Setiap jaman memiliki pemimpin dan karakter budaya masing-masing. Peralihan meniscayakan pergeseran adat dan kebiasaan suatu era. Contoh terkecil adalah soal minum. Jika dahulu hanya menyeruput dari gelas atau cangkir, saat ini menggunakan sedotan. Tak ada yang salah, karena setiap jaman memiliki budaya. Hal ini tampaknya juga berlaku dalam dunia pendakian gunung.
Akhir pekan pertengahan November lalu, saya bersama dua rekan mendaki Gunung Gede, Jawa Barat. Sudah lama saya tak menyalurkan hobi ini. Terakhir kali, saya menyambangi Gunung Merapi Yogyakarta dan Gunung Ciremei, Jawa Barat, Januari 2012. Akhirnya saya pun mendaki lagi untuk menjaga kebugaran tubuh. Kami naik dari jalur Cibodas dan bermalam di dinginnya tenda di Pos Kandang Badak. Tak terhitung berapa puluh tenda terpasang di tempat itu. Tak ubahnya seperti bumi perkemahan.
Angin dini hari sangat kuat menyerang tulang. Entah berapa derajat celcius. Yang pasti sangat dingin. Begidik. Namun bagi saya, seni menikmati dingin alam gunung justru terletak ketika tidak mengenakan sarung tangan. Angin di udara dingin langsung merasuki tangan. Tapi tetap hati-hati agar tidak menyerang urat nadi. Setelah merayap di terjalnya tanjakan setan, kami pun tiba di puncak Gunung Gede menyambut matahari terbit.
Mempesona. Kata itu saya anggap tepat untuk menggambarkan keindahan puncak Gunung Gede. Puncak Gunung Pangrango yang berdiri di sebelahnya tampak dengan jelas. Hijau. Alun-alun Surya Kencana juga menghadirkan pesona tersendiri dengan gugusan buktinya. Gumpalan awan berpadu dengan bias cahaya mentari pagi. Angin kencang menerpa badan tak henti. Waw!
Puluhan pendaki tumplek. Dari berbagai kalangan, usia, status sosial dan ekonomi melebur di bibir kawah yang dipagari kawat baja itu. Saat itu lah saya melihat pergeseran budaya dalam merayakan keberhasilan mencapai puncak. Beberapa tahun yang lalu di sejumlah puncak gunung yang pernah saya singgahi, para pendaki biasanya hanya berteriak, sorak-sorai lalu bersyukur kepada tuhan. Kendati tak sedikit juga yang melakukan vandalisme dengan mencoret-coret benda yang ada. Sebagian membubuhkan tulisan di pasir atau tanah, kemudian berpose.
Kini, para pendaki tampak sibuk mengeluarkan kertas dan alat dari tasnya masing-masing. Mereka membubuhkan berbagai tema tulisan. Bahkan ada juga tumpukan kertas yang telah diprint dengan font tulisan yang berukuran besar. Isinya seputar ungkapan cinta ke pacar, gebetan, teman, orangtua, saudara dan sebagainya. Setiap pendaki memiliki lebih dari 3 tema tulisan. Mereka lalu berpose dengan memampangkan kertas itu ke kamera. Dari
sekian banyak tulisan para pendaki, ada satu yang cukup menyentuh saya. Dia menuliskan harapan dan doa kesembuhan bagi adik dan ibunya yang sedang menderita penyakit serangan jantung.
![]() |
| Foto: Indang Alkhadafi Nasution |
Saya tak tahu budaya ini bermula sejak kapan dan apa latar belakangnya. Sepintas terlihat seperti pendaki 'alay'. Terkadang tampak berlebihan karena seolah-olah baru menyadari keindahan alam Indonesia. Tapi terlepas dari itu, saya bersyukur karena semakin sedikit atau justru tidak ada lagi pendaki yang melakukan vandalisme. Dengan catatan, seluruh kertas tadi tidak ditinggalkan berceceran dan menyampah menodai keindahan puncak Gunung Gede.
Setelah hampir satu jam saya mengamati perilaku-perilaku para pendaki, timbulnya juga keinginan untuk melakukan hal yang sama. Namun saya tak memiliki kertas. Akhirnya saya ambil bekas bungkus nasi lalu meminjam spidol pendaki lainnya. Saya pun membubuhkan pesan politik kebangsaan di kertas nasi berwarna coklat itu. "Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat, Berdamailah!,". Begitulah kalimat yang saya tuliskan atas dasar situasi politik yang sedang berkembang. Pengalaman itu sungguh menjadi akhir pekan yang mengesankan untuk menghilangkan penat rutinitas pekerjaan.

No comments:
Post a Comment