Pada beratus ribu tahun sebelum Masehi, saat nilai tukar uang belum menjadi perbincangan penting manusia, aksi demonstrasi belum menjadi salah satu cara untuk peralihan era, belum ada pantun maupun syair. Bumi hijau terhampar, langit biru terbentang, sejuk serta asri di atas kepala dan di bawah kaki, burung jalak dan prenjak merdu bernyanyi. (Burung prenjak pernah bertengker di dada seorang manusia bernama Birong).
Tersebutlah sebuah daerah yang tak merasakan keasrian. Bukan karena manusianya tak cinta lingkungan. Tidak lantaran flora dan fauna yang enggan menghiasi kehidupan. Tanah itu gersang. Pasalnya, terdapat Gunung Batu yang berdiri menjulang kokoh menyebabkan akar tak mampu menembus tanah. Jadilah panas. Terik. Jangankan kaki manusia, hewan pun tak kuat berlama-lama memijak bebatuannya. Karena itu mereka lari, berkelana mencari rimba.
Hanya ada satu jenis burung yang bertahan, ia kuat tersiram cahaya mentari yang tak berawan. Ekornya panjang. Rajin berkicau mendendangkan nada yang entah maksudnya apa. Tapi merdunya, jauh lebih indah dari seringai Celine Dion maupun Sulis. Hampir seluruh tubuh burung itu berwarna hitam, kecuali bagian bawah badan berwarna merah cerah hingga jingga kusam. Burung Murai namanya. Murai betah mendiami wilayah gersang tersebut.
Daerah itu tak bernama. Lalu bagaimana penyebutannya? Sederhana, yaitu dengan menyebut dua wilayah yang mengapitnya. Yaitu bukan Tanjung (tanpa ujung) dan bukan Payung (tanpa langga), itulah yang menjadi namanya. Teori penyebutan ini seperti yang diajarkan Ilmu Nahwu dalam tata bahasa Arab. Isim (kata benda) dan fi'il (kata kerja) memiliki beberapa tanda. Huruf tidak ada keterangan tandanya. Jadi apa tanda huruf? Tanda huruf yaitu segala sesuatu yang bukan tanda fi'il dan Isim. Seperti itu jua lah penyebutan nama daerah itu.
Gunung Batu sangat tinggi. Entah berapa tingginya. Satuan ukuran tingginya bukan berdasarkan MdPL atau Meter dari Permukaan Laut, tapi berlandaskan JdPL, Jauh dari Permukaan Laut. Kawasan itu dingin. Sangat dingin. Seperti penggalan puisi Goenawan Muhammad, 'dingin tak tercatat pada termometer'. Begidik.
Tak ada catatan apakah ada orang yang pernah mendaki Gunung Batu. Dan juga, tak ada manusia yang menghuni kawasan itu. Sebab sejauh pandangan mata yang terlihat hanya batu dan batu. Seperti tatapan seorang perantau, bila memandang yang tersirat hanya rindu dan rindu.
Hingga suatu ketika, Gunung Batu yang tergolong gunung vulkanik itu meletus. Letusannya dahsyat, menggelegar. Batu-batu yang tersusun kokoh dan tertanam kuat di tanah berhamburan, beterbangan ke udara hingga kawasan itu terbelah menjadi dua wilayah. Untuk mengenang Gunung Batu, penduduk lokal menamainya dengan Bagan Batu dan Labuhan Batu. Terletak di perbatasan Provinsi Sumatera Utara dan Riau.
Bagaimana nasib Burung Murai?. Burung yang memiliki kicau indah itu juga turut beterbangan ke ke berbagai penjuru. Menyebar. Ada yang tetap di Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, bahkan Pulau Jawa. Dan karena letusan Gunung Batu itu, si Murai pun dikenal dengan Burung Murai Batu.
Apa kabar Bagan Batu? Masih panas kah langitmu?
NB:
Sesungguhnya sangat tidak dianjurkan mempercayai riwayat ini. Karena ini bukan sejarah atau pun dongeng. Lalu apa namanya? Ya kembali ke teori dasar Ilmu Nahwu, sesuatu yang bukan sejarah dan dongeng.
terima kasih atas artikel menariknya mas, jadi kangen bagan batu
ReplyDeleteSama-sama Mas. Sama-sama kangen Bagan Batu hehe. Salam kenal. Oh ya, Bagan Batunya dimana?
ReplyDeleteMantap bang, agiah taruih...
ReplyDeleteMantap, Bang
ReplyDeleteAku percaya tulisan ini sebuah story bukan history.
Zul Kariman dan Ali Imran Nasution: Mantap, salam lestari dan bestari.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete