Friday, January 10, 2014

Kaos Mahameru


Reza duduk terpaku di bangku warung pojok. Jemarinya memilin – milin benang nilon. Pria berambut gondgrong ini merupakan mahasiswa salah satu Universitas swasta di Jakarta. Kumisnya tipis bak aktor film porno Amerika. Perawakannya tinggi meski tidak menyamai tiang listrik. Sesekali tersenyum, namun lebih banyak terbahak. 

Lelaki berusia 19 tahun ini mengaku sebagai penikmat alam. Entah alam mana yang ingin ia nikmati. Alam dunia, alam kubur atau  alam akhirat? Entah lah. Yang jelas ia mengaku pernah mendaki gunung Gede di Jawa Barat. Baru satu gunung itu yang telah didakinya.

Malam itu, 05 – Januari – 2014, dahan – dahan pohon bergoyang lambat, sesekali semakin kencang membuat poninya tersibak dan akhirnya memperlihatkan bentuk jidatnya ke setiap makhluk yang ada di warung pojok. Sebuah warung  yang terletak di sebelah Tempat Pemakaman Umum Jeruk Perut.

Reza terkesan telah mendaki puncak Mahameru. Hal itu terlihat dari koas hitam bermotif semeru dan mahameru yang ia kenakan. Beberapa kali kaos itu ditonjolkannya dengan berbagai cara, baik dengan membusungkan dada maupun memajukan dua bahunya, sehingga catatan di punggung kaos terlihat jelas.  Namun, kesan pernah ke Mahameru sontak sirna seiring pertanyaan yang dilontarkannya.

“Ongkos ke semeru berapa bang?,” tanyanya dengan tatapan fokus ke Wiro yang duduk tepat di depannya.

Wiro yang sedang memainkan gitar sontak tercengang sejenak, matanya mengarah ke Reza yang tengah menunggu jawaban. Wiro mengira ini adalah pertanyaan iseng dari seorang mahasiswa badung tapi cerdas. Tapi, setelah Reza mengulang pertanyaan yang sama, Wiro menaruh keyakinan bahwa Reza memang benar – benar ingin tahu.

Akhirnya, Wiro menjawab dengan cara bercanda. Keingintahuan Reza dijawab dengan mengoceh sambil diiringi petikan gitar tak beraturan. Dan langsung mendendangkan nada yang kebetulan jemari Wiro berada pada posisi kunci A Minor.

“Tergantung kau mau naik angkutan apa. Ada tiga angkutan pilihan. Paling mahal naik jeep, kalau mau lebih murah, naik pick up, ingin lebih murah lagi kau naik mobil gerobak yang mengangkut masyarakat setempat,” dendang Wiro.

Reza tersenyum, pandangannya mengarah ke atas. Bukan menatap langit, tapi atap seng yang telah berkarat dan sedikit bocor. 

“Ongkosnya berapa bang?,” Reza kembali meminta jawaban pasti.

“Ongkosnya tergantung cara komunikasimu, kalau kau pintar menawar, harga bisa turun. Tapi kalau kau diam saja, mampuslah kau kena tipu,” Wiro melanjutkan dendangnya.

Reza tertawa terbahak – bahak. Hampir 10 menit ia tertawa tanpa berhenti. Tawanya terhenti saat sehelai kumisnya jatuh dan menempel di bibir. Kumis terjatuh itu terlihat karena Reza mengumpat seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya. Entahlah.

Setelah itu, Reza terdiam. Matanya seperti orang tercengang. (mungkin) pikirannya menerawang atau mengingat – ingat jadwal kuliah yang kerap ia lupa. Namun, hingga gitar di tangan Wiro berpindah tangan, belum ada kalimat yang keluar dari Reza kapan ia benar – benar berangkat ke malang.

“Reza, lelaki itu harus berkelana. Tapi jangan lupa bercelana!,” Hardik wiro.

Reza menyalakan rokok, angin terus berhembus menunggu ayam jantan berkokok.





2 comments: