![]() |
| Poto: Idham Siregar |
Langkah
kami tiba-tiba terhenti ketika memasuki area Terminal Lebak Bulus, Jakarta
Selatan. Saat itu tanggal 9 Juli 2006. Seorang preman menghalangi dan meminta
uang retribusi alias pungli. Aku, Sahrul, Fei, Sukro dan Adi terdiam, antara
ingin menuruti keinginannya dan juga tak rela menyerahkan uang kepada preman
pemalas itu. Tapi Wawe yang berjalan bersama Wahyu, Budi dan Agung di belakang
sepertinya menangkap firasat tentang masalah yang kami hadapi. Pria bernama
lengkap Kurniawan itu pun sedikit berlari mempercepat langkahnya seraya
bertanya apa yang terjadi.
"Ini
We, ada yang minta uang masuk," kami menjelaskan.
Wawe
tak tampak tak sudi menyerahkan uang secara cuma-cuma. Dia lalu bergerak ke depan
mendekati preman berpakaian setengah lusuh itu.
"Hei,
gua temannya si Anu," ucap Wawe menyebutkan nama kepala preman Lebak
Bulus. "Udah, lu diem aja," katanya lagi dengan nada tegas dan
meyakinkan.
Tak
pelak, preman itu terdiam dan tak berkutik. Nyalinya yang tadi besar dan sangar
mendadak menciut, membiarkan kami melangkah menuju Bus Luragung jurusan Kuningan,
Jawa Barat. Kami pun saling pandang. Seolah tak percaya, sebab saat itu kami
masih duduk di awal semester dua Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Tapi Wawe
mampu menggertak dan memaksa preman tadi menyurutkan langkahnya.
"Lu
kenal We sama pentolan preman sini," salah satu di antara kami bertanya.
"Nggak,
gua cuma tau namanya doang," ujarnya seraya tertawa, kami pun tertawa
terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Kondisi
Terminal Lebak Bulus tak jauh beda dengan terminal-terminal lainnya. Kesan
kumuh, bau pesing, deru mesin, teriakan serta sahut-sahutan awak bus yang
mencari penumpang bahkan dengan nada sedikit memaksa menjadi pemandangan
lumrah. Para awak bus tak serta merta percaya, mereka terus mendesak hingga
kita berulang kali menjawab tidak dan menggelengkan kepala.
Kami
yang berjumlah 9 orang pun telah berada di dalam bus Luragung Jaya via Cilimus.
Gunung Ciremai yang memiliki ketinggian 3078 Mdpl menjadi tujuan pendakian
kami. Setelah iseng mengecek darah dengan menggunakan jasa para medis kaki lima
dan bermain kartu remi, bus yang kami tumpangi pun melaju meninggalkan Jakarta.
Bus berwarna kuning itu sempat pecah ban di daerah Indramayu sebelum tiba di
pertigaan Linggar Jati pada dini hari.
Gunung
Ciremai tampak gagah menjulang. Pemandangan utuh dengan puncak yang hijau
menghitam di keremangan malam. Adrenalin terpacu untuk segera menapaki gunung
yang menurut kepercayaan warga dikategorikan suci itu. Tak sabar menanti pagi
agar segera mendaki. 4 siswa SMA dari Jakarta meminta bergabung, mereka mengaku
belum pernah ke Ciremai. Kami mengijinkan tanpa memberitahu bahwa kami juga
belum pernah mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Meski belum pernah,
tapi kami punya bekal pengetahuan tentang seluk beluk gunung melalui riset
internet. Riset internet ini menjadi penting untuk mengetahui kondisi gunung sebagai
asumsi awal. Ketika tiba di Pos Informasi, kami bertanya ke petugas tentang
pos-pos dan kondisi gunung. Dua sumber informasi itu pun kami gabungkan menjadi
suatu pemahaman atau pijakan dalam pendakian ini. Selain dari Linggar Jati,
Gunung Ciremai juga bisa didaki melalui jalur Palutungan dan Apuy Majalengka.
