari tertawa sekedarnya.
“Yok lah, packing langsung yok,” Adi memecah kebuntuan, kami pun langsung membereskan semua barang bawaan. Pada saat itu, rombongan Pamulang akhirnya tiba. Tanpa banyak basa-basi, mereka juga ikut packing. Tidak banyak kata yang keluar, semua bekerja dengan khidmat bak tentara yang akan berangkat perang. Pakaian dijadikan satu, begitu juga peralatan, logistik/konsumsi, medis dan kamera di tas kecil, sedangkan makanan ringan ditaruh di career bagian atas agar mudah diambil. Tiba tiba,
“Fuih fuih, hoak hoak, anjing!!”
“Kenapa om?” Tanya kami ke sumber suara.
“Ini minyak goreng ya? Gua kira nutrisari! Ujar Adi kesal dan mengumpat. Seketika tawa kami pun pecah tanpa bisa ditahan lagi,
“Santai aja packingnya, jangan tegang tegang hahaha” Fei menimpali kesialan Adi. Semua barang sudah rapi, career dan daypack berbaris di dinding, kami pun mengambil posisi melingkar dengan berdiri.
“Ok kawan-kawan” Sukro Sebagai ketua rombongan membuka obrolan, “Seperti rencana kita sebelumnya, misi pendakian ini untuk mendeklarasikan MAHACHALA, gua harap kita bisa solid dan enjoy. Semua keputusan satu komando, ok!”
Kami mengangguk. Di antara kami bertujuh, cuma Sukro yang sudah memiliki pengalaman pendakian gunung. Maklum, dia sudah semester 4 di Universitas ATMAJAYA sebelum memutuskan pindah ke UIN Jakarta (dia kemudian pindah ke Unpad bandung setelah melahap 2 semester di UIN).
“Kita foto bareng dulu di fakultas ya” ujarnya lagi.
Kami melangkah menuju Fakultas Psikologi. Saat melintasi TK Ketilang, Adi minta gantian membawa career, dia kecapekan katanya. Selesai mengambil foto di kampus, kami melanjutkan ke perempatan Kampung Utan, lalu naik metromini 510 menuju Kampung Rambutan. Berdesak-desakan, bau badan, asap yang sangat hitam, menjaga tas dan dompet masing-masing hingga sulit bernafas. Begitulah pemandangan yang kami rasakan di alat transportasi yang memang terkenal padat penumpangnya itu. Ongkosnya yang hanya Rp.2000 membuat angkutan ini menjadi favorit di kalangan mahasiswa dan orang-orang menengah kebawah yang tidak memiliki sepeda motor.
Kami tiba di Terminal Kampung Rambutan sekitar pukul 20:00 WIB malam. Suasana terlihat begitu ramai dan sibuk, pedagang asongan berlalu lalang menjajakan rokok dan permen, para kenek bus tak henti-hentinya berteriak mencari penumpang. Para penumpang yang baru datang, sebagian ekpresi mukanya terlihat bingung, mungkin mereka baru pertama kali ke Jakarta. Para pengamen bersemangat mendendangkan lagu hampir di setiap bus yang ngetem, sementara yang tidak kalah menyedot perhatian adalah bau pesing yang begitu menyengat di setiap penjuru terminal antar provinsi itu.
Kami duduk di sebelah penjual kopi dan memesan tiga gelas kapal api hitam. Adi dan Sukro berkeliaran menanyakan jadwal bus menuju Cibodas. Fei dan Ahmet pamit ke toilet. Aku, Angon dan Noel tetap stay menjaga barang, “Tak apa lah, toh kopi dan rokok kan tersedia” ucapku dalam hati. Angon bersandar ke pagar, Marlboro menthol terselip di sela-sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Noel duduk di tengah tumpukan career, sedangkan posisi dudukku tepat di antara mereka.
“Kau udah berapa kali naek gunung, Ngon?” tanyaku,
“Baru pertama kali ini, om” jawabnya dengan senyum santai.
“Kalau kau, Nol?” Aku mengalihkan wajahku ke Nola
“Gue juga perdana, om” ujarnya sembari menyeruput kopi.
“Lah, lu sendiri dah berapa kali, Dham?” Angon balik bertanya.
“Ini yang pertama di Pulau Jawa” ku sandarkan badan ke pagar di sebelah Angon.
Tidak berapa lama, akhirnya Fei dan Ahmet sudah balik dari toilet. Kemudian Sukro dan Adi juga sudah berkumpul dan langsung melaporkan hasil surveinya. Jika tetap mau berangkat sekarang, kami harus bersedia berdiri karena penumpang sangat ramai, dan ongkosnya Rp.12.000. Setelah musyawarah, kami putuskan nanti saja berangkat. Selain karena capek berdiri, juga repot menjaga barang-barang sebab bagasi pasti sudah penuh. Ku lirik jam menunjukkan pukul 20:40 WIB, kaki ku luruskan, mulut menguap karena lelah, punggung terasa masih berat. Aku meminta Fei memijiti punggungku, badan pun segar kembali, kantuk seketika hilang, semangat juga mendadak bangkit lagi, lambat laun terdengar lagu batak mengalun dari sebuah bis, aku teringat kampung.
