Wednesday, December 3, 2014

Pendakian, Persahabatan dan Keindahan Alam di Gunung Ciremai


Poto: Idham Siregar
Langkah kami tiba-tiba terhenti ketika memasuki area Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Saat itu tanggal 9 Juli 2006. Seorang preman menghalangi dan meminta uang retribusi alias pungli. Aku, Sahrul, Fei, Sukro dan Adi terdiam, antara ingin menuruti keinginannya dan juga tak rela menyerahkan uang kepada preman pemalas itu. Tapi Wawe yang berjalan bersama Wahyu, Budi dan Agung di belakang sepertinya menangkap firasat tentang masalah yang kami hadapi. Pria bernama lengkap Kurniawan itu pun sedikit berlari mempercepat langkahnya seraya bertanya apa yang terjadi.

"Ini We, ada yang minta uang masuk," kami menjelaskan.

Wawe tak tampak tak sudi menyerahkan uang secara cuma-cuma. Dia lalu bergerak ke depan mendekati preman berpakaian setengah lusuh itu.

"Hei, gua temannya si Anu," ucap Wawe menyebutkan nama kepala preman Lebak Bulus. "Udah, lu diem aja," katanya lagi dengan nada tegas dan meyakinkan.

Tak pelak, preman itu terdiam dan tak berkutik. Nyalinya yang tadi besar dan sangar mendadak menciut, membiarkan kami melangkah menuju Bus Luragung jurusan Kuningan, Jawa Barat. Kami pun saling pandang. Seolah tak percaya, sebab saat itu kami masih duduk di awal semester dua Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Tapi Wawe mampu menggertak dan memaksa preman tadi menyurutkan langkahnya.

"Lu kenal We sama pentolan preman sini," salah satu di antara kami bertanya.

"Nggak, gua cuma tau namanya doang," ujarnya seraya tertawa, kami pun tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Kondisi Terminal Lebak Bulus tak jauh beda dengan terminal-terminal lainnya. Kesan kumuh, bau pesing, deru mesin, teriakan serta sahut-sahutan awak bus yang mencari penumpang bahkan dengan nada sedikit memaksa menjadi pemandangan lumrah. Para awak bus tak serta merta percaya, mereka terus mendesak hingga kita berulang kali menjawab tidak dan menggelengkan kepala.

Kami yang berjumlah 9 orang pun telah berada di dalam bus Luragung Jaya via Cilimus. Gunung Ciremai yang memiliki ketinggian 3078 Mdpl menjadi tujuan pendakian kami. Setelah iseng mengecek darah dengan menggunakan jasa para medis kaki lima dan bermain kartu remi, bus yang kami tumpangi pun melaju meninggalkan Jakarta. Bus berwarna kuning itu sempat pecah ban di daerah Indramayu sebelum tiba di pertigaan Linggar Jati pada dini hari.

Gunung Ciremai tampak gagah menjulang. Pemandangan utuh dengan puncak yang hijau menghitam di keremangan malam. Adrenalin terpacu untuk segera menapaki gunung yang menurut kepercayaan warga dikategorikan suci itu. Tak sabar menanti pagi agar segera mendaki. 4 siswa SMA dari Jakarta meminta bergabung, mereka mengaku belum pernah ke Ciremai. Kami mengijinkan tanpa memberitahu bahwa kami juga belum pernah mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Meski belum pernah, tapi kami punya bekal pengetahuan tentang seluk beluk gunung melalui riset internet. Riset internet ini menjadi penting untuk mengetahui kondisi gunung sebagai asumsi awal. Ketika tiba di Pos Informasi, kami bertanya ke petugas tentang pos-pos dan kondisi gunung. Dua sumber informasi itu pun kami gabungkan menjadi suatu pemahaman atau pijakan dalam pendakian ini. Selain dari Linggar Jati, Gunung Ciremai juga bisa didaki melalui jalur Palutungan dan Apuy Majalengka.

Berdasarkan informasi dari internet dan petugas Taman Nasional Gunung Ciremei (TNGC), sumber air hanya ada di pos kaki, yaitu pos Cibunar (750 Mdpl). Namun karena rajin dan ramah berkomunikasi dengan warga, kami memperoleh informasi baru bahwa ada sumber air di sebelah kiri Pos Kondang Amis. Kendati begitu, kami tetap mengisi air sebanyak 4 jerigen ukuran 5 liter di Cibunar. Cibunar merupakan pos terakhir yang masih terdapat perumahan warga dan berbagai warung. Tempat ini sering dijadikan pendaki untuk menginap sebab lumayan aman dan nyaman tanpa kekurangan air.

Kami pun langsung menapaki jalan terjal, melawati pepohonan pinus dan berlanjut dengan pepohonan hutan lainnya yang rindang. Sejuk. Saat melihat ke bawah, pemandangan dengan pesona hamparan perkebunan warga tersaji indah. Langkah teratur dan tidak terburu menjadi salah satu teknik agar tidak menghambur-hamburkan tenaga. Setelah satu jam berjalan, kami tiba di pos leuweung Datar (1200 Mdpl), terdapat areadatar sekitar 5 meter dan cocok untuk istirahat. Hanya sebentar kami rehat di tempat itu, menikmati minuman kemasan rasa jeruk dan kepulan asap rokok. 

Hutan semakin rimbun dari Leuweung Datar. Tak ada panas menyengat, hanya cahaya mentari yang menembus sela-sela dedaunan dan menerpa tubuh kami yang kian berkeringat. Sekitar 45 menit kemudian, kami tiba di Pos Kondang Amis (1350 Mdpl). Tanah kosong untuk camp pendaki cukup luas di pos ini. Kawasan ini terbelah di sisi kanan dan kiri jalan menuju arah puncak. Terdapat sebuah warung kecil di sisi kiri (sekarang sudah tidak ada). Dagangannya seputar kopi, teh, dan mie. Selain itu, pemilik warung juga menjajakan air per jerigen yang membuat kami kian yakin ada air yang tak jauh dari tempat itu. 

Kendati perbekalan air cukup, tapi kami ingin memastikan keberadaan sumber air tersebut. Maka aku, Sahrul, Fei dan Adi pun mencoba menyusuri jalan setapak yang berada tepat di sebelah warung, sehingga tak tampak dari jalan utama. Pemilik warung sempat curiga dan bertanya, tapi tak bisa menahan setelah kami berkilah hendak buang air besar. Langkah kami melambat setelah 15 menit berjalan. Pasalnya ada seorang lelaki tanpa tangan kiri, dan di tangan kanannya menenteng senapan angin sedang berdiri di antara rimbunan pohon. Pandangannya tampak awas menatap sekitar, ke arah atas. Berbagai cerita aneh dan mistik yang kami dengar tentang Ciremai, membuat kehati-hati harus ditingkatkan. Tapi ternyata dia manusia, bukan makhluk lain seperti yang kami sanksikan. Bahkan, dia yang memberitahu dimana letak sumber air itu dengan catatan tidak buka suara ke pemilik warung. Kami setuju dan mengangguk. 5 menit dari tempat itu, akhirnya kami berhasil menemukan air lalu kembali ke Kondang Amis.

Budi, Wahyu, Wawe, Agung dan Sukro sedang menikmati kopi ketika kami tiba. Kami ikut bergabung, rehat sejenak menghabiskan sebatang rokok, lalu beranjak melanjutkan pendakian. Pepohonan semakin rimbun dan kami tak tahu jenisnya apa. Jalur kian menanjak, jalur tanah, berbeda dengan jalur Gunung Gede Pangrango via Cibodas yang hampir setengahnya bebatuan. Kami terus mendaki. Pendakian Ciremei benar-benar menguras energi, hanya ada sekitar 5 menit perjalanan di jalur landai yang kami lalui. Setelahnya, hanya menanjak dan menanjak.

Kami tiba di pos Kuburan Kuda setelah sekitar dua jam berjalan dengan beberapa kali istirahat. Pos atau Shalter ini merupakan dua bagian tanah datar yang dibelah jalur pendakian di tengahnya. Di sisi kiri, seorang lelaki dengan ikat kepala khas Jawa Barat berdiri dan menyapa setiap pendaki yang tiba. Ia rajin berbincang dan menyerocos berbagai hal, tapi ujungnya tetap menawarkan penjualan air. Juned ini merupakan anak dari pemilik warung di Kondang Amis.

Kuburan Kuda, namanya terkesan aneh dan membuat dahi mengernyit tentang apa cerita di balik pemberian nama itu. Konon di tempat ini banyak kuda jaman penjajahan yang dikubur. Menurut penuturan sejumlah pendaki, sering terdengar suara ringkikan kuda di malam hari. Sehingga tempat ini tidak direkomendasikan untuk menginap atau ngecamp. Kami meninggalkan Kuburan Kuda sekitar pukul 17.10 WIB.

Hari berangsur gelap. Sekeliling hanya belantara yang baru pertama kali kami singgahi. Perdebatan kecil sempat terjadi. Seperti wanti-wanti menjaga ucapan yang tak pantas, membatasi perilaku agar makhluk halus penghuni gunung tak terganggu, hingga sikap tidak percaya pada hal-hal berbau klenik dan mistik. Namun begitu, kami tetap mengambil keputusan secara demokratis. Tidak percaya mistik merupakan hak perogatif setiap orang, tapi tidak ada salahnya menghormati kepercayaan orang lain tentang keberadaan makhluk itu.

Malam telah sempurna gelap. Semua sepakat, berjalan lambat dengan urutan yang teratur. Jarak antar anggota hanya sekitar 1 meter sampai 1.5 meter. Beberapa kali kami menemukan pohon besar yang tumbang melintang jalan. Jalur itu tak lagi sekedar terjal, tapi juga menanjak hingga tanpa kami sadari telah tiba di Pos Tanjakan Binbin. Kami istirahat, merenggangkan urat syarat bahu dan punggung yang tegang akibat membawa beban berat. Terutama Budi, dia kebagian membawa carier yang berisi jerigen air. Tentu dapat dibayangkan bagaimana berat dan repotnya. 

Kami sepakat menghindari Pos Bapatere untuk menginap. Setidaknya harus mampu melewati pos itu meski keadaan tubuh kian melemah dengan kondisi tenaga yang telah terkuras. Sebab, banyak sumber yang menceritakan angker dan mistiknya. Konon, asal muasal pemberian namanya berkisah tentang seorang bapak yang membunuh anak tirinya, hingga tersebutlah bapa tiri kemudian berubah menjadi Bapatere. Menurut cerita Sukro, temannya pernah menemukan pasar ghaib yang menjual perlengkapan gunung di kawasan itu pada dini hari. Teman Sukro itu pun sempat membeli sepatu gunung bekas yang harganya tak dapat diterima akal. Sangat murah. Masih kata Sukro, sepatu itu utuh ada hingga kini.

Kami melanjutkan perjalanan dengan senter yang telah menyala di tangan. Sahrul berada di barisan belakang, lalu Wawe, Budi, aku, Adi dan seterusnya hingga ke depan. Pos selanjutnya adalah Tanjakan Seruni. Kian menanjak. Selain itu, tak jarang kami juga harus berpegangan pada akar pohon dan ranting untuk menaiki tanjakan nan terjal itu. Sedangkan di sisi kiri jalur, hanya belantara curam yang menjurus ke jurang. Jika terpeleset, pasti akan terperosok dan membentur pepohonan liar. 

Di sebuah tanjakan nan curam, kami harus bergantian sebab hanya mengandalkan akar pohon. Kami tak tahu saat itu akar pohon apa, cuma ukurannya tak sampai setengah pergelangan tangan. Tanjakan itu curamnya sekitar 70 derejat dengan ketinggian sekitar 2,5 meter. Teman-teman termasuk Adi yang berada di depanku berhasil menaikinya. Aku sempat menghentak-hentakkan akar itu guna memastikan kekuatan akar. Aku pun menaikinya yang kemudian Budi juga memegang akar itu. Tapi, ketika aku tiba di atas dan melepaskan pegangan, akar itu tiba-tiba terputus. Budi terjerembab. Adi berteriak histeris. Teman-teman yang di depan pun langsung menolehkan pandangan ke belakang, memanggil Budi. Untung Sahrul dan Wawe yang berada di belakang Budi dengan sigap menangkap, sehingga tubuh Budi dapat terkendalikan dan selamat. Kami terdiam beberapa saat, memberi waktu untuk Budi menormalkan nafas dari keterkejutan yang baru dia alami.

Kami berhasil melewati tanjakan Seruni, tapi tanjakan seolah tak ada habisnya. Silih berganti dan selalu ada. Kondisi badan kian melemah. Langkah kaki semakin lambat setapak demi setapak. Hingga kami tiba di sebuah tanah datar nan luas. Kami tak ingat saat itu pukul berapa dan berada di titik mana. Karena badan yang telah sangat lelah, kami pun sepakat mendirikan tenda. Mie, kopi dan susu menjadi menu kami di malam dan dingin itu. Unggun kecil kami nyalakan untuk penghangat badan. Berbincang tentang perjalanan yang telah dilalui dan akan ditapaki esok hari menjadi obrolan kami sebelum beranjak tidur dan terlelap.

Paginya, kami terkejut saat melihat tulisan di papan yang tergantung di sebuah pohon. Bapatere, begitu tulisan yang tertera. Kami saling pandang, sebab pos yang sedari awal ingin kami hindari, justru menjadi lokasi camp kami semalam. Setelah sarapan secukupnya, perjalanan pun berlanjut saat mentari kian meninggi, sekitar pukul 10.00 WIB. Tak ada landai, terus menanjak dan menanjak menyusuri hutan alami yang bebas dari pembalakan liar. Hingga kami tiba di Pos Batu Lingga saat jam telah masuk waktu zuhur.

Pos Batu Lingga merupakan kawasan landai yang memanjang. Tempat ini biasa dijadikan pendaki untuk bermalam. Terdapat sebuah in memoriam pendaki yang tewas di bagian atas tanah datar itu. Ada dua versi cerita tentang kematian dua wanita itu. Menurut satu sumber, mereka tewas karena kejadian aneh yang bernuansa mistik. Sedangkan menurut sumber lain, keduanya yang sedang kedinginan, menghangatkan badan dengan minuman beralkohol. Bukan membaik, malah nyawa mereka terenggut. Kami tak tahu versi mana yang benar. 

Selain itu, sejumlah pendaki dan hasil riset internet menerangkan bahwa di pos ini terdapat sebuah batu besar seukuran mimbar. Batu itu konon digunakan salah satu Wali Songo untuk berceramah kepada para muridnya. Kami tak melihat batu itu. Setelah rehat dan mengabadikan momen, kami berpose dengan kamera roll film yang menggunakan negatif film, serta dua buah ponsel Nokia 6630 milik Adi dan Sukro. Kamera digital masih langka saat itu.

Perjalanan pun berlanjut. Kami melewati Pos Sangga Buana 1 dan 2. Jalurnya lebar, tanahnya yang kering membuat debu beterbangan saat menapakinya. Saat itu tak ada tumbuh-tumbuhan di kawasan jalur tersebut. Hanya tanah dan sejumlah batu besar dan kecil di tengah jalan. Kondisi serupa terus kami temui hingga tiba di Pos Pangasinan setelah lebih 3 jam berjalan.

Pangasinan merupakan pos terakhir sebelum puncak. Kawasannya yang luas membuat nyaman untuk mendirikan tenda. Dari tempat ini kita juga dapat menikmati pemandangan kota Cirebon dan sekitarnya. Kami mendirikan tenda di sisi kiri, datarannya lebih tinggi dari pos utama. Tak jauh dari situ, ladang edelweis terhampar indah meski dataran tanahnya tak lagi rata. 

Kami akan menikmati matahari tenggelam atau sunset petang ini. Puncak Gunung Ciremei dapat ditempuh sekitar 60 menit dari Pangasinan. Setelah mendirikan tenda, menanak nasi, sayur lalu menyantapnya, kami beranjak menuju puncak. Wawe memutuskan tidak ikut ke puncak, dia kelelahan dan merasa kakinya tak kuat lagi menapaki trek yang kian terjal dan curam. Kami pun harus melewati bebatuan cadas, tak jarang posisi badan setengah merayap hingga akhirnya tiba di puncak tertinggi Provinsi Jawa Barat.

