Reza duduk
terpaku di bangku warung pojok. Jemarinya memilin – milin benang nilon. Pria
berambut gondgrong ini merupakan mahasiswa salah satu Universitas swasta di Jakarta.
Kumisnya tipis bak aktor film porno Amerika. Perawakannya tinggi meski tidak
menyamai tiang listrik. Sesekali tersenyum, namun lebih banyak terbahak.
Lelaki berusia 19
tahun ini mengaku sebagai penikmat alam. Entah alam mana yang ingin ia nikmati.
Alam dunia, alam kubur atau alam akhirat? Entah lah. Yang jelas ia mengaku
pernah mendaki gunung Gede di Jawa Barat. Baru satu gunung itu yang telah
didakinya.
Malam itu, 05 –
Januari – 2014, dahan – dahan pohon bergoyang lambat, sesekali semakin kencang
membuat poninya tersibak dan akhirnya memperlihatkan bentuk jidatnya ke setiap
makhluk yang ada di warung pojok. Sebuah warung yang terletak di sebelah Tempat Pemakaman Umum
Jeruk Perut.
Reza terkesan telah
mendaki puncak Mahameru. Hal itu terlihat dari koas hitam bermotif semeru dan
mahameru yang ia kenakan. Beberapa kali kaos itu ditonjolkannya dengan berbagai
cara, baik dengan membusungkan dada maupun memajukan dua bahunya, sehingga
catatan di punggung kaos terlihat jelas.
Namun, kesan pernah ke Mahameru sontak sirna seiring pertanyaan yang
dilontarkannya.
“Ongkos ke semeru berapa
bang?,” tanyanya dengan tatapan fokus ke Wiro yang duduk tepat di depannya.
Wiro yang sedang memainkan gitar sontak tercengang sejenak, matanya mengarah ke Reza yang tengah menunggu jawaban. Wiro mengira ini adalah pertanyaan iseng dari seorang mahasiswa badung tapi cerdas. Tapi, setelah Reza mengulang pertanyaan yang sama, Wiro menaruh keyakinan bahwa Reza memang benar – benar ingin tahu.
Akhirnya, Wiro
menjawab dengan cara bercanda. Keingintahuan Reza dijawab dengan mengoceh
sambil diiringi petikan gitar tak beraturan. Dan langsung mendendangkan nada
yang kebetulan jemari Wiro berada pada posisi kunci A Minor.
“Tergantung kau mau
naik angkutan apa. Ada tiga angkutan pilihan. Paling mahal naik jeep, kalau mau
lebih murah, naik pick up, ingin lebih murah lagi kau naik mobil gerobak yang
mengangkut masyarakat setempat,” dendang Wiro.
Reza tersenyum,
pandangannya mengarah ke atas. Bukan menatap langit, tapi atap seng yang telah
berkarat dan sedikit bocor.
“Ongkosnya berapa bang?,” Reza kembali meminta
jawaban pasti.
“Ongkosnya
tergantung cara komunikasimu, kalau kau pintar menawar, harga bisa turun. Tapi
kalau kau diam saja, mampuslah kau kena tipu,” Wiro melanjutkan dendangnya.
Reza tertawa
terbahak – bahak. Hampir 10 menit ia tertawa tanpa berhenti. Tawanya terhenti
saat sehelai kumisnya jatuh dan menempel di bibir. Kumis terjatuh itu terlihat
karena Reza mengumpat seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Entahlah.
Setelah itu, Reza
terdiam. Matanya seperti orang tercengang. (mungkin) pikirannya menerawang atau
mengingat – ingat jadwal kuliah yang kerap ia lupa. Namun, hingga gitar di
tangan Wiro berpindah tangan, belum ada kalimat yang keluar dari Reza kapan ia
benar – benar berangkat ke malang.
“Reza, lelaki itu
harus berkelana. Tapi jangan lupa bercelana!,” Hardik wiro.
Reza menyalakan
rokok, angin terus berhembus menunggu ayam jantan berkokok.

bersambung nih, bang?
ReplyDeletengegantung nih
Iya bang, besok lanjutannya. Thanks udah mampir.
Delete