Berdasarkan
informasi dari internet dan petugas Taman Nasional Gunung Ciremei (TNGC),
sumber air hanya ada di pos kaki, yaitu pos Cibunar (750 Mdpl). Namun karena
rajin dan ramah berkomunikasi dengan warga, kami memperoleh informasi baru
bahwa ada sumber air di sebelah kiri Pos Kondang Amis. Kendati begitu, kami
tetap mengisi air sebanyak 4 jerigen ukuran 5 liter di Cibunar. Cibunar
merupakan pos terakhir yang masih terdapat perumahan warga dan berbagai warung.
Tempat ini sering dijadikan pendaki untuk menginap sebab lumayan aman dan
nyaman tanpa kekurangan air.
Kami
pun langsung menapaki jalan terjal, melawati pepohonan pinus dan berlanjut
dengan pepohonan hutan lainnya yang rindang. Sejuk. Saat melihat ke bawah,
pemandangan dengan pesona hamparan perkebunan warga tersaji indah. Langkah
teratur dan tidak terburu menjadi salah satu teknik agar tidak
menghambur-hamburkan tenaga. Setelah satu jam berjalan, kami tiba di pos leuweung Datar (1200 Mdpl), terdapat areadatar sekitar 5 meter dan cocok untuk
istirahat. Hanya sebentar kami rehat di tempat itu, menikmati minuman kemasan
rasa jeruk dan kepulan asap rokok.
Hutan
semakin rimbun dari Leuweung Datar. Tak ada panas menyengat, hanya cahaya
mentari yang menembus sela-sela dedaunan dan menerpa tubuh kami yang kian
berkeringat. Sekitar 45 menit kemudian, kami tiba di Pos Kondang Amis (1350
Mdpl). Tanah kosong untuk camp pendaki cukup luas di pos ini. Kawasan ini
terbelah di sisi kanan dan kiri jalan menuju arah puncak. Terdapat sebuah
warung kecil di sisi kiri (sekarang sudah tidak ada). Dagangannya seputar kopi,
teh, dan mie. Selain itu, pemilik warung juga menjajakan air per jerigen yang
membuat kami kian yakin ada air yang tak jauh dari tempat itu.
Kendati
perbekalan air cukup, tapi kami ingin memastikan keberadaan sumber air
tersebut. Maka aku, Sahrul, Fei dan Adi pun mencoba menyusuri jalan setapak
yang berada tepat di sebelah warung, sehingga tak tampak dari jalan utama.
Pemilik warung sempat curiga dan bertanya, tapi tak bisa menahan setelah kami
berkilah hendak buang air besar. Langkah kami melambat setelah 15 menit
berjalan. Pasalnya ada seorang lelaki tanpa tangan kiri, dan di tangan kanannya
menenteng senapan angin sedang berdiri di antara rimbunan pohon. Pandangannya
tampak awas menatap sekitar, ke arah atas. Berbagai cerita aneh dan mistik yang
kami dengar tentang Ciremai, membuat kehati-hati harus ditingkatkan. Tapi
ternyata dia manusia, bukan makhluk lain seperti yang kami sanksikan. Bahkan,
dia yang memberitahu dimana letak sumber air itu dengan catatan tidak buka
suara ke pemilik warung. Kami setuju dan mengangguk. 5 menit dari tempat itu,
akhirnya kami berhasil menemukan air lalu kembali ke Kondang Amis.
Budi,
Wahyu, Wawe, Agung dan Sukro sedang menikmati kopi ketika kami tiba. Kami ikut
bergabung, rehat sejenak menghabiskan sebatang rokok, lalu beranjak melanjutkan
pendakian. Pepohonan semakin rimbun dan kami tak tahu jenisnya apa. Jalur kian
menanjak, jalur tanah, berbeda dengan jalur Gunung Gede Pangrango via Cibodas
yang hampir setengahnya bebatuan. Kami terus mendaki. Pendakian Ciremei
benar-benar menguras energi, hanya ada sekitar 5 menit perjalanan di jalur
landai yang kami lalui. Setelahnya, hanya menanjak dan menanjak.
Kami
tiba di pos Kuburan Kuda setelah sekitar dua jam berjalan dengan beberapa kali
istirahat. Pos atau Shalter ini merupakan dua bagian tanah datar yang dibelah
jalur pendakian di tengahnya. Di sisi kiri, seorang lelaki dengan ikat kepala
khas Jawa Barat berdiri dan menyapa setiap pendaki yang tiba. Ia rajin
berbincang dan menyerocos berbagai hal, tapi ujungnya tetap menawarkan
penjualan air. Juned ini merupakan anak dari pemilik warung di Kondang Amis.
