Tuesday, October 3, 2023

Bahaya Laten Iseng

Iseng. Kata itu menyiratkan canda atau seloroh tapi dirasa berbeda. Berbuat iseng terasa nikmat bagi pelakunya, tapi aktor penderita atau korban dari pertunjukan iseng bisa menahan nafas dan amarah. Seperti isengnya siswa menaruh kaca rautan pensil di sepatunya. Seperti Si B iseng meninggalkan teman di kosan padahal baru sampai di perantauan, sebatang kara. Iseng yang kelewatan.

Iseng-iseng berbahaya seperti sepasang sejoli yang iseng melakukan kontak badan hingga melahirkan anak manusia yang terbuang dan terlunta-lunta. Iseng-iseng mengonsumsi hingga terjerumus jadi pecandu narkoba. Bahaya laten iseng. Na’udzubillah.

 Iseng tidak selalu menyiratkan makna negatif. Bisa juga iseng-iseng berhadiah. Tidak ada tekanan. Senang bila meraih keberuntungan, tidak gundah bila tak kesampaian. Tak jarang iseng juga justru menjadi sumber pencarian. Misalnya si X yang iseng memasukkan lamaran kerja ke perusahaan A atau B lalu diterima. Juga si Y yang iseng memulai bisnis jengkol ternyata cuannya nampol.

Lalu kenapa seseorang melakukan sesuatu yang iseng? Apakah iseng termasuk gangguan mental atau perilaku menyimpang? Bisa jadi ya bisa jadi tidak. Saya belum menemukan riset tentang itu. Tapi penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup memberi pemahaman. Ada empat makna iseng yang dijelaskan dalam KBBI:

1. a merasa menganggur (tidak ada yang perlu segera dikerjakan). 

2. v (berbuat atau mengerjakan sesuatu supaya jangan menganggur) sebagai perintang-rintang waktu

3. a tidak mau menganggur (rewel, suka mengganggu, suka omong, suka makan apa saja, dan sebagainya): karena tangan anak-anak yang --, dinding sekolah itu penuh corat-coret

4. adv sekadar main-main; tidak bersungguh-sungguh

Dalam Google Translate, iseng diartikan Joking, bercanda. Tapi bagi saya, tidak masuk ke contoh-contoh di atas. Dalam KBBI, makna canda adalah tingkah, kelakar, senda gurau, seloroh. Untuk sementara bagi saya, level iseng melebihi canda. Dalam canda, kedua belah pihak sama-sama senang. Ada korban yang tersakiti dalam iseng yang berbahaya. Hati-hati dengan iseng.

Tulisan ini tidak bermaksud apa-apa. Hanya iseng usai mendengarkan lagu Gombloh yang berjudul ‘Karena Iseng’. Yang pasti dan harus dicatat, Tuhan menciptakan manusia bukan karena iseng, ada tugas dan kewajiban yang disertakan. Wallahu a'lam. 

 

Wednesday, June 29, 2016

Sudahkah Anda Lucu Hari Ini?

Lucu adalah rasa paling natural yang dimiliki manusia. Seperti cinta, rasa lucu juga tak bisa ditahan dan dipendam. Harus segera diekspresikan. Jika cinta melahirkan ekspresi beragam, lucu justru mengeluarkan ekspresi seragam. Tertawa. Terbahak. Terpingkal. Dan sejenisnya.

Objek cinta dan lucu sama-sama relatif. Tergantung suasana hati dan sudut pandang. Karena itu, cinta dan lucu tak pernah salah. Yang bisa menjadi kesalahan adalah anggapan kita tentang dua hal itu.

Karena relatif, maka wajarlah kita mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya sendiri, dimana lucunya? Sementara di sudut lain orang tertawa terpingkal-pingkal.

Ada dua teknik paling mudah untuk melucu. Pertama, mempertontonkan kejelekan atau kekurangan diri sendiri, Tukul Arwana sering menggunakan cara ini. Juga Mister Bean yang bertingkah bodoh untuk menarik tawa. Kedua, mengungkap kekurangan orang lain seperti yang diterapkan Komeng.