Kami berangkat menuju Cibodas sekitar pukul 22:50. Tak henti-hentinya kami ngobrol di dalam bis, bercanda dan tertawa lepas hingga lelah. Sebagian tertidur, masuk ke mimpinya masing-masing. Aku masih terjaga, ku layangkan pandangan kosong ke luar dari jendela bis, hanya ada beberapa lampu jalan tol dan pepohonon yang bergoyang lembut.
Jumat, 26 Mei 2006
Teman-teman terbangun ketika bus berhenti di luar pintu Tol. Udara makin dingin. Ku ambil air mineral dan menyuruh mereka minum. Kami menggoda pengamen wanita yang baru saja selesai menyanyikan lagu sunda, sekilas tampak lumayan di remangnya lampu bus malam. Dia mencolek pinggangku, aku hanya tersenyum datar. Kurang lebih jam 02:00 WIB dini hari kami tiba di pertigaan Cibodas. Setelah mengambil career-career di bagasi dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, bis pun melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan kami di pinggir jalan. Udara dini hari Cibodas begitu dingin, masing-masing dari kami telah memakai jaket. Sekitar 50 meter dari tempat kami berdiri ada emperan toko yang lumayan lebar, kami memutuskan untuk istirahat di sana, tempatnya nyaman, ku keluarkan rokok dari saku jaket.
“Istirahat di sini atau langsung ke Pos Informasi, Kro?” tanyaku ke Sukro.
“Jam segini udah nggak ada angkutan om, jalannya juga gelap, jarang ada lampu, dan di sono itu dah nggak ada warung yang buka lagi. Menurut gua, kita istirahat di sini aja, lagian batu batre harus beli lagi, takutnnya pada ngedrop di gunung. Pagi baru kita ke atas” Sukro menjelaskan.
“Tidurnya shif-shifan dong, sebagian jagain barang” kata Adi
“Ya udah, gua tidur duluan ya om, ngantuk berat ni” pinta Nola.
“Yee lu mah pelor (nempel molor) Nol” Ahmet meledek Nola.
Dua orang penjual kupluk dan sarung tangan mendekati kami, menawarkan dagangannya, aku membeli satu pasang kaos kaki dan kupluk, temen-temen juga ada yang membeli. Mamang penjual itu tampak semangat mempromosikan dagangannya, lidahnya begitu lihai merangkai kata yang menurutku mengalahkan sales-sales profesional berdasi. Harga kaos kaki dan kupluk beragam dan sangat berbeda dengan harga di Jakarta, di sini lebih mahal. Setelah laku beberapa, mereka pun pergi mencari calon pembeli berikutnya.
Pukul 05:00 pagi kami bergerak menuju musholla diseberang jalan, selain bisa sholat berjamaah, kami juga bisa mandi dan bersih-bersih dari pada ke toilet umum yang tarifnya 2000/orang untuk mandi. Selesai ibadah subuh kami memeriksa kembali perbekalan, sebagian langsung membeli perlengkapan-perlangkapan yang belum sempat dibeli di Jakarta. Setelah semuanya rapi kami siap melanjutkan perjalanan.
Awalnya kami berniat naek angdes (angkutanj desa), tapi mendadak terjadi perubahan rencana, yaitu berjalan kaki ke Pos Informasi. Selain untuk menghemat anggaran, ya hitung-hitung pemanasan. Sekitar jam 12:00 siang, kami sampai di depan sebuah masjid lalu berhenti untuk sholat Jumat. Career dan tas kami titipkan ke warung, dengan perjanjian – tidak tertulis- kami harus membeli makan di situ nanti. Aku sama sekali tidak mengerti isi khutbah dari sang khatib karena memakai bahasa Sunda.
Selesai sholat Jumat dan makan, kami melanjutkan langkah dan akhirnya tiba di Pos pendaftaran dan informasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango jam 14:05. Sukro melapor ke petugas, menunjukkan berkas-berkas sebagai tanda bahwa kami telah membooking seminggu yang lalu. Petugas pun memberi lembaran untuk menuliskan nama seluruh anggota pendakian, daftar makanan yang bisa menyebabkan sampah plastik juga di tulis. Sangat repot. Akhirnya beres juga proses registrasi, tapi menurut petugas masih ada lagi pemeriksaan di pos pertama.
Kami melanjutkan langkah lurus ke atas, di kanan dan kiri jalan banyak warung menjual souvenir kaos dan berbagai macam oleh-oleh khas Gunung Gede Pangrango, Cibodas. Setelah berjalan sekitar 7 menit, kami sampai di sebuah dinding batu tulis yang bertuliskan selamat datang di Gunung Gede Pangrango. Tak lupa kami mengabadikan foto kemudian melanjutkan langkah di bebatuan yang tersusun rapi seperti anak tangga.
“Paha gua dah kerasa pegel om, mantap!” Adi berkelekar.
“Hahahaha” kami sambut dengan tawa.
“Nikmati aja om” Ahmet menambahkan.
Pos I terletak tidak jauh dari penghujung anak tangga. Ada beberapa petugas dan ranger gunung sedang melayani pendaki lain. Sukro mengambil berkas pendaftaran dan menemui petugas tersebut. 10 menit kemudian dia kembali lagi, kami pun berdiri melingkar dengan career dan tas yang sudah di punggung. Adi memimpin doa keberangkatan, kemudian tos bersama untuk semangat dan kekompakan. Bismillah, kaki pun menyusuri jalanan gunung yang jalurnya tersusun bebatuan.
“Mendaki gunung lewati lembah, bersama teman bertualang” Nola mendendangkan soundtrack kartun Ninja Hatori.
“Naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali” Adi juga bernyanyi dengan lagu yang lain.
Lebar jalan hanya sekitar satu setengah meter dan masih bebatuan, terpikir olehku bagaimana mereka menyusun batu-batu ini dengan rajin dan telaten hingga membentuk seperti tangga. Ranting pohon saling bergesekan, burung pun tak henti-hentinya berkicau. Ramai sekali pengunjung yang hanya ingin ke air terjun, sehingga beberapa kali kami harus rela berhenti untuk mempersilakan mereka lewat, sebab kebanyakan adalah anak-anak dan orang tua.
Keringat deras bercucuran, terasa haus di tenggorokan, ku ambil aqua yang sudah dicampur dengan nutrisari, tak terbayangkan segarnya ketika air melewati tenggorokan. Setelah melewati tangga batu, kami sampai di jembatan kayu yang lumayan panjang, di sini kita bisa ngetrack dengan santai tanpa harus menguras tenaga. Di samping itu, langit juga sangat terbuka dan di sebelah kami terlihat puncak Gunung Pangrango dengan gagahnya.
“Besok kita berdiri di puncak sana om!” Sukro meyakinkanku, darahku terasa mendidih, semangat kian bergelora.
“Istirahat bentar nggak om?” Adi melempar ide.
“Nggak usah, nanggung om bentar lagi juga nyampai pos II Panyancangan” ujar Sukro.
Benar saja, dari ujung jembatan kayu, kami hanya mendaki sebentar dan langsung terlihat pos II bertuliskan Panyancangan. terdapat bedeng kira-kira berukuran 4X4 meter, belasan orang sedang istirahat, di sebelah kanan ada jalan menurun, jalan menuju air terjun Cibeureum. Hanya butuh waktu 5 – 7 menit kami sampai di air terjun. Tingginya sekitar 30 meter, cipratan airnya sangat jauh dan dingin. Sekitar 70 meter dari air terjun utama, ada satu air terjun lagi yang tidak begitu banyak jatuh airnya. Ada beberapa bedeng untuk istirahat para pengunjung di kawasan itu. Setelah cukup mengambil air dan berfoto-foto, kami kembali ke Panyancangan.
Pos Panyancangan sudah sepi, cuma ada dua pendaki yang sedang duduk sambil menyeruput kopi. Kami putuskan untuk melanjutkan pendakian karena jam menunjukkan pukul 17:20. Sore telah menua, jalur pendakian sudah tidak terlalu terang sebab lebat dan rindangnya pohon. Kami terus menanjak. 15 menit berjalan, kami bertemu dua jalur berbeda tetapi akan menyatu juga di atas. Satu jalur landai dengan jarak tempuhnya agak jauh, dan yang satu lagi jalurnya cukup terjal serta dipenuhi akar-akar pohon untuk pegangan, tetapi jaraknya lebih pendek. Aku dan Fei memilih jalur yang terjal, sedangkan yang lain memilih jalur landai yang memutar. Aku dan fei lebih duluan sampai di pertemuan dua jalur dengan selisih sekitar 5 menit, waktu yang lumayan cukup untuk merokok sambil menunggu teman-teman yang lain.
“Join rokok lu dong om?” pinta Adi.
“Jangan kebanyakan merokok, perjalanan masih sangat panjang om” Sukro mengingatkan dengan gayanya yang sangat sok bijak.
Langkah pun berlanjut. Sekitar pukul 18:05, kami sampai di sebuah bedeng kecil yang tidak ada penutup depannya. Terdapat kayu besar melintang dan tanah yang agak becek disekitarnya, kami berhenti sejenak untuk mempersiapkan senter sembari mempersilakan waktu maghrib berlalu. Masih ada sisa peringatan orangtua di benak kami yang menjelaskan bahwa pada waktu maghrib banyak setan yang berlalu-lalang.
Angon sudah menyandarkan badannya ke dinding bedeng dengan mata yang terlihat sedikit terpejam. Aku memilih duduk di atas batang pohon besar itu. Sedangkan yang lain mengambil senter dari career masing-masing, kami membuka satu bungkus biscuit untuk sekedar menambah tenaga, aku menyalakan rokok dulu baru mengambil 5 potong biscuit yang menjadi jatahku.
Kami melanjutkan perjalanan usai istirahat selama setengah jam. Terlalu lama istirahat membuat badan akan semakin kedinginan dan ngantuk, Adi memimpin doa peralihan matahari dengan bulan. Senter telah mengeluarkan cahaya, Fei berada di barisan terdepan sebagai pembuka jalur dan hanya mengandalkan senter korek api gas. Dia juga yang menggendong career terbesar berukuran 120 liter, aku berada dibarisan paling belakang sebagai sweeper. Sungguh susunan yang tidak adil menurutku, sebab dua manusia Pulau Sumatera seolah-olah seperti mengawal dan melindungi lima makhluk siempunya pulau. Namun Langkah telah diambil, sangat repot untuk mengatur ulang formasi.
“Hati-hati kepala, ada dahan pohon” Fei memberi peringatan, Angon melanjutkan pesan yang akhirnya sampai juga di telingaku.
Kami melangkah dengan sangat hati-hati. Berada di tengah-tengah hutan yang sangat lebat dan hanya mengandalkan cahaya senter, bahaya bisa datang kapan saja, baik ular dan jenis binatang lainnya maupun lubang-lubang di jalan setapak yang bisa membuat kaki terkilir jika terperosok. Setelah beberapa lama menanjak, kami tiba di tanah landai yang tidak terlalu luas, kami cuma lima menit istirahat sekedar menormalkan nafas. Gerimis turun dengan tipis, dingin dan kegelapan malam tetap kami tembus. Intensitas curah hujan memang sangat tinggi di Gunung Gede Pangrango. Jika menunggu hujan reda, mungkin akan berhari-hari baru sampai di puncak.
Beberapa kali kami menemui pohon besar melintang, harus sedikit memanjat untuk melewatinya. Kelelahan merasuki fisik, beberapa teman berulang kali terlihat menguap, sebab dari semalam kurang tidur. Adi dan Ahmet sering meminta untuk istirahat, dan selalu hampir ketiduran. Namun dengan sabar kami beri semangat agar mau melanjutkan perjalanan, kerena kami belum menemukan tempat landai yang cukup untuk mendirikan tenda.
Kali ini Angon minta berhenti sejenak untuk kencing, sudah tidak terhitung lagi berapa kali dia buang air kecil. Kalau pun dia kencing di celana, toh kami juga tidak bakal tahu. Ahmet dan Adi kembali minta istirahat saat menemui batu lebar di tengahtrack. Tanpa menunggu persetujuan, mereka langsung merebahkan diri dan memejamkan mata. Kami paksa mereka untuk duduk tapi tidak mampu bangkit, kami saling pandang, tidak mungkin berlama-lama di sini karena mungkin saja akan ada pendaki lain yang akan melintas. Sementara menurut penjelasan Sukro, di pos depan yaitu Pos Air Panas, cuma ada sedikit lahan kosong untuk mendirikan tenda, jika telah digunakan rombongan pendaki untuk ngecamp, maka kami harus ke pos tiga. Kami tidak bisa memprediksi berapa jauh lagi ke pos air panas, akhirnya Fei dan Nola mensurvei ke atas, mencari tempat landai yang cukup untuk mendirikan tenda.
Adi dan Ahmet sudah tidak bisa diajak berkomunikasi lagi, aku meminum antangin untuk menghangatkan badan, setengah jam kemudian Fei dan Nola kembali. Menurut keterangan mereka, Pos Air Panas sudah dekat dan hanya membutuhkan 15 menit. Adi dan Ahmet pun kami bangunkan dan diberikan penjelasan bahwa jika sudah di pos, mereka akan lebih nyaman tidur, mereka pun menurut.
Sekitar 20 menit berjalan, kami tiba di Pos Air Panas, di sebelah kiri terdapat bangunan tua yang sudah tidak layak untuk berteduh, sedangkan di sebelah kanan terdapat bangku panjang yang terbuat dari batu, tingginya sekitar satu meter. Angon dan Nola bertugas memasak, Ahmet duduk sambil bersandar di dinding bedeng.Aku, Fei dan Sukro mendirikan tenda, Adi ikut membantu karena tenda ini milik dia, dan dia yang paling tahu mengenai kekurangannya. Kami berdebat dalam meletakkan posisi tenda, sebab sebagian tanah di situ sangat becek, akhirnya kami letakkan tepat di depan pintu bedeng. Semua pakaian kami masukkan kedalam tenda, logistik/konsumsi ditaruh di luar agar mudah mengambilnya, sedangkan cereer dan sisanya kami taruh di belakang tenda.
“Minum bandrek dulu om biar badan hangat” ujar Nola sambil membawa 2 gelas minuman ke arah kami.
“Ahmet sama Adi suruh minum dulu tuh biar nggak ngedrop” ujarku.
“Langsung masuk ke tenda aja kalian!” Fei menambahkan.
Kabut terlihat sangat tebal di sumber air panas, riaknya mengeluarkan bunyi bergumuruh, angin berhembus kencang membuat badan kian terasa dingin dan menggigil. Jaket tebal yang ku pakai belum cukup ampuh memberi hangat, justru asap rokok djarum super yang lumayan bisa menyumbang sedikit kehangatan. Teman-teman juga telah memakai jaketnya masing-masing, lengkap dengan sarung tangan. Kami masak nasi goreng instan pemberian ibunya Nola, dan menghasilkan tiga piring. Satu piring untuk Adi dan Ahmet, sedangkan sisanya kami santap bersama di luar tenda.
“Nikmat banget Nol, sampein makasih buat emak lu ya” Angon mengomentari menu makan malam kami.
“Kalau ada ayam goreng, bakal lebih nikmat lagi ni” kata Sukro “iya nggak Dham?”
“Apalagi sambil dengarin musik, om”
“Hahahahaha” kami tertawa lepas
Angon dan Nola sudah masuk ke tenda, mereka terlalu cepat menyerah pada udara, di luar tinggal kami bertiga, menikmati dua gelas bandrek susu.
“Om, kalau jalannya masih lambat kaya tadi, besok kita bakal kemalaman nyampe puncak” kata Sukro
“Emang masih jauh Kro?” tanyaku.
“Jauh banget om! Dari kandang badak aja masih 4 jam-an lagi, entar di situ misahnya jalur ke Gede dengan yang ke Pangrango”
“Besok sebelum maghrib kita harus sudah nyampai puncak, paksa aja yang malas-malasan jalan” ujar Fei sambil menyeruput bandrek.
“Bendera ada dimana om?” tanya Sukro.
“Ada di career yang ku bawa tadi” ujarku.
“Serius ni mau mendeklarasikan Mahachala?” kata Fei, “Menurut gua, tantangannya itu bakal lebih berat setelah pendakian ini”
“Serius om” jawab Sukro dengan suara rendah sambil menghela nafas.
Aku terdiam, jamariku beku hingga susah menggenggam, ku tengadahkan wajah keatas, aku melihat ada tujuh bintang yang cahayanya lebih menonjol dibanding yang lain.
“Tidur nyok!” ajak Fei.
Kami pun masuk ke tenda, teman-teman sudah tertidur, aku mengambil posisi di dekat pintu. “Bangun jam berapa kita?” tanyaku, tapi tak ada jawaban.
Sabtu, 27 mei 2012

Aku terbangun ketika jarum jam menunjukkan angka 05:35. Rasanya masih malas untuk keluar tenda, tapi tenggorokan sangat kering, aku terserang haus, dengan setengah memaksakan diri, aku beranjak keluar. Pagi sudah tidak membutuhkan senter, aku minum air aqua yang masih ada segelnya, segar betul. Aku menghampiri Fei, Sukro dan Ahmet, pagi ini aku kalah dengan mereka yang bisa bangun lebih dahulu. Susu panas dan biscuit roma sudah terhidang, asap dari aliran air panas lebih sedap dipandang dari pada asap yang keluar dari mulut mereka dan sebentar lagi juga akan keluar dari mulutku.
Ahmet sudah terlihat sangat segar dibandingkan dengan kondisi semalam, Adi yang baru keluar dari tenda pun terlihat sangat fit, menguap panjang dan berteriak lantang. Pagi itu kami sarapan nasi dan ikan sarden. Lebih dari tiga jam kami habiskan waktu di Air Panas, jam sembilan kurang kami packing dan melanjutkan perjalanan.
Setelah jalan menurun, kami melewati aliran air panas, di sebelah kanan dibatasi dengan tali tambang lalu jurang dan tebing di sebelah kiri. Ada bedeng kecil setelah aliran air panas, tidak banyak pemandangan yang dilihat karena tertutup pepohonan yang sangat lebat. Kami tidak berhenti, langkah berlanjut melewati jalan setapak yang semak, kami harus mengahalau belukar agar ranting dan daun tidak mengenai wajah. Kami masih bisa ngetrack dengan santai karena masih landai, mengikuti aliran air yang ada di sebelah kiri jalan. Banyak batu-batu besar terhampar di sekitar jalan yang kami lalui.
Pos Kandang Batu merupakan landai yang lebih luas dari Pos Air Panas, ditutupi pepohonan sehingga tidak panas sama sekali, ditambah hamparan daun-daun yang sudah mengering. Kami beristrahat selama 10 menit, tiga jepretan kamera diambil untuk dokumentasi. Dua orang pendaki menyapa kami sambil berlari terburu-buru untuk turun.
“Nyok om, jalan lagi!” kata Sukro.