Kuburan
Kuda, namanya terkesan aneh dan membuat dahi mengernyit tentang apa cerita di
balik pemberian nama itu. Konon di tempat ini banyak kuda jaman penjajahan yang
dikubur. Menurut penuturan sejumlah pendaki, sering terdengar suara ringkikan
kuda di malam hari. Sehingga tempat ini tidak direkomendasikan untuk menginap atau
ngecamp. Kami meninggalkan Kuburan Kuda sekitar pukul 17.10 WIB.
Hari
berangsur gelap. Sekeliling hanya belantara yang baru pertama kali kami
singgahi. Perdebatan kecil sempat terjadi. Seperti wanti-wanti menjaga ucapan
yang tak pantas, membatasi perilaku agar makhluk halus penghuni gunung tak
terganggu, hingga sikap tidak percaya pada hal-hal berbau klenik dan mistik.
Namun begitu, kami tetap mengambil keputusan secara demokratis. Tidak percaya
mistik merupakan hak perogatif setiap orang, tapi tidak ada salahnya
menghormati kepercayaan orang lain tentang keberadaan makhluk itu.
Malam
telah sempurna gelap. Semua sepakat, berjalan lambat dengan urutan yang
teratur. Jarak antar anggota hanya sekitar 1 meter sampai 1.5 meter. Beberapa
kali kami menemukan pohon besar yang tumbang melintang jalan. Jalur itu tak lagi
sekedar terjal, tapi juga menanjak hingga tanpa kami sadari telah tiba di Pos
Tanjakan Binbin. Kami istirahat, merenggangkan urat syarat bahu dan punggung
yang tegang akibat membawa beban berat. Terutama Budi, dia kebagian membawa
carier yang berisi jerigen air. Tentu dapat dibayangkan bagaimana berat dan repotnya.
Kami
sepakat menghindari Pos Bapatere untuk menginap. Setidaknya harus mampu
melewati pos itu meski keadaan tubuh kian melemah dengan kondisi tenaga yang
telah terkuras. Sebab, banyak sumber yang menceritakan angker dan mistiknya.
Konon, asal muasal pemberian namanya berkisah tentang seorang bapak yang
membunuh anak tirinya, hingga tersebutlah bapa tiri kemudian berubah menjadi Bapatere.
Menurut cerita Sukro, temannya pernah menemukan pasar ghaib yang menjual
perlengkapan gunung di kawasan itu pada dini hari. Teman Sukro itu pun sempat
membeli sepatu gunung bekas yang harganya tak dapat diterima akal. Sangat
murah. Masih kata Sukro, sepatu itu utuh ada hingga kini.
Kami
melanjutkan perjalanan dengan senter yang telah menyala di tangan. Sahrul
berada di barisan belakang, lalu Wawe, Budi, aku, Adi dan seterusnya hingga ke
depan. Pos selanjutnya adalah Tanjakan Seruni. Kian menanjak. Selain itu, tak
jarang kami juga harus berpegangan pada akar pohon dan ranting untuk menaiki
tanjakan nan terjal itu. Sedangkan di sisi kiri jalur, hanya belantara curam
yang menjurus ke jurang. Jika terpeleset, pasti akan terperosok dan membentur
pepohonan liar.
Di
sebuah tanjakan nan curam, kami harus bergantian sebab hanya mengandalkan akar
pohon. Kami tak tahu saat itu akar pohon apa, cuma ukurannya tak sampai
setengah pergelangan tangan. Tanjakan itu curamnya sekitar 70 derejat dengan
ketinggian sekitar 2,5 meter. Teman-teman termasuk Adi yang berada di depanku
berhasil menaikinya. Aku sempat menghentak-hentakkan akar itu guna memastikan
kekuatan akar. Aku pun menaikinya yang kemudian Budi juga memegang akar itu.
Tapi, ketika aku tiba di atas dan melepaskan pegangan, akar itu tiba-tiba
terputus. Budi terjerembab. Adi berteriak histeris. Teman-teman yang di depan
pun langsung menolehkan pandangan ke belakang, memanggil Budi. Untung Sahrul
dan Wawe yang berada di belakang Budi dengan sigap menangkap, sehingga tubuh
Budi dapat terkendalikan dan selamat. Kami terdiam beberapa saat, memberi waktu
untuk Budi menormalkan nafas dari keterkejutan yang baru dia alami.