Lucu yang elegan adalah bermain logika, tidak membuat orang tersakiti atau terluka. Contoh paling dekat mungkin Cak Lontong. Perumpamaan paling jauh yaitu kisah Abu Nawas.

Sementara, lucu paling rendah adalah menertawakan penderitaan orang lain. Jaman sekarang, kaum hawa acap menyebut barang yang bagus dengan sesuatu yang lucu.  Saya malas membahas itu. Ih lucu ya gelangnya.

----

Dunia maya tak henti melahirkan lelucon baru. Seperti energi yang terbarukan, selalu ada bahan lawakan baru yang muncul. Setelah aksi lucu lipsinc 'Keong Racun' Sinta Jojo dan 'Chayya-chayya' Norman Kamaru hilang, kini muncul yang terbaru. Dia adalah Muhammad Akbar, pemilik akun instagram @ajudan-pribadi.

Nama terakhir tenar bukan lantaran aksi lipsinc. Melainkan video-video yang diunggahnya ke instagram dan menjadi viral karena dianggap lucu. Dalam video-video itu, Akbar melafalkan ucapan berbagai tema, salah satunya tema Ramadhan. Cara berbicara Akbar yang terburu-buru membuat kalimatnya menjadi berantakan, tak beraturan, terdengar asing dalam susunan kalimat yang jamak didengar orang. Hasilnya, Akbar terdengar seperti meracau. Hal itu dianggap lucu dan membuat terpingkal yang menonton. Saat menonton video itu, saya berharap Akbar hanya lipsinc.

Dalam satu kesempatan, saya bertemu Akbar di gedung salah satu Kementerian. Momen buka puasa yang didahului diskusi.

Akbar sosok yang terlihat lugu. Dengan seragam dongker dan ransel kecil, dia berjalan di belakang deretan kursi sambil melempar senyum dan tatapan. mata sebagaian peserta diskusi seolah bertanya-tanya, benarkah itu Akbar Si Konyol. Tak lama, enam orang ibu-ibu mengajaknya foto bersama.

Saya mengajak Akbar berbincang. Akbar berbicara seperti terbata-bata tapi dengan tempo bicara yang agak cepat. Sepuluh menit berbincang, saya akhirnya mendapat jawaban. Akbar mengaku tidak bisa bicara sejak kecil. Lidahnya pendek. Untuk mengobati itu, lidahnya digosok dengan cincin emas milik datuknya setiap malam jumat, agar panjang dan akhirnya dia bisa berbicara.

Dan, orang tertawa melihat videonya. Akbar bersusah-payah untuk bisa berbicara. Lagi-lagi, lucu memang tak bisa ditahan. Dan tak ada yang bisa disalahkan. Akbar yang mengunggah videonya, menjadi viral. Dunia maya susah dicegah.

Di akhir perbincangan, saya tetap berharap video-video Akbar hanya Lipsinc.

____

Di lain waktu, saya terlibat reuni mini dengan teman-teman sebaya. Berceritera tentang masa-masa sekolah dahulu. Di titik ini, mengisahkan ulang kejailan, kesialan, dan kenakalan masa lalu juga terasa lucu. Karena terkadang, kenangan indah dan kenangan lucu memang tak bisa dibedakan.

Sudahkah Anda lucu hari ini?

Saturday, June 18, 2016

Antara Ronda dan Piala Eropa

Setiap mendengar atau menyebut kata ronda, yang terlintas di benak saya adalah komik Petruk karya Tatang S. Dalam cerita itu, Petruk cs hampir dipastikan bertemu kuntilanak, pocong, gondoruwo, dan sejenisnya. Lalu, kisah akan diakhiri dengan rapalan mantara Semar yang mengusir 'makhluk-makhluk' tersebut.

Ronda tak bisa dipisahkan dengan pos ronda. Alkisah, pos ronda memiliki sejarah panjang di Indonesia. Dimulai sejak masa penjajahan Belanda yang membangun pos untuk memantau potensi pribumi yang melawan kolonial. Meredam amuk warga guna mengokohkan kesewenangan penjajah. Belanda pergi, Jepang masuk, lalu membentuk sistim RT/RW. Tujuannya tak lain supaya mudah mengontrol dan mendata pribumi. Pos ronda kian menjamur hingga kini, dan menjadi satu-satunya pos yang tidak membutuhkan kode dan perangko.

Ronda atau jaga malam masih lestari di kampung-kampung. Salah satunya di sebuah kampung di perbatasan Tangerang Selatan dengan Kabupaten Bogor. Malam tak terlalu dingin. Kenapa kampung? Karena semodern apapun kota dan kehidupannya, tak akan terlepas dari kampung. Termasuk kampung halaman, sebab tak ada istilah kota halaman.

Mendapat giliran ronda adalah bagian termalas dari aktifitas hari. Namun jadwal itu bisa dikatakan sebagai kewajiban sosial. Apalagi untuk warga baru seperti saya. Mengenalkan diri. Dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau PMP disebut bermasyarakat, atau bersosialisasi dalam istilah kekinian.

Pos ronda merupakan sebuah bangunan panggung bersegi empat. Biasanya tanpa dinding dan hanya ada atap. Tiba di tempat itu, yang saya temukan adalah bocah usia SMP. Mereka menunggu pukul setengah tiga dini hari tiba untuk berkeliling membangunkan warga, berteriak sahur sahur sambil memukuli ember dan kaleng cat yang beralih fungsi jadi gendang. Irama tak beraturan dengan tempo berantakan. Tak masalah, toh mereka tetap riang.

Lalu dimana bapak-bapak yang mendapat giliran ronda? Mereka asyik menonton Piala Eropa yang dihelat di Prancis. Mendukung Portugal dan Inggris yang notabenenya pernah menjajah Nusantara. Belanda tak ambil bagian kali ini, tidak lolos fase qualifikasi. Bila lolos ikut ke Prancis, maka jadilah trisula penjajah dielu-elukan di layar kaca, yang terkadang menjadi sebab perselisihan antar sesama warga Indonesia yang mendukung tim nasional negara-negara benua biru tersebut.

"Ayo Ronaldo, pemain termahal kok belum cetak gol," sorak penggemar dari sebuah rumah. Seluruh petugas ronda berkumpul di rumah itu. Melupakan ronda karena Piala Eropa. Semoga tidak ada maling malam ini.

Ya, penjajah memang telah lama angkat kaki dari Indonesia. Tapi pengaruhnya masih terasa kendati dalam bentuk sepakbola. Jika kewajiban dan tugas ronda saja masih bisa direnggut mereka, maka bagaimana dengan sisi kehidupan kita lainnya.

Ini bukan ironi. Tak ada salahnya. Karena pesta sepakbola hanya empat tahun sekali. Juga tidak merusak nasionalisme. Rasa cinta terhadap merah putih pun tidak luntur. Namun kebanggaan terhadap Timnas Indonesia memang berkurang, nada sumbang seperti "Kalau Timnas Indonesia mah biasa kalah mulu". Oh iya, bukan tak bangga. Lebih tepatnya kecewa. Sebab rakyat lebih berharap Timnas bermain apik dan berprestasi ketimbang mendambakan harga sembako turun. Dan soal ronda terenggut Piala Eropa memang tak ada urusannya dengan era kolonial, post kolonial hingga post modern, tapi tetap mencederai komitmen dan kesepakatan.

Sementara, para bocah telah berkeliling kampung memeriahkan Bulan Ramadhan. Pos ronda kian sepi. Mendukung negara yang pernah menjajah membuat lupa tugas ronda.

Ah, biarlah. Dalam keasyikan menulis, saya justru lupa. Klub favorit saya adalah Chelsea FC, dan mengidolakan Frank Lampard.