Sorak sorai gembira dari teman-teman yang telah dahulu tiba di puncak pun menggema. Berteriak seakan melepas seluruh penat yang hinggap di sekujur badan. Berdiri di atas awan, dengan cahaya jingga senja yang mempesona menuju matahari tenggelam. Keindahan puncak seolah mampu membayar tuntas segala lelah yang telah ditempuh.

Puncak Ciremei merupakan kawah mati yang berbentuk bundar atau lingkaran. Kota Cirebon dan laut Jawa dapat dilihat dari tempat ini. Sedangkan saat menatap ke arah timur, tampak dengan jelas Gunung Slamet di Jawa Tengah. Beruntung saat itu cerah, sehingga kami dapat menikmati keindahan ciptaan tuhan yang tidak semua orang punya kesempatan menatapnya. Jepretan kamera fuji film dan ponsel Nokia 6630 pun berwara-wiri. 

Wahyu tak berani berdiri di bibir kawah, ternyata dia mengidap phobia ketinggian. Kami berjalan ke sisi kanan. Namun tak lama, kami menemukan suatu keanehan. Sebatang rokok Marlboro berdiri kokoh di tengah kencangnya angin puncak Ciremai. Tepat di bibir kawah, rokok itu tak roboh, tetap berdiri pada posisinya. Sekitar dua jengkal di depannya, terdapat rambut yang tertanam dengan bentuk bundar seukuran kepala. Karena penasaran, aku mencoba mengoreknya namun dilarang oleh teman-teman. Hingga kami tidak tahu apakah itu hanya rambut atau lengkap dengan kepala manusia. Kami meninggalkan lokasi rambut itu, berdiri mengiringi matahari yang kian tenggelam hingga hilang dari pandangan, lalu kembali ke Pangasinan tempat kami menghabiskan malam.

Dalam pendakian, malam merupakan waktu yang tepat untuk berkreasi dalam hal masakan. Sebab kita memiliki banyak waktu. Kami pun memasak sayur sop dan kornet sebagai menu hidangan malam. Sedangkan cemilannya, kami menggoreng dan membakar otak-otak untuk menemani obrolan dengan melingkari api unggun kecil.

Perjalanan belum usai. Paginya, setelah sarapan dan menyantap agar-agar merk swallow, kami menuruni Gunung Ciremai dengan rasa suka cita. Kami tak pernah melangkah terburu. Fei sempat jatuh menjelang jalur Sangga Buana 2. Dia yang membawa carier paling besar bergulingan di atas tanah. Jerigen kosong yang dipegangnya terlempar cukup jauh. Carier terlepas dari punggungnya. Namun entah bagaimana, rokok tetap terselip di sela jemari tangan kirinya. Ia sempat menghisap rokok itu saat posisinya masih terjerembab.

Kami membagi tim menjadi dua grup. Sukro, Fei, Agung, Sahrul dan Wahyu berjalan duluan dengan catatan menunggu di Kondang Amis. Sementara Aku, Budi, Wawe dan Adi berjalan lambat di belakang. Sebab kaki Wawe mengalami kram dan tak kuat berjalan normal. Kaki Wawe tak kuat lagi menapak setelah Pos Bapatere. Kami pun mengeluarkan tali pramuka dan webing. Wawe terpaksa harus berjalan dengan memegangi tali yang kami ikatkan ke pohon secara estafet. Sebab sumber tenaganya tinggal di tangan. Teknisnya, Budi memegangi tali yang sedang dijadikan pegangan Wawe untuk berjalan, sementara aku dan Adi estafet memasang tali ke pohon di bawahnya. Begitu seterusnya bergantian.

Saat menuruni jalur setelah Pos Tanjakan Binbin, Budi baru selesai mengikat tali, Adi telah berjalan ke bawah mengikat tali di pohon selanjutnya. Wawe telah berpegangan ke tali pramuka itu untuk melangkah. Entah apa firasat yang ditangkap Budi, ia memintaku berjaga-jaga di bawah Wawe untuk antisipasi jika tali terputus. Tapi baru hendak dua langkah aku berjalan, tali yang dipegang Wawe tiba-tiba putus. Tak pelak aku pun langsung melompat dan berhasil menangkap badannya yang jauh lebih besar. Kami berempat hanya menahan suara dan bengong. Budi segera turun, Adi langsung naik lagi berkumpul di posisi aku dan Wawe. Beruntung Wawe tidak membentur pohon yang mana tubuhnya telah lemah.

