Saturday, June 18, 2016

Antara Ronda dan Piala Eropa

Setiap mendengar atau menyebut kata ronda, yang terlintas di benak saya adalah komik Petruk karya Tatang S. Dalam cerita itu, Petruk cs hampir dipastikan bertemu kuntilanak, pocong, gondoruwo, dan sejenisnya. Lalu, kisah akan diakhiri dengan rapalan mantara Semar yang mengusir 'makhluk-makhluk' tersebut.

Ronda tak bisa dipisahkan dengan pos ronda. Alkisah, pos ronda memiliki sejarah panjang di Indonesia. Dimulai sejak masa penjajahan Belanda yang membangun pos untuk memantau potensi pribumi yang melawan kolonial. Meredam amuk warga guna mengokohkan kesewenangan penjajah. Belanda pergi, Jepang masuk, lalu membentuk sistim RT/RW. Tujuannya tak lain supaya mudah mengontrol dan mendata pribumi. Pos ronda kian menjamur hingga kini, dan menjadi satu-satunya pos yang tidak membutuhkan kode dan perangko.

Ronda atau jaga malam masih lestari di kampung-kampung. Salah satunya di sebuah kampung di perbatasan Tangerang Selatan dengan Kabupaten Bogor. Malam tak terlalu dingin. Kenapa kampung? Karena semodern apapun kota dan kehidupannya, tak akan terlepas dari kampung. Termasuk kampung halaman, sebab tak ada istilah kota halaman.

Mendapat giliran ronda adalah bagian termalas dari aktifitas hari. Namun jadwal itu bisa dikatakan sebagai kewajiban sosial. Apalagi untuk warga baru seperti saya. Mengenalkan diri. Dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau PMP disebut bermasyarakat, atau bersosialisasi dalam istilah kekinian.

Pos ronda merupakan sebuah bangunan panggung bersegi empat. Biasanya tanpa dinding dan hanya ada atap. Tiba di tempat itu, yang saya temukan adalah bocah usia SMP. Mereka menunggu pukul setengah tiga dini hari tiba untuk berkeliling membangunkan warga, berteriak sahur sahur sambil memukuli ember dan kaleng cat yang beralih fungsi jadi gendang. Irama tak beraturan dengan tempo berantakan. Tak masalah, toh mereka tetap riang.

Lalu dimana bapak-bapak yang mendapat giliran ronda? Mereka asyik menonton Piala Eropa yang dihelat di Prancis. Mendukung Portugal dan Inggris yang notabenenya pernah menjajah Nusantara. Belanda tak ambil bagian kali ini, tidak lolos fase qualifikasi. Bila lolos ikut ke Prancis, maka jadilah trisula penjajah dielu-elukan di layar kaca, yang terkadang menjadi sebab perselisihan antar sesama warga Indonesia yang mendukung tim nasional negara-negara benua biru tersebut.

"Ayo Ronaldo, pemain termahal kok belum cetak gol," sorak penggemar dari sebuah rumah. Seluruh petugas ronda berkumpul di rumah itu. Melupakan ronda karena Piala Eropa. Semoga tidak ada maling malam ini.

Ya, penjajah memang telah lama angkat kaki dari Indonesia. Tapi pengaruhnya masih terasa kendati dalam bentuk sepakbola. Jika kewajiban dan tugas ronda saja masih bisa direnggut mereka, maka bagaimana dengan sisi kehidupan kita lainnya.

Ini bukan ironi. Tak ada salahnya. Karena pesta sepakbola hanya empat tahun sekali. Juga tidak merusak nasionalisme. Rasa cinta terhadap merah putih pun tidak luntur. Namun kebanggaan terhadap Timnas Indonesia memang berkurang, nada sumbang seperti "Kalau Timnas Indonesia mah biasa kalah mulu". Oh iya, bukan tak bangga. Lebih tepatnya kecewa. Sebab rakyat lebih berharap Timnas bermain apik dan berprestasi ketimbang mendambakan harga sembako turun. Dan soal ronda terenggut Piala Eropa memang tak ada urusannya dengan era kolonial, post kolonial hingga post modern, tapi tetap mencederai komitmen dan kesepakatan.

Sementara, para bocah telah berkeliling kampung memeriahkan Bulan Ramadhan. Pos ronda kian sepi. Mendukung negara yang pernah menjajah membuat lupa tugas ronda.

Ah, biarlah. Dalam keasyikan menulis, saya justru lupa. Klub favorit saya adalah Chelsea FC, dan mengidolakan Frank Lampard.

No comments:

Post a Comment