Friday, January 17, 2014

Kaos Mahameru (II)




Hujan lebat mengguyur Jakarta, Minggu, 12 - Januari – 2014. Berbagai wilayah ibukota terendam air. Begitu juga di warung pojok yang terletak di sebelah Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut. Genangan air mencapai setinggi mata kaki, dua pelanggan tergopoh mengejar sandal mereka yang hanyut. 

Siang itu, Reza tidak lagi mengenakan kaos Mahameru. Namun, style pendaki gunung masih tampak melalui gelang dan kalung dari tali carbiner yang melingkar di lengan dan lehernya. Wiro masih penasaran dengan kaos mahameru Reza, belum pernah ke Mahameru namun telah mengenakannya.

Fenomena kaos 'penanda perjalanan' ini tidak hanya menjangkit Reza saja. Di luar sana, banyak orang yang mengenakan berbagai kaos seperti  I Love London, Hongkong ataupun daerah dan negara lainnya untuk meraih predikat ‘pernah’. Wiro menyebut hal ini dengan penyakit sosial.

Reza akhirnya mau buka suara mengenai asal – usul kaos maharemu kesenangannya. Kaos berwarna hitam itu ia beli seharga Rp.50.000 di sebuah toko adventure yang terdapat di dekat kampus swasta di bilalangan Cempaka Putih. 

“Kenapa kau beli? Kan kau belum ke semeru?,” tanya Wiro

Reza tertawa kecil. Entah apa yang dipikirkanya sehingga ia memberi jeda waktu beberapa menit untuk menjawab. Penyuka musik scream emo ini menuang air ke dalam gelas lalu menenggaknya. Menurutnya, konsep perjalanan yang dianutnya adalah membeli kaos daerah atau tempat yang dituju terlebih dahulu sebelum berangkat.

“Biar semangat mau ke semeru bang, jadi, beli kaosnya dulu. Kalau aku begitu bang, beli kaosnya dulu, baru jalan,”  ujar pemuda yang memiliki panggilan masa kecil membot ini.

Wiro yang tengah asyik menyeruput kopi hitam, tidak langsung serta merta percaya dengan alasan yang dilontarkan Reza. Wiro menduga ada alasan lain di balik pembelian koas tersebut. Ya, penyakit sosial untuk meraih predikat ‘pernah’.

“Untuk keren – kerenan juga, biar dibilang udah pernah ke semeru,” kata Reza menjelaskan.

Raut muka Reza berubah. Ia tampak seperti mambayangkan perjalanan ke semeru. Ujian Akhir Semester akan selesai pada akhir bulan Januari ini. Namun, perencanaan pendakian bukan ke gunung semeru, berganti ke gunung merbabu di Magelang Jawa Tengah.

“Februari kami ke Merbabu bang,” ujar Reza tanpa ada yang bertanya.

loh, kenapa ke Merbabu? Kau kan belum punya kaosnya!,” Wiro bertanya seolah heran.

“kata kawanku orang Malang, Semeru tutup bang. Mungkin karena aku bohongin orang – orang, make kaos mahameru itu, jadinya gagal ke semeru. Besok – besok gak lagi lah,” ujarnya dengan suara yang semakin pelan dan terkesan serius.

Wiro menghargai kesimpulan yang diambil Reza. meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa peristiwa tersebut hanya kebetulan sahaja, sama sekali tidak berkaitan dengan ‘pembohongan publik’ yang dilakukannya. Sebab, gunung semeru memiliki jadwal penutupan untuk kegiatan pendakian.

Sementara, hujan belum reda, semakin deras mengguyur Jakarta. Perbincangan mengenai semeru pun usai, berganti dengan ‘tebak – tebakan’ berapa lama lagi hujan akan benar – benar reda.  






No comments:

Post a Comment