Saturday, June 28, 2014

Suatu Petang di Republic Coffea

Republic Coffea (Foto/Idham Siregar)

Pamulang, kota di daerah Tangerang Selatan ini terkenal dengan lalu lintasnya yang semrawut. Terutama jam berangkat dan pulang kerja. Jika dari Lebak Bulus, menuju Bundaran UNPAM merupakan perjuangan emosi dan menguji kesabaran. Apalagi bagi pengendara sepeda motor yang jatahnya tergusur angkutan kota (angkot) dan mobil pribadi. Begitulah kondisi yang saya rasakan saat melintas pada Jumat (27/6/2014) petang lalu.

Tujuan saya adalah Simpang Viktor. Tapi, kondisi lalu lintas di Pacuan Kuda membuat otak dan hati panas. Betapa tidak, saling menatap tajam dan menyerobot antar sesama pengendara merupakan hal yang lumrah terjadi. Sontak saya teringat seorang teman. Namanya Didiningrat. Beberapa waktu yang lalu ia mengundang saya untuk hadir di acara tasyakuran atau opening ceremony usaha kafe kopi yang baru ia rintis bersama rekannya. Kala itu saya tidak datang karena kesibukan kantor. Saya putuskan untuk mampir, terlebih saya seorang penikmat kopi.

Kafe kopi itu bernama Republic Coffea. Lokasinya sekitar  30 meter sebelum Bundaran UNPAM (jika dari Ciputat). Terletak di sebelah kanan jalan, tepat di depan Toko Diamond Furniture. Sang empunya pun menyambut ramah. Saling bertanya kabar dan bercanda.  Saya memilih duduk di meja paling depan. Meja itu terbuat dari kayu jati, sama seperti enam meja lainnya. Selang dua menit, Pelayan datang memberi daftar menu berikut dengan password wifi. Saya pun memilih kopi Toraja di kafe yang memilik tagline ‘Citarasa dan Aroma Asli Kopi Nusantara’ ini. Sembari menanti pesanan, saya melemparkan pandangan ke sekililing. Dua lukisan abstrak terpajang di dinding. Suasana yang nyaman untuk meredakan kerutan di kening.

Kopi Toraja yang memiliki sebutan ‘Queen of Coffea’ itu pun terhidang. Aroma dan harumnya begitu khas. Saya meyakini ini asli kopi Toraja. Sebab keunikan antara rasa pahit dan asamnya sangat khas. Soal ditambah gula atau tidak, itu tergantung selera. Si empunya pun duduk semeja dengan saya. Kita berdiskusi ringan tentang sejarah kopi. Asal-usulnya di Ethopia dan Timur Tengah, sejarah warung kopi di Turki dan Eropa, kopi – kopi di Nusantara hingga bagaimana peran kopi dalam pengerjaan skripsi saat masih kuliah.

Tanpa terasa, Sudah dua gelas kopi saya habiskan. Saatnya melanjutkan perjalanan, sebab jalanan mulai lumayan lengang. Pelayan pun datang. Saya membayar Rp.14.000 untuk dua gelas kopi Toraja. Waw, harga yang murah. Alunan lagu ‘Gadis Pemalu’ milik Agus Rhapsody dari pengeras suara kafe mengiringi saya meninggalkan Republic Coffea yang entah siapa presidennya itu.  



2 comments: