Hujan lebat mengguyur Jakarta,
Minggu, 12 - Januari – 2014. Berbagai wilayah ibukota terendam air. Begitu juga
di warung pojok yang terletak di sebelah Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut.
Genangan air mencapai setinggi mata kaki, dua pelanggan tergopoh mengejar
sandal mereka yang hanyut.
Siang itu, Reza tidak lagi
mengenakan kaos Mahameru. Namun, style pendaki gunung masih tampak
melalui gelang dan kalung dari tali carbiner yang melingkar di lengan dan
lehernya. Wiro masih penasaran dengan kaos mahameru Reza, belum pernah ke
Mahameru namun telah mengenakannya.
Fenomena kaos 'penanda perjalanan'
ini tidak hanya menjangkit Reza saja. Di luar sana, banyak orang yang
mengenakan berbagai kaos seperti I Love
London, Hongkong ataupun daerah dan negara lainnya untuk meraih predikat
‘pernah’. Wiro menyebut hal ini dengan penyakit sosial.
Reza akhirnya mau buka suara
mengenai asal – usul kaos maharemu kesenangannya. Kaos berwarna hitam itu ia
beli seharga Rp.50.000 di sebuah toko adventure yang terdapat di dekat kampus
swasta di bilalangan Cempaka Putih.
“Kenapa kau beli? Kan kau belum ke semeru?,” tanya Wiro
Reza tertawa kecil. Entah apa
yang dipikirkanya sehingga ia memberi jeda waktu beberapa menit untuk menjawab.
Penyuka musik scream emo ini menuang air ke dalam gelas lalu menenggaknya.
Menurutnya, konsep perjalanan yang dianutnya adalah membeli kaos daerah atau tempat yang
dituju terlebih dahulu sebelum berangkat.
“Biar semangat mau ke semeru
bang, jadi, beli kaosnya dulu. Kalau aku begitu bang, beli kaosnya dulu, baru
jalan,” ujar pemuda yang memiliki
panggilan masa kecil membot ini.
Wiro yang tengah asyik menyeruput
kopi hitam, tidak langsung serta merta percaya dengan alasan yang
dilontarkan Reza. Wiro menduga ada alasan lain di balik pembelian koas
tersebut. Ya, penyakit sosial untuk meraih predikat ‘pernah’.
“Untuk keren – kerenan juga, biar
dibilang udah pernah ke semeru,” kata Reza menjelaskan.
Raut muka Reza berubah. Ia tampak
seperti mambayangkan perjalanan ke semeru. Ujian Akhir Semester akan selesai
pada akhir bulan Januari ini. Namun, perencanaan pendakian bukan ke gunung
semeru, berganti ke gunung merbabu di Magelang Jawa Tengah.
“Februari kami ke Merbabu bang,”
ujar Reza tanpa ada yang bertanya.
“loh, kenapa ke Merbabu?
Kau kan belum punya kaosnya!,” Wiro bertanya seolah heran.
“kata kawanku orang Malang, Semeru tutup bang. Mungkin
karena aku bohongin orang – orang, make kaos mahameru itu, jadinya gagal ke
semeru. Besok – besok gak lagi lah,” ujarnya dengan suara yang semakin pelan
dan terkesan serius.
Wiro menghargai kesimpulan yang diambil Reza. meskipun tidak
menutup kemungkinan bahwa peristiwa tersebut hanya kebetulan sahaja, sama
sekali tidak berkaitan dengan ‘pembohongan publik’ yang dilakukannya. Sebab,
gunung semeru memiliki jadwal penutupan untuk kegiatan pendakian.
Sementara, hujan belum reda, semakin deras mengguyur
Jakarta. Perbincangan mengenai semeru pun usai, berganti dengan ‘tebak –
tebakan’ berapa lama lagi hujan akan benar – benar reda.

No comments:
Post a Comment