Wednesday, May 6, 2015

Sang Penjemput

Senja dan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau riuh rendah. Suara porter (tukang angkut barang) dan supir taksi bersahutan di kerumunan penumpang yang baru tiba. Mereka seperti berlomba mencari dan meyakinkan calon pengguna jasa. Tak henti dan tak kenal lelah. Wajah memasang mimik dan ekspresi seolah menjanjikan kenyamanan. Sedangkan kosa kata yang dilontarkan, bak ingin menggambarkan keramahan. 

Layaknya terminal kedatangan di bandara, para penjemput berjubel di pagar pembatas jalan keluar. Penjemput keluarga, teman, sahabat, pacar, rekan kerja, hingga sopir yang ditugaskan menjemput rekan atau partner bosnya. Ada juga yang menuliskan nama di kertas dengan harapan yang dijemput dalam melihat dan langsung berangkat.

Berbagai emosi manusia laksana lakon kehidupan. Mulai dari senang, gembira, bahagia, berpelukan, polos, datar, bahkan wajah-wajah kebingungan. Tapi itu tak berlangsung lama, lenyap seiring bertemu dengan penjemputnya. Tak sedikit juga yang langsung naik ke taksi, meninggalkan orang-orang yang tak punya penjemput.

Begitulah bandara, sering dijadikan simbol luapan emosi setelah dermaga kurang kuat lagi untuk dijadikan simbol emosional. Lihatlah bagaimana perpisahan Rangga dan Cinta di film 'Ada Apa Dengan Cinta?'. Atau juga lagu 'Leaving on The Jet Plan' milik Jhon Denver yang dinyanyikan kembali oleh Chantal Kreviazuk. Lagu ini kian emosional saat dinyanyikan aktor film Armageddon saat hendak berangkat ke luar angkasa. 

Begitulah bandara, ada perasaan kuat di gerbang Keberangkatan dan kedatangannya. Penyebabnya adalah perpisahan yang boleh jadi untuk terakhir kalinya, sebab tak ada yang bisa menjamin keselamatan penerbangan. Pesawat Sukhoi, Airasia, MH317, dan Germanwings cukuplah menjadi pelajaran.

Mukti seorang penjemput dengan raut wajah dan emosi yang datar. Dia menjemput bukan untuk meluapkap rasa kerinduan kepada yang ditunggu, bukan pula karena telah lama tak bertemu. Bahkan dia sama sekali tak kenal dengan orang yang akan dijemputnya. Mukti hanya seorang pesuruh, menjemput dan mendapatkan ganti jasa dengan nominal rupiah tertentu. Kulit wajahnya yang mulai berkeriput cukup menjadi penanda bahwa usianya menjelang setangah abad. 

Dengan kemeja batik lengan panjang dan celana bahan berwarna hitam, dia berdesakan dengan yang lain. Kertas putih bertuliskan nama seseorang dipegangnya setinggi ulu hati. Dia seperti mematung. Tak beranjak. Tak berdialog hingga si pemilik nama di kertas menegurnya. 

Danau Buatan berbunga kemuning
Tempat pemuda bersuka ria
Selamat datang di bumi Lancang Kuning
Semoga Tuan tak membawa duka

Begitulah cara Mukti menyambut kedatangan tamu bosnya. Tak ada nada kesedihan dan keluh kesah yang dipancarkan kendati ia hanya seorang pesuruh. Tapi dengan pantun riang yang mampu membuat si tamu merasa bak mendapat pengormatan dengan cara yang santun dan sopan. Kemudian, mereka berlalu meninggalkan Bandara Udara peninggalan jaman perjuangan melawan Jepang dan Belanda. Bandara ini semula bernama Bandara Simpang Tiga, lalu diganti dengan mengambil nama Sultan Syarif Kasim II dan diresmikan oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 29 April 2000 silam.

*****

Di tepi ranjang kamar rumahnya, Mukti duduk sembari menatapi tumpukan kertas. Kertas itu tersusun merapat ke dinding dengan poster ka’bah di atasnya. Tatapannya emosional. Penuh pemaknaan. Sebab yang ditatapnya bukan  kertas sembarangan, tapi kertas-kertas dari Ribuan orang yang telah dijemput selama kurun sepuluh tahun ia menggeluti pekerjaan itu. Kertas yang bertuliskan nama – nama itu tak dibuangnya, dikumpulkannya menjadi catatan sejarah diri dalam kariernya sebagai penjemput.

