Wednesday, December 3, 2014

With or Without Tobacco

Petani Tembakau di Jawa Tengah (Foto: Idham Siregar)
Ada sebuah pepatah yang mengatakan 'alam terkembang jadi guru'. Di beberapa tempat, pepatah itu diplesetkan menjadi 'alam terkembang jadi asbak'. Tentu penyebabnya adalah rokok. Seperti tak ada asap tanpa api, maka asbak juga tak penting jika tak ada rokok. Saya tidak tahu apakah paragraf pertama ini bisa menjadi pengantar yang tepat untuk kelanjutan tulisan ke bawah.
Badan Standarisasi Nasional menggelar acara 'Indonesia Quality Expo 2014' dalam rangkaian peringatan Bulan Mutu Nasional. Acara bertajuk "Dengan SNI berjaya di Era Pasar Bebas Asean" ini digelar Jakarta Convention Center 12 - 14 November 2014 lalu.
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Nasir, yang membuka langsung acara ini mendorong Pemerintah Daerah untuk mengedukasi masyarakat untuk mengembangkan produknya agar dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Berbagai produk lokal Berstandar Nasional Indonesia pun dipamerkan pada acara persiapan menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean yang sebentar lagi akan diterapkan. Di antaranya adalah stan Helm SNI, Oli produksi pertamina, ikan sarden kaleng dan produk olahan ikan lainnya, batik, hasil kerajinan dari kulit seperti jaket dan dompet dan lain sebagainya.
Selama saya berkeliling di area stan itu, sekitar satu jam, yang paling ramai pengunjungnya adalah produk rokok atau tembakau dari Jawa Timur. Mulai dari cerutu ukuran besar hingga mini, berbagai merek rokok, rokok herbal dipasang. Selain itu, ada juga koleksi buku-buku tentang tembakau, seperti 'Perempuan Berbicara Kretek', Ekspedisi Cengkeh', 'Kretek Jawa' dan lainnya.
Karena ini acara berkaitan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), saya pun bertanya ke pihak stan tersebut.
"Mbak, rokok-rokok ini sudah SNI juga?," tanya saya.
"Rokoknya nggak (SNI) mas, tapi kantor kami sudah terakreditasi," jawab wanita yang mengenakan kemeja batik warna coklat itu.
Saya manggut-manggut, tapi masih bingung dengan jawabannya. Belum sempat saya meminta penjelasan lebih lanjut, pihak stan tembakau itu telah beralih melayani pertanyaan pengunjung lainnya yang berpenampilan parlente.
Setelah itu, saya pun mengelilingi area stan satu putaran lalu mencari tempat duduk untuk bersantai. Saat membuka akun twitter, saya menemukan link berita dari sebuah media online terbesar di Indonesia yang mengulas kisah seorang perokok yang menderita penyakit kehilangan pita suara dan telah habis biaya hingga ratusan juta untuk berobat akibat rokok. Namanya Edison Poltak Siahaan (76).
Edison mulai merokok sejak usia 15 tahun. Selama setengah abad lamanya ia menjadi pecandu rokok. Ia biasanya menghabiskan 3 bungkus rokok dalam sehari, hingga ia pun mengalami pembengkakan yang menyebabkan sulit bernafas. Ia pun menjalani operasi.
Saya merampungkan membaca berita yang berisi 10 paragraf itu dalam lima menit. Tidak lama. Sebentar. Kemudian, saat tenggorokan seperti menagih jatah perairan, saya beranjak ke sebuah warung dan memesan kopi hitam. Sambil menyeruputnya, saya menyulut sebatang rokok merk Djarum Super yang bisa dikatakan memiliki sumbangsih bagi kemajuan olah raga bulu tangkis di Indonesia.

No comments:

Post a Comment