Kami
berhasil melewati tanjakan Seruni, tapi tanjakan seolah tak ada habisnya. Silih
berganti dan selalu ada. Kondisi badan kian melemah. Langkah kaki semakin
lambat setapak demi setapak. Hingga kami tiba di sebuah tanah datar nan luas.
Kami tak ingat saat itu pukul berapa dan berada di titik mana. Karena badan
yang telah sangat lelah, kami pun sepakat mendirikan tenda. Mie, kopi dan susu
menjadi menu kami di malam dan dingin itu. Unggun kecil kami nyalakan untuk
penghangat badan. Berbincang tentang perjalanan yang telah dilalui dan akan
ditapaki esok hari menjadi obrolan kami sebelum beranjak tidur dan terlelap.
Paginya,
kami terkejut saat melihat tulisan di papan yang tergantung di sebuah pohon.
Bapatere, begitu tulisan yang tertera. Kami saling pandang, sebab pos yang
sedari awal ingin kami hindari, justru menjadi lokasi camp kami semalam.
Setelah sarapan secukupnya, perjalanan pun berlanjut saat mentari kian
meninggi, sekitar pukul 10.00 WIB. Tak ada landai, terus menanjak dan menanjak
menyusuri hutan alami yang bebas dari pembalakan liar. Hingga kami tiba di Pos
Batu Lingga saat jam telah masuk waktu zuhur.
Pos
Batu Lingga merupakan kawasan landai yang memanjang. Tempat ini biasa dijadikan
pendaki untuk bermalam. Terdapat sebuah in memoriam pendaki yang tewas di
bagian atas tanah datar itu. Ada dua versi cerita tentang kematian dua wanita
itu. Menurut satu sumber, mereka tewas karena kejadian aneh yang bernuansa
mistik. Sedangkan menurut sumber lain, keduanya yang sedang kedinginan,
menghangatkan badan dengan minuman beralkohol. Bukan membaik, malah nyawa
mereka terenggut. Kami tak tahu versi mana yang benar.
Selain
itu, sejumlah pendaki dan hasil riset internet menerangkan bahwa di pos ini
terdapat sebuah batu besar seukuran mimbar. Batu itu konon digunakan salah satu
Wali Songo untuk berceramah kepada para muridnya. Kami tak melihat batu itu.
Setelah rehat dan mengabadikan momen, kami berpose dengan kamera roll film yang
menggunakan negatif film, serta dua buah ponsel Nokia 6630 milik Adi dan Sukro.
Kamera digital masih langka saat itu.
Perjalanan
pun berlanjut. Kami melewati Pos Sangga Buana 1 dan 2. Jalurnya lebar, tanahnya
yang kering membuat debu beterbangan saat menapakinya. Saat itu tak ada
tumbuh-tumbuhan di kawasan jalur tersebut. Hanya tanah dan sejumlah batu besar
dan kecil di tengah jalan. Kondisi serupa terus kami temui hingga tiba di Pos
Pangasinan setelah lebih 3 jam berjalan.
Pangasinan
merupakan pos terakhir sebelum puncak. Kawasannya yang luas membuat nyaman
untuk mendirikan tenda. Dari tempat ini kita juga dapat menikmati pemandangan
kota Cirebon dan sekitarnya. Kami mendirikan tenda di sisi kiri, datarannya
lebih tinggi dari pos utama. Tak jauh dari situ, ladang edelweis terhampar
indah meski dataran tanahnya tak lagi rata.
Kami
akan menikmati matahari tenggelam atau sunset petang ini. Puncak Gunung Ciremei
dapat ditempuh sekitar 60 menit dari Pangasinan. Setelah mendirikan tenda,
menanak nasi, sayur lalu menyantapnya, kami beranjak menuju puncak. Wawe
memutuskan tidak ikut ke puncak, dia kelelahan dan merasa kakinya tak kuat lagi
menapaki trek yang kian terjal dan curam. Kami pun harus melewati bebatuan
cadas, tak jarang posisi badan setengah merayap hingga akhirnya tiba di puncak tertinggi
Provinsi Jawa Barat.
