Wednesday, May 6, 2015

Pendaki itu...

Masih tentang sisi lain pendaki nyeleneh bernamaImamsyafii 

Saat turun dari puncak mahameru pada Juli tahun 2007 lalu, kami isitarahat dan mendirikan tenda di area camp Ranu Kumbolo. Haus terobati dengan segarnya air danau. Tinggal masalah lapar, kami yang beranggotakan tujuh orang, berkomitmen untuk makan nikmat usai pendakian seru nan melelahkan.

Seluruh peralatan dan bekal logiktik dibuka. Tugas dibagi menjadi tiga kelompok, ada yang menanak nasi, memasak lauk sarden, dan memasak sayur. Saya dan dua rekan memilih masak sop. Bayangan nikmatnya makan sop di gunung menggerayangi pikiran kami. Bahan sayur seperti kol, kentang, wortel dan lainnya pun diolah, sop itu didonimasi oleh wortel. 

imamsyafii yang akrab disapa Wak Fei kebagian tugas mengolah sarden, tahu bahwa kami masak sop. Tapi dia diam saja. Hinnga akhirnya momen perjamuan makan tiba. 

Saat kami asyik dan lahap menyantap sop, Fei menampilkan wajah tak biasa. Ketika kami sibuk mengunyah, dia malah sibuk memindahkan wortel ke mangkuk atau nesting lain. Ternyata Fei tak suka makan wortel, dan kami tak bisa menahan untuk tidak menertawai Fei.

"Emang kelinci makan wortel," ujar mantan DPW Partai Reformasi Mahasiswa yang gagal memenangkan capresnya itu berkilah sambil terus memindahkan wortel dari 'arena' sayur sop.

Pada tahun 2009, kami mendaki Gunung Ciremai, Jawa Barat. Kami turun dari puncak saat malam hari dan istirahat sejenak di Pos Kondong Amis jelang tengah malam. Fei duduk di tanah yang miring, carier atau keril nangkring di pundaknya. Lelah telah menyelimuti seluruh anggota pendakian. Lemas, tenaga terkuras, dan butuh suntikan semangat.

"Nggak mungkinlah Tuhan mencelakakan hambaNya, masih kuat ini," kata Fei sambil menepuk-nepuk kakinya. 

Perjalanan turun pun dilanjutkan. Setelah melewati Pos Cibunar, kami tiba di ambang batas antara hutan gunung dengan ladang warga. Gelap sungguh pekat. Cahaya senter berangsur redup akibat Baterei yang mulai kehabisan daya dan juga senter yang diguyur gerimis sedari tadi. Entah ada kaitannya dengan pernyataannya saat di Pos Kondang Amis yang terkenal dengan cerita-cerita mistik atau tidak, Fei terjatuh, terjungkal, keril ukuran 120 liter terlepas dari punggungnya. Dia cedera, butu istirahat. 

Kembali ke tahun bulan Julu tahun 2006 di pendakian Gunung Ciremai juga. Kami melobi Kepala Stasiun agar dapat ongkos miring untuk kembali ke Jakarta. Lobi alot yang dilakukan seorang teman bernama Adi Saputroakhirnya berhasil menurunkan harga tiket dari semula Rp.28.000 menjadi Rp.12.000. Tapi syaratnya kami harus berdiri di gerbong pertama setelah lokomotif. Namun Fei tak mau masuk ke gerbong kereta. Dia memilih di luar, mengacuhkan rekan lainnya yang iseng menggoda seorang penumpang wanita yang terlihat 'aneh'.

Fei berdiri di luar, di pinggir lokomotif hanya dengan berpegangan besi pendek pembatas kereta dengan ruang hampa. Jika pegangan terlepas, maka taruhannya adalah terlempar dari kereta dan kemungkinan besar tewas, game over, atau exit match. Fei konsisten berdiri di situ, melawan angin kencang dan dinginnya malam.

"Masuk sini aja wak, lebih nyaman," aku memanggil Fei.

"Nggak wak, aku disini aja. Ini pertama aku naik kereta api. Di Riau tak ada kereta api," jawabnya. Ya, definisi petualangan setiap orang memang berbeda-beda. Kami tiba dengan selamat di Jakarta.

No comments:

Post a Comment