Kami melewati jembatan pendek dan langsung bertemu track bebatuan yang licin. Setelah itu, air terjun yang tingginya hanya sekitar dua meter pun tersaji. Kami mengambil jalan ke kiri langsung menanjak, tracknya sempit, hanya bisa untuk satu orang di atasnya, ada dua kayu besar yang melintang hingga harus jongkok dan menunduk untuk melewatinya.
Akhirnya kami sampai di Pos Kandang Badak dengan ketinggian 2500 Mdpl. Tiga rombongan tampak sedang beristirahat, sampah-sampah terlihat berserakan. Kami memilih bersantai di bedeng besar yang hampir menyerupai rumah, di sebelahnya ada sumber air sehingga dapat menambah perbekalan, pada saat itu waktu sudah jam 12:05 siang.
“Sampahnya parah gini sih Kro?” tanyaku.
“Gua pertama kali ke sini waktu kelas 2 SMA, om” Sukro menjelaskan “Sampahnya banyak kayak gini juga, mungkin udah abadi kali”
“Emang nggak ada acara bersih gunungnya?”
“Ada dua kali setahun tapi gak efektif”
“Buset dah ya, gunung udah mirip kayak bantar gebang aja” Adi berkelekar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak terasa sudah setengah jam kami di kandang badak, badan segar kembali, kaki yang pegal sudah dipijet pakai counter pain, sebagian juga telah selesai melaksanakan sholat dzuhur, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan agar dapat tiba di puncak Pangrango sebelum maghrib, dan Sukro pun memulai celotehnya.
“Om, dari sini ke puncak itu tracknya curam, banyak akar dan ranting pohon yang rapuh, jadi sebelum ngambil pegangan harus dicek dulu biar lu gak tewew (plesetan dari tewas)”
“Siap dah” kata Ahmet.
“Berang-berang makan coklat, nyok berangkat” Angon berkelar dan kami sambut dengan tawa.
Kami melanjutkan pendakian ketika jarum Jam menujnjukkan angka 12:35. Di penguhujung Pos Kandang Badak, jalur Gede dan Pangrango pun terpisah di pertigaan, kami mengambil arah kanan, jalannya masih landai dan becek, ada pohon yang rubuh menghalangi jalan hingga harus sedikit memanjat. Pohon-pohon masih sangat tinggi, aku tidak tahu apa saja nama-namanya, sebagian sudah kering tak berkulit dan ada juga yang masih berlumut dengan benalu menggantung, katanya banyak cacing-cacing besar di situ yang bisa dimakan saat darurat, tapi bagiku lebih baik makan dedaunan dari pada harus memakan cacing pohon apalagi cacing tanah.
Sang pegal telah menyerang punggungku, tapi tidak ada yang sudi bergantian membawa career, mereka terlihat lebih lelah selain Fei yang berdiri di barisan terdepan dengan menggendong career yang lebih besar dariku. Anak Riau satu itu memang tidak ada capeknya. Seingatku, career itu sudah ada di punggunggnya sejak dari Ciputat dua hari lalu dan hanya diturunkan jika istirahat, aku penasaran berapa lama lagi dia mampu bertahan.
Jalur menuju puncak terus menanjak, kemiringan sekitar 70 derajat dan tidak ada ‘bonus’ landai, jalurnya berdebu karena hari ini tidak ada hujan. Beberapa kali aku terjatuh sebab akar pohon yang ku pegang sangat rapuh. Teman-teman sudah berulang kali mengoleskan counter pain ke kaki hingga paha, tapi tetap saja berjalan dengan lamban, aku dan Fei sudah agak sedikit muak, namun kami sadar tidak boleh egois, kondisi fisik setiap orang jelas berbeda. Terkadang kami harus melalui jalur sempit seperti bekas aliran lahar yang dalamnya setinggi pinggang, sehingga harus menjinjit bagi yang membawa cereer. Di sini, berperang melawan emosi diri sendiri semakin memuncak.
Akhirnya, sekitar jam 17.00-an kami menapakkan kaki di puncak Gunung Pangrango, tidak terlau luas, ada bedeng tua yang hampir rubuh. Di sebelahnya berdiri sebuah tugu dengan ketinggian sekira dua meter. Puncak tertutup oleh pohon, sehingga hanya ada sedikit celah di antara ranting-ranting untuk melihat puncak Gunung Gede. Sukro menawarkan pilihan untuk ngecamp di puncak atau di Lembah Mandalawangi. Adi berpendapat untuk ngecamp di puncak saja agar nanti malam tidak terlalu dingin, sebab ada bedeng dan pohon yang dapat menahan angin. Tapi, Ahmet dan Nola memberikan jawaban yang sedikit memaksa untuk ke Mandalawangi saja, sebab tidak ada yang bisa dilihat, begitu kata mereka.
