Dua algojo berpakaian hitam berdiri mengapit Rimba. Pedang panjang yang terhunus tajam telah siap memenggal kepala korbannya. Rimba tak dapat melihat wajah mereka, sebab dua pria berbadan tegap nan legam pekat itu mengenakan penutup kepala. Hanya pada bagian mata saja yang terbuka. Tatapan mereka dingin. Tak bergeming dengan isak tangis yang menggema dari dua puluhan manusia yang ada di kawasan itu. Dua algojo itu seperti salju kutub di musim dingin. Mengeras dan kaku. Tak mencair sebab malam dihiasi purnama sempurna.
Rimba berdiri di tengah keduanya. Jaraknya dengan para algojo yang ada di sebelah kanan dan kiri tak sampai 30 centi meter. Sangat dekat. Tubuh Rimba bergetar dan gemetar hebat. Keringat bercucuran dari seluruh sendi hingga membasahi pakaian yang ia kenakan. Rimba tak dapat melihat apa pun, mata dan kepalanya tertutup. Dia hanya bisa mendengar suara tangis yang tersedu, terutama dari arah tepat di depannya, ia tak tahu suara milik siapa. Namun tangisnya terdengar berbeda, dari seorang hawa yang tak hanya menyentuh telinga tapi masuk ke relung jiwa.
Rimba akan menjalani eksekusi hukuman mati atas kesalahan yang sama sekali tak ia mengerti. Tapi waktu terus menjelajah ke depan. Palu hakim telah diketuk di meja persidangan. Rimba tak bisa mengelak lari, tak ada jalan dan celah lagi untuk bersembunyi. Langkah dan hidup harus terhenti di panggung eksekusi hukuman mati.
“Siapa pun kalian yang saat ini hadir di depanku, baik itu keluargaku, sahabat atau kau yang tercinta, menangislah sekedarnya. Air mata tak akan mengubah apapun jua. Simpan air mata kalian untuk ketimpangan dan kemiskinan yang masih terpampang jelas di Negara kita ini,” kata Rimba saat diberikan waktu untuk menyampaikan kalimat-kalimat terakhir.
Bukannya berhenti, tangis dari para manusia yang hadir justru kian kuat. Menyayat. Antara tangis pengharapan dan ketetapan yang harus dijalankan. Suasana pun semakin mengharu biru.
“Guru madrasahku pernah berkata, teman itu bukanlah orang yang selalu membenarkanmu, tapi teman adalah mereka yang selalu berbuat benar kepadamu. Sewaktu aku kecil, ayahku berpesan, bergaullah dengan semua orang, tapi jangan mengikuti dan meniru perilaku serta tingkah laku semua orang,” Rimba menambahkan dengan nada tertahan. “Namun yang ku pelajari dalam perjalanan usiaku adalah, barang siapa ingin bahagia dalam kehidupan, hati-hati dan baik-baiklah mengambil keputusan. Silakan Pak Algojo, laksanakan tugas anda!,” suara Rimba melemah.
“Tapi, setidaknya anda berpikir sejenak,” Rimba melanjutkan kalimatnya. “Bayangkan jika anak istrimu, keluargamu, sahabatmu, atau orang yang kau cintai lainnya berada pada posisiku sebagai orang yang terpaksa menjalani hukuman, apakah kalian juga akan mengeksekusi?,"
Rimba pun duduk bersimpuh. Algojo melepaskan borgol yang terpasang di tangan manusia hukuman itu. Sebentar lagi ia akan mati, hanya beberapa detik setelah komandan menembakkan senjata apinya ke udara. Rimba menjulurkan kepalanya ke depan dengan posisi setengah membungkuk. Algojo mengangkat pedang tajam itu ke atas, siap menebas kepala dengan satu kali ayun saja. Suara letusan senjata api pun terdengar keras. Sejurus kemudian, Algojo mengayunkan pedang ke arah leher Rimba.
“Craasss!!” Pedang pun berhasil melewati sang leher.
“Astaghfirullah!” aku tersentak dari tidur, lalu mengusap wajah dengan perlahan. Siuman dan tersadar bahwa nyawa masih dikandung badan.
Aku menenggak air minuman kemasan sisa semalam. Gemuruh yang menderu di dadanya perlahan normal. Tak lagi sekencang lari kuda di saat berlomba. Mundur seperti tentara Jepang yang kalah bertempur saat negaranya diserang pasukan sekutu. Rimba mendapat bunga tidur yang tak biasa. Sebuah mimpi yang baru pertama kali aku alami dalam hidup. Mimpi menjalani hukuman mati. Tapi, apa pesan moral dari mimpi ini? Aku bertanya-tanya sekedarnya.
Tapi kenapa dalam mimpi itu namaku menjadi Rimba? Entahlah. Begitulah mimpi, datang lalu pergi. Seperti jaelangkung yang datang tak dijemput dan pulang tak diantar. Mimpi hanya mimpi. Berbeda dengan impian.
Tak berlama-lama, aku mengenyahkan pikiran-pikiran buruk tentang mimpi itu. Lalu meraih ponsel genggam cerdasnya dan membuka pesan pada surat elektronik yang masuk.
“Hari ini tolong ke Kejaksaan Agung, Kepala BNN akan mengunjungi Jaksa Agung untuk melaporkan terpidana mati yang mengendalikan bisnis narkoba dari dalam penjara. Thanks,” kata Redaktur dalam email itu. Aku tertawa kecil.
*****
Tak berlama-lama, aku mengenyahkan pikiran-pikiran buruk tentang mimpi itu. Lalu meraih ponsel genggam cerdasnya dan membuka pesan pada surat elektronik yang masuk.
“Hari ini tolong ke Kejaksaan Agung, Kepala BNN akan mengunjungi Jaksa Agung untuk melaporkan terpidana mati yang mengendalikan bisnis narkoba dari dalam penjara. Thanks,” kata Redaktur dalam email itu. Aku tertawa kecil.
*****