Dengan sisa-sisa tenaga dan seutas tali webbing, kami melanjutkan perjalanan dengan metode yang sama dan extra hati-hati. Persediaan air kami menipis, tidak penuh setermos kecil ala outdoor yang penutupnya dapat dijadikan gelas. Kami pun membuat kesepakatan minum satu jam sekali dengan satu gelas dibagi menjadi empat. Persediaan makanan ringan pun akhirnya habis juga, sebab logistik makanan dibawa 5 teman yang telah duluan menuju Kondang Amis. Alhasil, saos pun menjadi cemilan kami sepanjang perjalanan hingga Maghrib tiba di Pos Kuburan Kuda. Air dan saos pun turut habis. Badan kian melemah. 

Kami masih istirahat meski waktu azan maghrib telah berlalu sekira 10 menit. Adi telah memegang webbing dan bersiap mengikatnya ke pohon. Namun tiba-tiba ada suara memanggil-manggil nama kami dari bawah. Suara Sukro dan Sahrul. Kami menyahut girang dengan sekencang yang kami mampu. Alangkah kagetnya mereka saat mengetahui kondisi kami dan terlebih kehabisan air. Sahrul mengeluarkan jerigen dari tasnya. Kami pun minum dan terasa sangat nikmat saat air melewati tenggorokan. 

Sahrul memasang dua buah kayu di setiap kaki Wawe agar kuat berjalan. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya Wawe berjalan dengan dipapah Sahrul dan Adi. Budi persis di depan mereka, kemudian Sukro paling depan sebagai pemimpin arah. Aku di barisan paling belakang. Hari telah benar-benar gelap. Puluhan kunang-kunang mendadak muncul di sepanjang jalur yang kami lalui. Tak banyak percakapan yang muncul. Hanya Adi, Sahrul dan Wawe yang sesekali berkomunikasi tentang teknis jalan. Setengah jam berlalu, Sukro memanggilku agar maju ke depan menghampiri mereka.

"Bud, lu hapal ayat kursi nggak?," Sukro bertanya ke Budi.

"Hapal, kenapa Kro?

"Baca Bud. Gua nggak hapal," 
Sukro lalu memberitahu bahwa ia melihat sosok lelaki berjalan di belakangku. Pakaiannya serba putih dengan wajah yang tampak hitam. Atas alasan itulah dia menyuruhku ke depan. Kami istirahat belasan menit lalu melanjutkan langkah.

Akhirnya kami tiba di Kondang Amis dan disambut dengan minuman hangat yang telah disiapkan Wahyu, Fei dan Agung. Kami terpaksa membeli makanan di warung yang ada di Kondang Amis itu. Sebab, 4 anak SMA yang dari awal  pendakian bergabung dengan kami, kini telah tidak ada, mereka turun tanpa pamit. Padahal, sejak hari pertama mereka ikut makan dengan perbekalan logistik kami. Beruntung warung itu masih menjual makanan. Kami pun sempat berdebat soal Jaringan Islam Liberal pimpinan Ulil Absar Abdalla sebelum beranjak tidur dan terlelap.

*****

Keriuhan melanda Stasiun Kereta Api Cirebon pada malam berikutnya. Kami kembali ke Jakarta tidak menggunakan Bus Luragung, sebab persediaan uang terbatas. Dengan kemampuan lobi dan komunikasi Adi Saputro, kami dapat keringanan ongkos dari Kepala Stasiun. Ongkos yang sejatinya Rp.28.000 kami bayar hanya dengan sebesar Rp.10.000. Dengan catatan tidak dapat tempat duduk, dan harus berada di gerbong pertama setelah mesin dan masinis selama 5 jam perjalanan ke Stasiun Senen, Jakarta, yang saat itu kalender menunjukkan tanggal 14 Juli 2006.

*****

No comments:

Post a Comment