Pandangan Mukti selalu bergerak bawah ke atas dan sebaliknya. Setelah menatapi tumpukan kertas, ia lalu membenturkan pandangannya ke poster Ka’bah yang terletak di atasnya. Terus silih berganti. Harapnya dalam doa-doa adalah kapan panggilan haji itu datang dari Tuhan. Ia sangat merindu saat sang waktu tiba, kala Sang Penjemput mendapat panggilan. Dia juga berpikir apakah mungkin dengan profesi sebagai penjeput bisa mendapatkan panggilan? Secara logika memang sulit dirasionalkan. Tapi bukankan doa, usaha dan cinta mampu mengalahkan logika manusia? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk dalam dirinya. Tak pernah hilang dan kian tertanam.

Ada hal lain yang menggelayut dalam pikirannya selain tentang panggilan. Yaitu tentang bagaimana isi dan suasana di dalam bandara. Sepuluh tahun bekeraja sebagai penjemput, langkah Mukti hanya sampai pada dua gerbang saja, gerbang keberangkatan dan gerbang kedatangan, tak pernah melebihi itu. Sebagai manusia ia memiliki rasa penasaran, namun waktu tak memberinya kesempatan untuk melangkah lebih jauh. 

“Akan ada waktunya aku tak lagi menjemput, tapi dijemput,” ucapnya pelan sambil meminum kopi racikan istri. 

Mukti tak berputus asa apalagi meratapi nasib dan bermuram durja. Baginya, tak ada ruang sedih dan tangis selain kala memohon ampunan dosa dari Tuhan Sang Pengatur takdir. Sebab hidup akan kian terasa berat jika diiringi keluh kesah dan duka cita. Seperti pagi itu, saat sinar mentari masuk melalui jendela kamar dan menerpa tubuhnya, ia bangkit dengan optimis. Berangkat menuju kantor, mengambil mobil, lalu kembali menuju bandara, menjemput orang yang tak dikenalnya.

*****

Menjemput dan mengantar, menjemput dan mengantar, menjemput dan mengantar. Sepintas pekerjaan itu seperti tugas Malaikat Izrail yang menjemput nyawa manusia lalu mengantarnya untuk menghadap Ilahi. Seperti Izrail, Mukti juga menjemput dan mengantar. Jarak adalah pembeda keduanya. Jika Izrail menjemput dan mengantar ke luar dunia fana, Mukti hanya ditugaskan jemput antar dalam kota.

“Kertas berisi nama ini ku kumpulkan, dan bertumpuk banyak di kamarku. Bagaimana jika Izrail melakukan seperti yang ku lakukan. Berapa banyak tumpukannya,” Mukti berdialog sendiri, dalam hati, sambil menenteng kertas bertuliskan nama seseorang. 

Seperti hari-hari sebelumnya, gerbang kedatangan penumpang telah ramai. Mukti tak pernah gagal kurun sepuluh tahun karirnya, semua tugas mampu ia laksanakan dengan baik. Hari ini berbeda, dua jam lebih ia menanti tapi tak ada satupun orang yang menegurnya. Ponsel genggamnya juga tak berdering sebagai tanda adanya pemanggil yang mungkin dari tamu bos. Keramaian berangsur sepi, penumpang lain dan para penjemputnya telah pergi. Tinggal Mukti dan petugas bandara.

Mukti gusar. Sebab Bos akan marah jika tamunya tak mendapat jemputan dan memilih naik taksi. Artinya, Mukti akan mendapat teguran yang tak menutup kemungkinan surat pemberhentian mengingat usianya yang kian senja. Lalu bagaimana ia membiayai keluarga dan pendidikan dua anaknya. Sementara sang tamu tak juga muncul. Pantun penyambutan pun urung dilontarkan. 

“Tamunya belum datang, Pak?,” seseorang menegur.

“Belum,” Mukti menggeleng.

“Coba bapak perhatikan kertas yang bapak pegang,”

“Astaga!,” Mukti sadar ternyata kertasnya terbalik.

Wajar bila si tamu tak menegurnya. Bukankah nama merupakan hal yang sakral dan penting bagi setiap orang. Kesalahan penulisan nama saja bisa membuat orang tersinggung. Apalagi tulisannya terbalik. Kelelahan membuat Mukti jadi hilang fokus. Mukti pun memperbaiki letak kertasnya.

“Itu nama saya. Saya lah orang yang bapak jemput,” 

“Maaf Pak, maaf,” Mukti  memohon. Tamu menggeleng-gelengkan kepala. Mukti bingung bagaimana mengucapkan pantun penyambutan.

“Saya akan bicara dengan atasan Anda!,” tamu itu menegaskan suaranya. Mukti pasrah.  Karir sepuluh tahun pun tercoreng. Ia seperti yang digambarkan pepatah lama, ‘Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga’. Mukti membawa tamunya meninggalkan bandara dengan diam dan tenang. 

"Apakah Izrail juga pernah melakukan kesalahan seperti saya?" gumamnya dalam hati. "Lalu bagaimana reaksi Tuhan? Marahkah Dia?. Entahlah". Selesai 

No comments:

Post a Comment