Friday, January 2, 2015

Seri Pendakian Gunung Guntur (II)

Foto: Idham Siregar
 Bagaimana Masa Depan Gunung Guntur?                                                                 Keindahan dan kerusakan merupakan dua hal yang berbeda. Jika menatap pemandangan nan indah dapat mengundang decak kagum, kehancuran justru membuat kita terkadang tak mampu menahan kepala untuk terus menggeleng. Di Gunung Guntur, keindahan dan kerusakan alam dapat disaksikan dalam se-pandangan mata. Miris!

Kampung Duku, Kabupaten Garut, Jawa Barat merupakan desa terakhir di kaki Gunung Guntur. Truk yang kami tumpangi dari SPBU Tanjung terus melaju dengan lambat. Jalan desa yang tak rata aspalnya membuat kami yang berada di bak belakang tak dapat berdiri dengan tenang. Kerap bergoyang dan mengencangkan pegangan.

Saya bediri di bagian paling belakang bak truk. Tepatnya di sudut kiri. Di sebelah saya ada Ziyad, Ni'mah, Mahar dan beberapa teman lainnya. Sementara Syamsud dan Samsi duduk di atas bak yang ujungnya menjorok di atas kepala mobil. Sedangkan yang lain berdiri berjajar di sisi kanan dan kiri bak. Ada juga yang 'ngampar' di lantai berbaur dengan tumpukan carier.

Saat tiba di ujung desa, kami bertemu pertigaan lalu berbelok ke arah kanan. Saat itu lah kami menggelengkan kepala, berdecak miris menyaksikan 'tragedi' yang terpampang. Betapa tidak, kaki gunung itu telah habis dijarah penambangan pasir. Alat-alat berat terparkir. Kawasan itu telah menjelma menjadi gundukan-gundukan pasir yang cukup tinggi. Sementara sisa-sisa pohon pinus tampak berdisi satu per satu dengan jarak yang sangat berjauhan.

"Gila ya bah!," ungkap Mahar dengan wajah kaku.

"Parah parah," Ari menimpali dengan suara yang terdengar pelan.

"Bayangkan kondisi gunung ini 10 tahun ke depan. Sekarang aja udah setinggi ini memakan badan gunung," ujarku menggeleng.

Truk yang kami tumpangi terus berjalan seperti terseok-seok di tengah pasir dan bebatuan. Sopir harus memajukan sedikit agar kemudi dapat dibelokkan menuju dataran lebih tinggi.  Jalanan sempit, dan harus memutari gundukan-gundukan pasir yang terbentuk akibat penambangan. Tak ayal kami pun perpegangan erat ke sisi bak truk agar tak tersungkur ke lantai.

Foto: Dokumen Mahachala
"Wooooow" hampir seluruh kami berteriak saat sopir membelokkan stir tanpa mengurangi kecepatan.

Kami menyebutnya seperti sedang off road. Mungkin lebih menegangkan, sebab tak jarang ada batu besar yang seolah hendak jatuh di pengkolan jalan. Batu berwarna hitam kecokelatan itu menggantung. 

Saat menghadapi ketegangan itu, kami dikejutkan oleh panaroma indah kala melihat arah timur di belakang kami. Cahaya kemerahan muncul di antara mega yang tertata bak ukiran. Sunrise. Matahari terbit di kaki Gunung Guntur terlihat cantik. Cahaya surya yang masih timbul malu-malu, menyelusup dan menembus awan hingga sinarnya menerpa tubuh. Tidak hanya memberi indah dan kehangatan, tapi seolah menyiratkan pesan kepada aksi penambangan pasir yang merusak alam.

Kamera. Ya, mulai dari kamera DSLR hingga gadget berbagai merk pun langsung keluar. Membidik cahaya pagi yang mana embun tak dapat tempat bertengker, sebab pepohonan pinus dapat dihitung dengan jari. Kami berpose, berselfie, dan memotret panorama yang mengundang syukur dan takjub. Tentu saja kami memotret dan menatap cahaya pagi itu dengan hati-hati sebab goncangan mobil tak mengendur.

Jalan yang kami lalui cenderung mengarah ke kanan dan lewat di antara gundukan pasir atau batu. Strategi sopir tetap sama dan hanya itu caranya agar truk dapat naik ke dataran yang lebih tinggi lagi. Yaitu maju sedikit lalu mundur sambil berbelok ke kiri lalu stirpun diputar ke kanan untuk naik. 

Foto: Dokumen Mahachala
Tak jarang truk berhenti mendadak. Ziyad pun melompat seperti tersungkur ke tumpukan carier dan daypack, namun ia tampak bergurau. Di kala lain, saat truk menanjaki medan curam, dompet Mahar terjatuh. Kami yang melihatnya pun langsung berteriak ke Mahar dan ke sopir agar menghentikan lajunya. Posisi berhenti truk belum sempurna, tapi Mahar langsung melompat dan mengejar dompetnya.

Beruntung hanya dompet yang terjatuh, awal November 2014, lalu terjadi kecelakaan di kawasan ini. Truk yang membawa 32 pendaki usai bertualang di Gunung Guntur terguling. Akibatnya para pendaki dari berbagai daerah itu pun mengalami luka yang cukup serius dan harus mendapat perawatan intensif. Mulai dari patah tulang, luka berat di kepala, tangan, kaki, wajah, punggung bahkan hingga tak sadarkan diri usai mengalami peristiwa nahas tersebut. 

Mahar telah kembali naik ke truk. Sopirpun menekan pedal gas dengan kaki, melajukan truk hingga batas pasir yang telah dikeruk di badan gunung. 

"Jalur pendakiannya ke arah situ," ujar sopir bus ketika kami telah turun. 

Usai memberitahu arah dan menerima biaya transportasi sebesar Rp.210.000 (Rp.10.000/orang), sopir dan kenek langsung mengambil skop dan peralatan lainnya, mereka mengeruk pasir. 

Praktik seperti itu bisa disebut ekofasis. Tapi di sisi lain kita juga tak dapat menafikan faktor ekonomi. Tapi apakah yang menikmatinya warga setempat atau justru orang luar? Kami belum mendapat jawaban. Agak riskan bertanya langsung ke sopir dan kenek tersebut. Namun yang tak kalah pentingnya adalah membaca potensi bencana. Bencana alam tidak datang tiba-tiba, telah banyak contoh kasus yang membuktikan bencana alam terjadi akibat perilaku manusia terhadap alam lingkungan. Hal ini selaras dengan Firman Allah dalam Alquran.

"Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia...". (QS. Ar-rum: 41).

Foto: Dokumen Mahachala
Surya mulai meninggi saat waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Megahnya tak sirna kendati bias cahaya mulai memutih. Kami tiba di kaki Gunung Guntur dengan menyaksikan keindahan dan kerusakan alam secara bersamaan. Di depan, terlihat gunung menjulang dengan satu puncaknya yang gundul. Namun berdasarkan informasi yang ada, gunung ini memiliki 5 puncak. 3 awal merupakan puncak Gunung Guntur, sedangkan puncak ketiga dan keempat masuk kawasan Gunung Masigit. Kami pun melangkah mempersiapkan upacara awal pendakian.





No comments:

Post a Comment