Sorak
sorai gembira dari teman-teman yang telah dahulu tiba di puncak pun menggema.
Berteriak seakan melepas seluruh penat yang hinggap di sekujur badan. Berdiri
di atas awan, dengan cahaya jingga senja yang mempesona menuju matahari
tenggelam. Keindahan puncak seolah mampu membayar tuntas segala lelah yang
telah ditempuh.
Puncak
Ciremei merupakan kawah mati yang berbentuk bundar atau lingkaran. Kota Cirebon
dan laut Jawa dapat dilihat dari tempat ini. Sedangkan saat menatap ke arah
timur, tampak dengan jelas Gunung Slamet di Jawa Tengah. Beruntung saat itu
cerah, sehingga kami dapat menikmati keindahan ciptaan tuhan yang tidak semua
orang punya kesempatan menatapnya. Jepretan kamera fuji film dan ponsel Nokia
6630 pun berwara-wiri.
Wahyu
tak berani berdiri di bibir kawah, ternyata dia mengidap phobia ketinggian.
Kami berjalan ke sisi kanan. Namun tak lama, kami menemukan suatu keanehan.
Sebatang rokok Marlboro berdiri kokoh di tengah kencangnya angin puncak Ciremai.
Tepat di bibir kawah, rokok itu tak roboh, tetap berdiri pada posisinya.
Sekitar dua jengkal di depannya, terdapat rambut yang tertanam dengan bentuk
bundar seukuran kepala. Karena penasaran, aku mencoba mengoreknya namun
dilarang oleh teman-teman. Hingga kami tidak tahu apakah itu hanya rambut atau
lengkap dengan kepala manusia. Kami meninggalkan lokasi rambut itu, berdiri
mengiringi matahari yang kian tenggelam hingga hilang dari pandangan, lalu
kembali ke Pangasinan tempat kami menghabiskan malam.
Dalam
pendakian, malam merupakan waktu yang tepat untuk berkreasi dalam hal masakan. Sebab
kita memiliki banyak waktu. Kami pun memasak sayur sop dan kornet sebagai menu
hidangan malam. Sedangkan cemilannya, kami menggoreng dan membakar otak-otak
untuk menemani obrolan dengan melingkari api unggun kecil.
Perjalanan
belum usai. Paginya, setelah sarapan dan menyantap agar-agar merk swallow, kami
menuruni Gunung Ciremai dengan rasa suka cita. Kami tak pernah melangkah
terburu. Fei sempat jatuh menjelang jalur Sangga Buana 2. Dia yang membawa
carier paling besar bergulingan di atas tanah. Jerigen kosong yang dipegangnya
terlempar cukup jauh. Carier terlepas dari punggungnya. Namun entah bagaimana,
rokok tetap terselip di sela jemari tangan kirinya. Ia sempat menghisap rokok
itu saat posisinya masih terjerembab.
Kami
membagi tim menjadi dua grup. Sukro, Fei, Agung, Sahrul dan Wahyu berjalan duluan
dengan catatan menunggu di Kondang Amis. Sementara Aku, Budi, Wawe dan Adi
berjalan lambat di belakang. Sebab kaki Wawe mengalami kram dan tak kuat
berjalan normal. Kaki Wawe tak kuat lagi menapak setelah Pos Bapatere. Kami pun
mengeluarkan tali pramuka dan webing. Wawe terpaksa harus berjalan dengan
memegangi tali yang kami ikatkan ke pohon secara estafet. Sebab sumber
tenaganya tinggal di tangan. Teknisnya, Budi memegangi tali yang sedang
dijadikan pegangan Wawe untuk berjalan, sementara aku dan Adi estafet memasang
tali ke pohon di bawahnya. Begitu seterusnya bergantian.
Saat
menuruni jalur setelah Pos Tanjakan Binbin, Budi baru selesai mengikat tali,
Adi telah berjalan ke bawah mengikat tali di pohon selanjutnya. Wawe telah
berpegangan ke tali pramuka itu untuk melangkah. Entah apa firasat yang
ditangkap Budi, ia memintaku berjaga-jaga di bawah Wawe untuk antisipasi jika
tali terputus. Tapi baru hendak dua langkah aku berjalan, tali yang dipegang
Wawe tiba-tiba putus. Tak pelak aku pun langsung melompat dan berhasil
menangkap badannya yang jauh lebih besar. Kami berempat hanya menahan suara dan
bengong. Budi segera turun, Adi langsung naik lagi berkumpul di posisi aku dan
Wawe. Beruntung Wawe tidak membentur pohon yang mana tubuhnya telah lemah.
Dengan
sisa-sisa tenaga dan seutas tali webbing, kami melanjutkan perjalanan dengan
metode yang sama dan extra hati-hati. Persediaan air kami menipis, tidak penuh
setermos kecil ala outdoor yang penutupnya dapat dijadikan gelas. Kami pun
membuat kesepakatan minum satu jam sekali dengan satu gelas dibagi menjadi
empat. Persediaan makanan ringan pun akhirnya habis juga, sebab logistik
makanan dibawa 5 teman yang telah duluan menuju Kondang Amis. Alhasil, saos pun
menjadi cemilan kami sepanjang perjalanan hingga Maghrib tiba di Pos Kuburan
Kuda. Air dan saos pun turut habis. Badan kian melemah.
Kami
masih istirahat meski waktu azan maghrib telah berlalu sekira 10 menit. Adi
telah memegang webbing dan bersiap mengikatnya ke pohon. Namun tiba-tiba ada
suara memanggil-manggil nama kami dari bawah. Suara Sukro dan Sahrul. Kami
menyahut girang dengan sekencang yang kami mampu. Alangkah kagetnya mereka saat
mengetahui kondisi kami dan terlebih kehabisan air. Sahrul mengeluarkan jerigen
dari tasnya. Kami pun minum dan terasa sangat nikmat saat air melewati
tenggorokan.
Sahrul
memasang dua buah kayu di setiap kaki Wawe agar kuat berjalan. Tapi hasilnya
nihil. Akhirnya Wawe berjalan dengan dipapah Sahrul dan Adi. Budi persis di
depan mereka, kemudian Sukro paling depan sebagai pemimpin arah. Aku di barisan
paling belakang. Hari telah benar-benar gelap. Puluhan kunang-kunang mendadak
muncul di sepanjang jalur yang kami lalui. Tak banyak percakapan yang muncul.
Hanya Adi, Sahrul dan Wawe yang sesekali berkomunikasi tentang teknis jalan.
Setengah jam berlalu, Sukro memanggilku agar maju ke depan menghampiri mereka.
"Bud,
lu hapal ayat kursi nggak?," Sukro bertanya ke Budi.
"Hapal,
kenapa Kro?
"Baca
Bud. Gua nggak hapal,"
Sukro
lalu memberitahu bahwa ia melihat sosok lelaki berjalan di belakangku.
Pakaiannya serba putih dengan wajah yang tampak hitam. Atas alasan itulah dia
menyuruhku ke depan. Kami istirahat belasan menit lalu melanjutkan langkah.
Akhirnya
kami tiba di Kondang Amis dan disambut dengan minuman hangat yang telah
disiapkan Wahyu, Fei dan Agung. Kami terpaksa membeli makanan di warung yang
ada di Kondang Amis itu. Sebab, 4 anak SMA yang dari awal pendakian bergabung dengan kami, kini telah
tidak ada, mereka turun tanpa pamit. Padahal, sejak hari pertama mereka ikut
makan dengan perbekalan logistik kami. Beruntung warung itu masih menjual
makanan. Kami pun sempat berdebat soal Jaringan Islam Liberal pimpinan Ulil
Absar Abdalla sebelum beranjak tidur dan terlelap.
*****
Keriuhan
melanda Stasiun Kereta Api Cirebon pada malam berikutnya. Kami kembali ke
Jakarta tidak menggunakan Bus Luragung, sebab persediaan uang terbatas. Dengan
kemampuan lobi dan komunikasi Adi Saputro, kami dapat keringanan ongkos dari
Kepala Stasiun. Ongkos yang sejatinya Rp.28.000 kami bayar hanya dengan sebesar
Rp.10.000. Dengan catatan tidak dapat tempat duduk, dan harus berada di gerbong
pertama setelah mesin dan masinis selama 5 jam perjalanan ke Stasiun Senen,
Jakarta, yang saat itu kalender menunjukkan tanggal 14 Juli 2006.
*****

No comments:
Post a Comment