Hanya berjalan menurun sekitar 5 sampai 7 menit, kami tiba di Lembah Mandalawangi dengan disambut suara panther, perdebatan dalam menentukan jenis suara itu pun mengemuka. Kami baru benar-benar yakin bahwa itu memang suarapanther ketika bertemu dengan rombongan pendaki PKS yang hendak turun, mereka berpesan untuk hati-hati membuka makanan yang berasal dari daging, sebab penciuman panther sangat peka terhadap aromanya. Kami hanya mengucapkan ‘terima kasih akhi’, mereka tersenyum lalu mengucapkan salam sambil sekali lagi berpesan hati-hati. Hanya rombongan kami yang ngecamp di lembah ini. Suara panther terdengar kembali.
Kami memilih tempat di tengah lembah, ada tanah landai dan pohon edelweiss. Hari sebentar lagi akan berubah gelap, tugas juga sudah dibagi. Aku, Fei dan Adi mendirikan tenda serta memasak nasi, sementara yang lain mengambil air di pinggir lembah. Tenda telah berdiri, nasi juga segera matang. Tiba-tiba gerimis turun, kabut tebal keluar dari persembunyiannya. Suara panther kembali terdengar, tidak ada suara yang keluar dari mulut kami bertiga, bibir menggigil, kedua tangan saling digesekan untuk memperoleh sedikit hangat. Teman-teman yang lain juga sudah tiba dari mengambil air.
“Om, kita naik ke puncak lagi yok, dingin banget disini” pinta Ahmet.
“Iya om, ngeri banget ni, mencekam” Nola juga memberikan pendapatnya. Aku, Fei dan Adi diam, tidak bersuara sama sekali.
“Ayolah om, udah gak tahan ni” mereka kembali merengek.
“Kalau lu mau naek lagi ke puncak, lu packing ni semua barang dan lu yang bawa ke atas, gua ogah, kan tadi udah gua bilang kita ngecamp di puncak aja” Adi berkata dengan nada kesal.
“Ayolah om, kita bisa beku di sini” mereka menimpali.
“Udah, kita disini aja” ucapku “kita hadapi bareng semua kemungkinannya”
Gerimis sedang transisi menuju lebat, kami paksa teman-teman untuk masuk ke dalam tenda, aku masih meyempatkan diri menaburi garam di sekelilingnya. Tenda ini seyogyanya cuma mampu manampung empat orang, tapi kami paksakan tujuh orang untuk masuk semua. Hasilnya, kaki hanya bisa tertekuk atau pun bersila. sementara di luar hujan turun dengan sangat lebat, tenda sering bergoyang dihempas angin yang begitu kencang. Dua buah senter kami nyalakan untuk penerang, mie mentah pun kami sikat dengan lahap, begitu juga dengan abon, kami buka dengan sangat pelan dan hati-hati karena teringat pesan dari rombongan pendaki PKS tadi. Kami sepakat cuma dua batang rokok saja yang boleh dinyalakan. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya akan melewati malam seperti ini.
Hujan bertambah lebat hingga air masuk ke dalam, ku lirik pintu tenda ada sedikit yang robek tanpa bisa ditahan lagi. Angin dan air hujan pun menyerbu dengan ganasnya, kami menggigil. Setengah dari isi tenda sudah basah. Tiba-tiba pintu tenda terbuka dan terangkat, air hujan menjadi semakin leluasa masuk, angin juga tidak bisa dibendung, kami berdebat dan saling melimpahkan ke yang lain untuk membetulkan pintu, tidak ada yang bersedia, akhirnya ku beranikan diri untuk keluar. Air hujan terasa sakit ketika menyentuh badanku dan ngilunya menghujam hingga ke tulang. Tanganku susah digerakkan, aku harus mengibaskan-ngibaskan terlebih dahulu agar lentur tapi tidak berhasil, lalu ku pukul-pukulkan ke paha dan badan agar sedikit hangat, lumayan sedikit berhasil. Ku periksa pintu tenda yang sudah terangkat ke atas, kondisinya rusak, robek di bagian resletingnya.
“Udah nggak bisa dipakai lagi ini, udah rusak parah” ujarku.
“Ganti aja pakai ponco wak” Fei memberi saran.
Ku ikatkan ponco ke sisa-sisa pintu tenda, sedangkan bagian bawahnya ku ganjal dengan batu, dan sisi sampingnya ku ikat pakai tali rapia, angin tetap bisa masuk tapi tak sekencang tadi. Badanku menggigil tingkat tinggi, ku buka baju dan celana kemudian masuk ke dalam tenda. Kakiku kram dan jempolku sangat sakit, ku ambil rokok Dji Sam Soe yang dihisap Adi dan ku tempelkan ke jempol kaki, namun tidak terasa sama sekali. Sukro mengambil counter pain memijiti kakiku, tapi sepertinya dia hanya sembarang oles dan pijet. Kami sangat lelah dan ngantuk, tapi kondisi tenda tidak memungkinkan untuk tidur berselonjor. akhirnya kami pejamkan mata dalam keadaan duduk, walau pun ada sebagian yang rebahan, itu pun dengan catatan harus menekuk lutut. Mataku masih belum mau untuk diajak tidur meski sudah ku paksa. Aku membayangkan bagaimana jadinya jika para panther itu datang menyerbu, lalu aku akan menyaksikan tubuh teman-teman dicabik satu persatu, atau malah aku yang mendapat giliran pertama karena tidak kuat berlari. Lalu besoknya, di kampus tersiar berita tentang kematian kami. “Tujuh Mahasiswa Semester 2 Fakultas Psikologi UIN Jakarta Tewas Dicabik Panther”, mungkin begitu judul berita yang akan dibaca oleh teman teman di kampus, dosen dan terutama orangtua kami masing-masing. Dan yang lebih mengenaskan, Mahachala mati sebelum dilahirkan, seperti benih yang digugurkan. Entahlah, aku tertidur dengan pikiran yang tidak tenang.
Aku terbangun karena mendengar ada yang berteriak histeris
“Om tolong om! Om om tolong om!” Nola berteriak dengan muka yang terlihat pucat.
“Kenapa Nol?” tanya kami hampir bersamaan.
“Pantat gua basah om, kena air”
“Yeee gua juga dari tadi kena air Nol, ah” Adi melupakan kekesalannya.
“Gua aja Nol, tangan gua tarok di bawah pantat biar nggak basah” Fei menambahkan.
Kami hanya tersenyum sinis dan kesal dengan tingkah Nola, lalu kembali sibuk dengan upaya tidur masing-masing.
Minggu, 28 Mei 2006

Aku bangun lebih awal dibanding teman-teman. Hujan telah berhenti, aku keluar dari tenda karena tidak tahan bau busuk yang bersumber dari kaki dan sepatu. Tidak terbayangkan nikmatnya udara pagi di Mandalawangi, ku hirup dalam-dalam lalu ku keluarkan dengan teriakan. Lembah ini merupakan padang edelweiss yang ditutupi bukit-bukit disekelilingnya, luasnya mungkin hanya sekitar 1 hektar dan terdapat aliran air di ujungnya. Cahaya keemasan mulai muncul di ufuk timur, sedangkan matahari belum terlihat karena masih tertutup bukit. Nola menghampiriku dengan membawa secangkir kopi susu, sedangkan yang lain sedang sibuk mengeluarkan semua barang dari tenda. Sungguh malam yang sangat panjang telah berhasil kami lalui. Dingin dan badai sudah berganti dengan hangatnya mentari, kami bisa merenggangkan syaraf-syaraf otot yang kaku karena tertekuk semalaman.
Kami berjalan mengililingi lembah, mencari spot yang bagus untuk mengambil foto. Di sebelah barat lembah, setelah aliran air, kami melihat ada nisan yang ditaburi dengan bunga edelweiss dan terulis in memoriam tramp meninggal dalam melaksanakan tugas. Tapi tidak disebutkan tahun dan penyebabnya. Tiga nama tertera, yaitu Dian Dachlan, Herry Slamet Rahardi, dan Yohanes Sudarsono, sejenak kami mengirimkan doa untuk mereka dan tidak lupa berfoto.
Pagi itu kami sarapan nasi dan mie rebus tanpa kuah. Lalu kami sempurnakan dengan susu sesuai dengan anjuran orde lama. Tenaga sudah fit kembali, Barang – barang sudah kami packing meskipun beberapa career masih basah.
Kami duduk melingkar dan mengelilingi bendera Mahachala. Semua wajah tampak serius dengan sesekali mengeluarkan senyum-senyum tidak jelas, aku masih sempat melirik jam yang menunjukkan angka 09:00, Sukro memulai pembicaraan.
“Om, sesuai dengan rencana, hari ini kita akan menuntaskan misi kita dalam pendakian ini” ucapnya “Dengan berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa dan didorong oleh keinginan luhur, maka MAHACHALA Fakultas Psikologi UIN Jakarta resmi kita dirikan secara sah”
Kami bertepuk tangan kemudian berdiri sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat.
“Jadi udah resmi ini om, Mahachala?” Tanya Nola
“Yang jadi ketua siapa, om” Ahmet menambahkan.
“All of us is a leader” Adi menjawab dan langsung mengambil langkah untuk turun.
Sebelum maghrib, kami tiba di Pos Informasi dan langsung melapor. Kami berkumpul di sebelah gedung untuk membersihkan diri, teman-teman mengaktifkan HP masing – masing. Sontak, serbuan nada dering pun tak dapat dicegah. Selain aku dan Fei, semua mendapat telepon dari keluarga dan mendapat pertanyaan yang hampir sama.
“Hallo, gimana keadaan kalian nak? Selamat semua kan?”
“Iya, Alhamdulillah selamat semua, emang ada apa?”
“Kami khawatir, Jogja kemarin gempa, ribuan orang tewas” Kami saling pandang, lalu bersegera pulang ke Jakarta.
